Sering cek gula darah dan hasilnya normal-normal aja, tetapi tubuh mulai menunjukkan sejumlah perubahan yang terasa tidak biasa?
Jangan anggap sepele, faktanya sebelum berkembang menjadi diabetes tipe 2, tubuh bisanya sudah menunjukkan tanda-tanda resistensi insulin yakni kondisi ketika sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik.
Pada tahap awal, pankreas dapat memproduksi lebih banyak insulin untuk menjaga kadar gula darah tetap normal.
Seiring waktu, jika tubuh tidak lagi mampu mengimbanginya, kadar gula darah dapat meningkat hingga masuk ke fase prediabetes dan kemudian diabetes tipe 2.
Masalahnya, resistensi insulin dan prediabetes umumnya tidak memiliki gejala yang jelas. Namun, ada sejumlah perubahan tubuh yang kerap dikaitkan dengan kondisi tersebut.
Lantas apa saja gejalanya? Berikut enam tanda yang perlu diketahui.
1. Sering ngantuk setelah makan
Baru selesai makan tapi mata sudah terasa lengket?
Rasa kantuk setelah makan sebenarnya bisa disebabkan berbagai faktor. Namun, jika terjadi berulang, terutama setelah mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat, kondisi perlu waspada dengan hal ini.
Meski begitu, ngantuk setelah makan bukan tanda pasti kalau kamu memang tengah mengalami resistensi insulin. Jadi, jangan langsung menyimpulkan tubuh sedang menuju diabetes hanya berdasarkan kondisi ini.
2. Leher mulai menghitam
Jangan langsung mengira bagian leher yang menghitam karena daki yang menumpuk.
Bisa jadi tubuh memang sedang mengeluarkan tanda yang dikenali sebagi acanthosis nigricans, yakni perubahan kulit yang membuat area tertentu tampak lebih gelap, menebal, dan bertekstur seperti beludru.
Kondisi ini sering muncul di area lipatan seperti leher, ketiak, dan selangkangan. Menurut laman CDC, acanthosis nigricans merupakan salah satu tanda yang dapat berkaitan dengan resistensi insulin, prediabetes, maupun diabetes tipe 2.
3. Lemak menumpuk di area perut
Berat badan gampang naik, terutama di bagian perut, dan kamu gampang gemuk tetapi berat badan sulit turun?
Ukuran lingkar pinggang yang besar dan kelebihan berat badan termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin dan prediabetes.
Namun, bentuk tubuh saja tidak cukup untuk menentukan seseorang mengalami resistensi insulin. Kamu tetap perlu pemeriksaan medis tetap untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
4. Muncul banyak Skin tag
Tiba-tiba menemukan banyak benjolan kecil seperti daging tumbuh di leher atau area lipatan tubuh?
Bisa jadi itu skin tag, yaitu pertumbuhan kecil pada kulit yang umumnya tidak berbahaya.
Merujuk dari laman NIDDK, banyak pertumbuhan kulit kecil atau skin tag dapat muncul di area yang sama dengan acanthosis nigricans pada sebagian orang dengan prediabetes.
Meski begitu, skin tag juga bisa muncul karena berbagai faktor lain sehingga tidak dapat dijadikan alat diagnosis diabetes.
5. Sering Craving Makanan Manis
Sudah makan, tetapi beberapa saat kemudian malah ingin ngemil makanan manis?
Keinginan terhadap makanan manis atau sugar craving memang sering disebut sebagai salah satu sinyal gangguan metabolisme. Namun, kondisi ini bukan tanda spesifik diabetes.
Pola makan, kebiasaan ngemil, stres, kurang tidur, hingga komposisi makanan yang dikonsumsi juga dapat mempengaruhi keinginan makan.
6. Sering mengalami brain fog
Pernah merasa otak mendadak “lemot”, sulit fokus, atau susah berkonsentrasi?
Kondisi yang seperti ini sering disebut dengan brain fog, dan kadang memang bukan tanda khusus resistensi insulin atau diabetes.
Ini terjadi karena tubuh kurang tidur, stres, kelelahan, pola makan, maupun berbagai kondisi kesehatan lain dapat menyebabkan seseorang sulit berkonsentrasi.
Karena itu, brain fog sebaiknya tidak digunakan untuk mendiagnosis seseorang sedang menuju diabetes.
Hal penting yang perlu diketahui adalah resistensi insulin dan prediabetes bisa berlangsung tanpa gejala. Seseorang bahkan dapat mengalami prediabetes selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya.
Karena itu, jika memiliki faktor risiko seperti berat badan berlebih, lingkar pinggang besar, kurang aktivitas fisik, atau riwayat keluarga diabetes, pemeriksaan gula darah dapat membantu mengetahui kondisi tubuh.
Pemeriksaan HbA1c, gula darah puasa, atau tes toleransi glukosa oral (OGTT) dapat digunakan tenaga kesehatan untuk mendeteksi prediabetes.
Kabar baiknya, perubahan gaya hidup seperti lebih aktif bergerak, menjaga berat badan, dan menerapkan pola makan sehat dapat membantu menurunkan risiko berkembangnya diabetes tipe 2.
Jadi, enam tanda di atas bukan berarti seseorang pasti sedang “OTW diabetes”. Namun, perubahan tubuh yang menetap bisa menjadi alasan untuk mulai lebih memperhatikan kesehatan metabolik dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.






