Lebaran identik dengan hidangan berlemak, bersantan, dan tinggi gula. Pola makan yang berubah drastis selama hari raya, ditambah kebiasaan makan berlebihan, membuat tubuh perlu beradaptasi kembali ke ritme normal.
Kondisi ini sering kali memicu keluhan seperti gangguan pencernaan, naiknya kadar kolesterol, hingga lonjakan gula darah.
Data terbaru dari Halodoc menunjukkan jumlah pemeriksaan metabolik meningkat hingga 95 persen tepat satu minggu setelah masa libur panjang berakhir.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Waluyo Dwi Cahyono, mengatakan masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat adalah kolesterol dan gula darah yang signifikan pasca Lebaran.
Hal ini dipengaruhi oleh perubahan pola makan selama Lebaran.
Setelah Lebaran, asupan makanan tinggi lemak, santan, gula, dan karbohidrat biasanya meningkat. Jika tidak dikontrol, kadar gula darah dan kolesterol bisa ikut naik,”
ujar dr Waluyo dalam Halodoc Talks bertajuk Transitioning Safely: Managing Ramadan Health Risks During Eid Festivities baru-baru ini.
Dokter Waluyo menjelaskan, lonjakan asupan kalori dalam waktu singkat dapat berdampak signifikan, terutama pada seseorang dengan faktor risiko seperti diabetes, obesitas, atau riwayat kolesterol tinggi.
Tubuh yang sebelumnya beradaptasi dengan pola puasa dapat mengalami perubahan metabolik saat tiba-tiba menerima asupan berlebih.
Dr. Waluyo juga mengungkapkan, semua makanan pada dasarnya boleh dikonsumsi, namun harus terukur.
Ia mengingatkan konsep pembagian lambung menjadi tiga bagian, yakni sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk cairan, dan sepertiga untuk udara agar pencernaan tetap optimal.
Kuncinya bukan melarang, tapi mengatur porsi. Jangan sampai semua diisi makanan. Itu yang sering memicu keluhan setelah Lebaran,”
tambahnya.
Selain kolesterol dan lonjakan gula darah, gangguan pencernaan seperti sembelit dan diare juga jadi masalah yang banyak dialami masyarakat. Hal itu karena kurangnya asupan serat.
Tentunya memperbanyak konsumsi sayur dan buah serta menjaga kecukupan cairan,”
tambahnya.
