Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Bukan Cuma Penyedap Masakan, Daun Salam Ternyata Punya 4 Potensi Manfaat bagi Kesehatan

Daun salam bukan hanya penyedap masakan, tetapi juga memiliki kandungan senyawa alami yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh.

Bukan Cuma Bikin Masakan Harum, Daun Salam Punya Potensi Kesehatan yang Jarang Diketahui
Daun salam (Foto: Unsplash/Monika Grabkowska)

Daun salam selama ini lebih dikenal sebagai bumbu dapur yang memberikan aroma khas pada masakan seperti sayur lodeh, semur, hingga rendang. Namun, tanaman yang punya nama ilmiah Syzygium polyanthum ini ternyata menyimpan berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi beri manfaat bagi kesehatan.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa daun salam mengandung flavonoid, fenolik, tanin, saponin, dan minyak atsiri.

Kandungan itu membuat daun salam tak hanya menarik untuk diteliti sebagai bahan pangan. Namun, juga sebagai tanaman herbal yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, hingga antiperadangan.

Iklan

Melawan Radikal Bebas

Kandungan senyawa fenolik dan flavonoid di dalamnya diketahui memiliki kemampuan menangkal radikal bebas melalui mekanisme pengujian laboratorium.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Food and Pharmaceutical Sciences tahun 2026 yang dikutip pada Sabtu, 7 November 2026, menguji kandungan fenolik, flavonoid, serta aktivitas penangkal radikal bebas dari ekstrak daun salam.

Hasilnya menunjukkan bahwa fraksi etil asetat daun salam memiliki kandungan fenolik sebesar 198,20 mg GAE/g dan flavonoid sebesar 62,06 mg QE/g. Pengujian DPPH juga menunjukkan aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 41,71 µg/mL.

Temuan ini memperlihatkan bahwa daun salam berpotensi menjadi sumber senyawa antioksidan alami.

Menghambat Pertumbuhan Bakteri

Selain antioksidan, daun salam juga memiliki potensi sebagai antibakteri. Sejumlah senyawa metabolit sekunder di dalamnya diketahui dapat berkontribusi terhadap aktivitas penghambatan bakteri.

Dalam jurnal BioMed Research International, 2017, menguji ekstrak etanol daun salam terhadap sejumlah bakteri penyebab penyakit bawaan makanan.

Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak daun salam mampu menghambat pertumbuhan beberapa bakteri, termasuk Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Salmonella typhimurium. Peneliti juga menemukan adanya kerusakan pada struktur sel bakteri setelah diberikan perlakuan ekstrak.

Penelitian tersebut bahkan menguji potensi ekstrak daun salam sebagai bahan sanitasi alami untuk mencuci bahan pangan.

Menurunkan Kolesterol

Manfaat lain yang juga mulai diteliti adalah potensi daun salam dalam membantu mengontrol kadar kolesterol. Penelitian dalam Journal of Medical Laboratory Research tahun 2025, mengamati pengaruh pemberian air rebusan daun salam terhadap penderita hiperkolesterolemia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar kolesterol responden mengalami penurunan dari 240 mg/dL menjadi 233 mg/dL setelah pemberian air rebusan daun salam.

Penurunan sebesar 7 mg/dL tersebut menunjukkan adanya potensi yang menarik untuk dikaji. Namun, karena penelitian menggunakan desain satu kelompok tanpa pembanding, hasilnya belum dapat dijadikan bukti bahwa air rebusan daun salam efektif mengatasi kolesterol tinggi.

Meredakan Peradangan

Daun salam juga memiliki potensi aktivitas antiinflamasi atau antiperadangan. Potensi ini berkaitan dengan keberadaan senyawa flavonoid dan fenolik yang banyak ditemukan dalam ekstraknya.

Sebuah tinjauan ilmiah PharmaCine: Journal of Pharmacy, Medical and Health Science membahas berbagai penelitian mengenai aktivitas farmakologis daun salam.

Hasil kajian tersebut mengidentifikasi sejumlah potensi daun salam, termasuk aktivitas antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, antihipertensi, dan antihiperurisemia.

Cara Mengonsumsi

Daun salam dapat dikonsumsi dengan beberapa cara, salah satunya dengan memasukkannya ke dalam masakan seperti sup, sayur bening, semur, atau tumisan. Cara ini menjadi pilihan sederhana untuk memanfaatkan daun salam sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.

Selain itu, daun salam juga kerap diolah menjadi air rebusan. Caranya, cuci bersih beberapa lembar daun salam, kemudian rebus dalam air hingga mendidih. Setelah itu, saring dan biarkan hingga suhunya cukup hangat sebelum diminum.

Namun, perlu diketahui bahwa jumlah senyawa aktif yang larut dalam air dapat berbeda-beda, tergantung jumlah daun, suhu, dan lama perebusan.

Jadi, cara terbaik saat ini adalah menjadikan daun salam sebagai pelengkap makanan, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.

Iklan