Epidemiolog sekaligus Peneliti Global Health Security dari Griffith University, dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH., Ph.D., mengatakan potensi penyebaran Ebola di Indonesia sangat rendah.
Ia meminta masyarakat untuk tidak panik, namun tetap menerapkan perilaku hidup sehat.
Saat ini risikonya rendah sampai menengah, tetapi nyata ada potensinya walaupun tidak tinggi,”
ujar dr. Dicky dalam keterangannya yang disampaikan kepada Owrite.
Dokter Dicky menambahkan bahwa Ebola berbeda dengan Covid-19. Penyakit ini tidak menular melalui udara bebas seperti SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.
Menurutnya, Ebola membutuhkan kontak erat dengan cairan tubuh dan transmisinya juga relatif lebih lambat.
Jadi ini yang menjadi karakter dari virus Ebola, tapi ada beberapa faktor yang meningkatkan risikonya,”
katanya.
Lebih lanjut, dr. Dicky mengatakan faktor risiko penyebaran virus Ebola adalah tingginya mobilitas internasional, meningkatnya urbanisasi di Afrika, serta konflik bersenjata yang menghambat isolasi dan pengendalian penyakit.
Selain itu, sudah ada kasus lintas negara dan khusus untuk strain seperti Bundibugyo belum tersedia vaksin berlisensi.
Nah, risiko masuk ke Indonesia itu terutama lewat penerbangan internasional yang transit atau pekerja migran, pelaut, pelaku perjalanan bisnis, ataupun kasus impor yang tidak terdeteksi,”
katanya.
Pemantauan Virus Ebola di Indonesia
Meski penyebaran Ebola di Indonesia masih sangat rendah, dr. Dicky meminta pemerintah Indonesia tetap melakukan pemantauan.
Namun, menurutnya, tidak perlu melakukan penutupan total perbatasan.
Tapi segera, sekali lagi, standar screening pintu masuk kita itu memang harus dijaga kualitas dan pengelolaannya,”
ucapnya.
Dokter Dicky menilai pemantauan di pintu masuk internasional seperti bandara, pelabuhan laut, jalur migrasi pekerja, jemaah haji dan umrah, serta pelaku perjalanan internasional dari Afrika harus diperketat.
Selain itu, perlu dipastikan adanya screening berbasis risiko yang fokus pada riwayat perjalanan 21 hari terakhir dengan gejala demam akut, perdarahan, atau kontak dengan pasien Ebola.
Penguatan di dalam negeri juga harus dipastikan, mulai dari kesiapan laboratorium BSL-3 dan BSL-4, kemampuan PCR filovirus dengan diagnostik cepat, hingga sistem transport spesimen biohazard. Selain itu, kesiapan rumah sakit rujukan juga perlu disertai simulasi outbreak, audit infection prevention and control, kesiapan APD, ruang isolasi tekanan negatif, serta penyegaran pelatihan tenaga kesehatan. Karena banyak pelajaran di masa pandemi, negara gagal bukan karena virusnya terlalu kuat, tetapi karena sistem kesehatan terlambat bereaksi,”
paparnya.
Sejarah Virus Ebola
Ebola pertama kali dikenali pada 1976, tidak lama setelah penemuan Hantavirus. Virus ini pertama kali ditemukan di Zaire (kini Republik Demokratik Kongo) dan Sudan.
Nama Ebola sendiri berasal dari Sungai Ebola di Kongo. Reservoir alami paling kuat dari virus ini adalah kelelawar buah (fruit bats).
Ebola memiliki beberapa spesies, dan yang paling mematikan adalah Zaire Ebola. Sementara virus yang saat ini ramai dibahas adalah Bundibugyo, yang relatif jarang tetapi sangat berbahaya.
Dalam konteks epidemiologi, case fatality rate Ebola sangat tinggi, rata-rata mencapai 25 hingga 90 persen. Artinya, dari 10 orang yang sakit, sebagian besar berisiko meninggal dunia.
Dalam 10 tahun terakhir, outbreak Ebola makin sering muncul, terutama di Uganda, Guinea, dan Kongo.
Jika dulu dominan terjadi di desa-desa di Afrika, kini penyebarannya sudah masuk ke kota, pusat transportasi, hingga area pertambangan.
Nah, yang memperburuk itu adalah perang dan konflik bersenjata, distrust masyarakat, bahkan serangan terhadap tenaga kesehatan yang menghambat pencegahan dan penanganan. Walaupun vaksin untuk strain Zaire saat ini sudah berkembang baik, Bundibugyo dan Sudan masih sangat terbatas,”
tandasnya.


