Anggapan bahwa anak yang terlalu sering tidur di lantai dingin atau terkena hembusan kipas angin bisa mengalami paru-paru basah masih banyak dipercaya masyarakat. Padahal, suhu dingin dari lantai maupun kipas angin bukan penyebab cairan menumpuk di dalam paru-paru.

Dokter Spesialis Anak, dr. Abdurrahman Hasanuddin, Sp.A, menjelaskan istilah paru-paru basah yang umum digunakan masyarakat biasanya merujuk pada pneumonia.

Pneumonia murni karena infeksi kuman. Bisa bakteri seperti pneumokokus, virus, atau jamur, bukan karena rembesan air dingin,”

kata dr Abdurrahman dikutip dari Threads @dr.maman.sp.a, Senin, 28 September 2026.

Menurutnya, penyakit itu terjadi saat kantung udara atau alveoli di paru-paru mengalami peradangan dan dapat terisi cairan radang atau nanah akibat infeksi.

Dijelaskan dia, tidur di lantai yang dingin atau terkena hembusan kipas angin tidak membuat paru-paru menghasilkan atau menampung air. Pneumonia pada anak, termasuk balita, dapat terjadi ketika mereka terpapar dan tertular kuman penyebab infeksi.

Penularan tersebut, misalnya, dapat terjadi melalui percikan dari saluran pernapasan orang yang sedang sakit.

Maka itu, faktor utama yang perlu diperhatikan adalah paparan terhadap kuman penyebab infeksi. Bukan suhu dingin dari lantai atau kipas angin.

Kipas Angin Perlu Dibersihkan

Meski tak menyebabkan pneumonia, penggunaan kipas angin tetap perlu diperhatikan. Kipas yang kotor bisa meniupkan debu atau tungau ke saluran pernapasan anak sehingga memicu reaksi alergi seperti bersin-bersin, atau perburuk kondisi anak yang memiliki asma.

Abdurrahman mengatakan anak tetap boleh tidur menggunakan kipas angin maupun AC. Namun, kebersihan kipas dan filter AC perlu dijaga.

Selain itu, arah hembusan kipas sebaiknya tidak langsung mengarah ke wajah atau dada anak.

Kalau si kecil lebih suka rebahan di lantai saat cuaca panas, cukup berikan alas tikar atau karpet tipis agar tetap nyaman,”

katanya.

Waspadai Bahaya Pneumonia

Di sisi lain, orang tua tetap perlu mengenali gejala yang dapat menjadi tanda bahaya pneumonia pada anak. Batuk yang tak kunjung membaik disertai demam tinggi dan napas yang terlihat sangat cepat, perlu mendapatkan evaluasi medis.

Salah satu tanda yang juga harus diperhatikan adalah ketika dinding dada anak tampak tertarik atau cekung ke dalam saat bernapas. Kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya gangguan pernapasan dan membutuhkan pemeriksaan segera.

Jika batuk si kecil tak kunjung reda, disertai demam tinggi, dan napasnya terlihat sangat cepat hingga dinding dadanya tampak cekung ke dalam, segera lakukan evaluasi klinis ke rumah sakit,”

ujarnya.