Gangguan penglihatan bukan sekadar persoalan kesehatan mata. Namun, gangguan itu juga dapat membatasi aktivitas sehari-hari dan mengurangi kemandirian seseorang.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyebut seperlima kasus penyakit penyebab disabilitas di Indonesia berkaitan dengan gangguan penglihatan.
Dante mengatakan dampak gangguan penglihatan kerap tak terlihat sebesar penyakit yang mengancam nyawa secara langsung. Padahal, kondisi seperti katarak bisa memengaruhi kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari, bekerja, hingga mempertahankan kualitas hidup.
Iklan
Gangguan penglihatan termasuk katarak memang tidak memicu kematian secara langsung, tetapi sangat menentukan kualitas hidup seseorang,”
kata Dante, dalam keterangan resmi yang diterima Owrite, Selasa, 27 Oktober 2026.
Persoalan ini dinilai semakin penting di tengah perubahan struktur demografi Indonesia yang memasuki fase penuaan penduduk atau aging population. Seiring bertambahnya usia, menjaga kesehatan mata jadi salah satu faktor penting agar masyarakat tetap produktif dan mandiri.
Untuk menjawab tantangan itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong percepatan Peta Jalan Kesehatan Penglihatan Nasional. Salah satu fokusnya memperluas deteksi dini gangguan penglihatan melalui fasilitas pelayanan kesehatan primer, sehingga masalah mata dapat diketahui sebelum kondisinya semakin parah.
Pemerintah menargetkan sedikitnya satu juta individu yang berisiko mengalami gangguan penglihatan menjalani pemeriksaan dini. Di sisi lain, cakupan operasi ditargetkan mencapai 80 persen penderita katarak dengan tingkat keparahan sedang hingga berat.
Seorang aparatur sipil negara (ASN) mengikuti pemeriksaan kesehatan mata menggunakan alat autorefraktor dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day di Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/tom.)
Namun, perluasan penanganan tak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah pemeriksaan. Pemerintah juga perlu mengatasi antrean operasi katarak serta memastikan ketersediaan dokter spesialis mata lebih merata, termasuk di wilayah terpencil.
Pemerintah bersama Perdami berkomitmen mengurai antrean operasi katarak dan mengakselerasi pemerataan dokter spesialis mata hingga wilayah terpencil,”
katanya.
Selain memperluas akses operasi, Kemenkes mendorong penguatan kemampuan deteksi gangguan mata di layanan kesehatan tingkat pertama. Salah satu upayanya dengan meningkatkan pemeriksaan funduskopi atau oftalmoskopi yaitu metode untuk melihat bagian dalam mata, termasuk retina dan pembuluh darah.
Pemeriksaan ini bisa membantu mengidentifikasi sejumlah kelainan mata termasuk retinopati diabetik. Penyakit itu merupakan kerusakan pembuluh darah retina akibat komplikasi diabetes yang berisiko mengganggu penglihatan jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Menurut Dante, keterlibatan dokter umum dalam pemeriksaan funduskopi dapat memperbesar peluang ditemukannya gangguan mata pada tahap awal.
Kalau semua dokter umum melakukan pemeriksaan funduskopi, kelainan mata akan makin banyak terlihat,”
jelas Dante.
Deteksi dini juga jadi perhatian khusus bagi pasien diabetes. Pemeriksaan retina diperlukan untuk mengetahui kemungkinan komplikasi yang dapat mengancam penglihatan, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Dante menilai pemeriksaan funduskopi oleh dokter yang menangani pasien diabetes juga berpotensi meningkatkan penemuan kasus retinopati diabetik sebelum gangguan penglihatan berkembang lebih jauh.
Begitu pula jika semua dokter endokrin seperti saya melakukan funduskopi, retinopati diabetik (kerusakan pembuluh darah retina akibat komplikasi diabetes) akan makin banyak terdeteksi secara dini,”