Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 7 Mei 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Spill
  • iran
  • BMKG
  • Sepak Bola
  • prabowo
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Psikolog Soroti 70 Anak Tergabung Grup True Crime Community
Kesehatan

Psikolog Soroti 70 Anak Tergabung Grup True Crime Community

Syifa FauziahIvan OWRITE
Last updated: Februari 2, 2026 1:45 pm
Syifa Fauziah
Ivan
Share
Ilustrasi
Ilustrasu (Foto: Freepik)
SHARE

Psikolog klinis dari Fakultas Psikologi Universitas YARSI, Ratih Arruum Listiyandini menyoroti terkait temuan polisi terkait 70 anak yang tergabung dalam grup True Crime Community (TCC).

Grup ini berisi konten kekerasan dan perencanaan merusak sekolah, melukai guru, dan teman kelas.

Ratih mengatakan tingginya anak-anak yang tergabung dalam grup tersebut perlu diketahui dahulu motifnya apa.

Ada banyak isu juga di kalangan remaja yang perlu kita perhatikan. Apakah mungkin kehadiran orangtua yang minim, pola pengasuhan, faktor lingkungan, tekanan sosial, pertemanan yang memengaruhi mereka,”

ujar Ratih dalam keterangannya di laman Universitas Yarsi, Senin 2 Februari 2026.

Ratih menambahkan isu kesehatan mental pada remaja memang butuh perhatian karena ini adalah tahap atau fase awal menuju dewasa.

Menurut Ratih intervensi anak-anak melakukan itu kembali lagi pada lingkungan sosial yang suportif atau penuh dukungan.

Jadi, kita perlu merangkul dulu dalam proses ini untuk melihat apa sih sebenarnya yang mereka cari. Kalau kita sudah tahu maka kita akan bisa lebih mencari akar masalahnya dan nantinya bisa memberikan intervensi yang lebih tepat,”

ucapnya.

Seperti diketahui, Densus 88 AT Polri mengungkap temuan serius terkait paparan konten kekerasan dan ideologi ekstrem di ruang digital yang menyasar anak-anak dan remaja.

Kepala Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Densus 88 AT Polri, Kombes Pol. Mayndra Eka Wardana, S.I.K., menjelaskan bahwa pihaknya menemukan keberadaan komunitas digital yang berkembang secara masif di media sosial dan berpotensi mendorong kekerasan ekstrem, khususnya pada anak-anak.

Kami membenarkan apa yang telah disampaikan Kepala BNPT, bahwa Densus 88 menemukan sebuah komunitas yang dibingkai dalam grup media sosial. Ini bukan satu-satunya, melainkan salah satu dari puluhan grup serupa yang telah kami identifikasi,”

ujar Kombes Mayndra seperti dikutip dari laman Humas Polri.

Ia menjelaskan, kelompok-kelompok tersebut mulai terdeteksi sejak tahun 2025 dan hingga kini masih terus dilakukan intervensi bersama kementerian dan lembaga terkait di berbagai daerah.

Konten yang disebarkan dikemas secara menarik, mulai dari video pendek, animasi, meme, hingga musik, yang berpotensi menumbuhkan ketertarikan dan simpati terhadap ideologi kekerasan.

Menurutnya, kondisi ini menjadi sangat berbahaya ketika bersinggungan dengan psikologis anak-anak yang masih berada pada fase pencarian jati diri.

Anak-anak belum memiliki kemampuan berpikir kritis yang matang dan cenderung mencari pengakuan. Paparan radikalisme dan kekerasan di media sosial dapat dengan cepat memengaruhi perilaku, emosi, dan pola pikir mereka,”

jelasnya.

Ia mengungkapkan, dari 70 anak yang tersebar di 19 provinsi, sebanyak 67 anak telah menjalani asesmen, pemetaan, konseling, dan pendampingan. Mayoritas berada pada rentang usia 11–18 tahun, dengan dominasi usia 15 tahun.

Faktor pemicu keterlibatan mereka beragam, mulai dari perundungan, kondisi keluarga tidak harmonis, trauma, minimnya perhatian orang tua, hingga paparan konten pornografi dan kekerasan.

Menutup keterangannya, Kombes Mayndra mengingatkan masyarakat, khususnya orang tua dan pihak sekolah, untuk lebih waspada terhadap perubahan perilaku anak.

Ciri-ciri yang perlu diwaspadai antara lain ketertarikan berlebihan pada simbol dan tokoh pelaku kekerasan, menarik diri dari pergaulan, menyukai konten sadistik, marah saat gawainya diperiksa, serta membawa benda yang identik dengan kekerasan ke sekolah,”

pungkasnya.

Tag:Kesehatan MentalKonten KekerasanpsikologRadikalismeTCCYARSI
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Ivan OWRITE
ByIvan
Redaktur
Follow:
Editor senior di OWRITE Media, meliput pemberitaan Politik dan Peristiwa.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Pramono Anung
Daerah

Pramono: Jumlah RW Kumuh di Jakarta Turun 52,58%

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyampaikan bahwa, jumlah Rukun Warga (RW) kategori kumuh di Jakarta mengalami penurunan hingga 52,58 persen. Hal ini disampaikannya langsung dalam konferensi pers bersama BPS di…

By
Ani Ratnasari
Syifa Fauziah
2 Min Read
Sefruit

Bukan Malas Kerja, Ini Alasan Banyak Gen Z yang Quite Quitting

Quiet quitting bukan soal malas kerja atau resign diam-diam. Gen Z yang melakukannya tetap profesional — mereka hanya berhenti memberikan tenaga ekstra di luar jobdesk tanpa apresiasi. Ini soal batas,…

By
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
4 Min Read
Ilustrasi chemistry
Cari Tahu

Chemistry Adalah? Simak Pengertian dan Tanda-tandanya 

Apakah kamu pernah berbicara dengan seseorang dan merasa nyambung, padahal kamu tidak mengeluarkan effort lebih? Bisa jadi itu yang disebut chemistry. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan koneksi alami antara…

By
Ani Ratnasari
Syifa Fauziah
3 Min Read

BERITA LAINNYA

Ilustrasi Virus
Kesehatan

Kronologi Wabah Misterius di Kapal Pesiar Hingga Tewaskan 3 Penumpang

Diduga, salah satu penumpang terinfeksi saat mengikuti wisata darat sebelum naik kapal,…

Hilwa UrwatulIvan OWRITE
By
Hilwa Urwatul Wutsqa
Ivan
1 hari lalu
Intoleransi laktosa
Kesehatan

Intoleransi Laktosa: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Cara Mengatasinya

Apakah kamu pernah merasa perut kembung, diare, atau mual setelah minum susu…

Ani RatnasariSyifa Fauziah
By
Ani Ratnasari
Syifa Fauziah
1 hari lalu
Ilustrasi Label Gizi Baru
Kesehatan

Label Gizi Baru Diluncurkan, Ahli Ingatkan Edukasi Saja Tak Cukup

Kementerian Kesehatan RI resmi menerbitkan kebijakan label gizi Nutri Level untuk pangan…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan
1 hari lalu
Ilustrasi Virus
Kesehatan

Apa Itu Hantavirus? Wabah yang Serang Kapal Pesiar dan Tewaskan 3 Orang

Wabah hantavirus diduga menjadi penyebab kematian tiga orang setelah virus tersebut meyebar…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan
2 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up