Melawan Radikal Bebas
Kandungan senyawa fenolik dan flavonoid di dalamnya diketahui memiliki kemampuan menangkal radikal bebas melalui mekanisme pengujian laboratorium.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Food and Pharmaceutical Sciences tahun 2026 yang dikutip pada Sabtu, 7 November 2026, menguji kandungan fenolik, flavonoid, serta aktivitas penangkal radikal bebas dari ekstrak daun salam.
Hasilnya menunjukkan bahwa fraksi etil asetat daun salam memiliki kandungan fenolik sebesar 198,20 mg GAE/g dan flavonoid sebesar 62,06 mg QE/g. Pengujian DPPH juga menunjukkan aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 41,71 µg/mL.
Temuan ini memperlihatkan bahwa daun salam berpotensi menjadi sumber senyawa antioksidan alami.
Menghambat Pertumbuhan Bakteri
Selain antioksidan, daun salam juga memiliki potensi sebagai antibakteri. Sejumlah senyawa metabolit sekunder di dalamnya diketahui dapat berkontribusi terhadap aktivitas penghambatan bakteri.
Dalam jurnal BioMed Research International, 2017, menguji ekstrak etanol daun salam terhadap sejumlah bakteri penyebab penyakit bawaan makanan.
Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak daun salam mampu menghambat pertumbuhan beberapa bakteri, termasuk Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Salmonella typhimurium. Peneliti juga menemukan adanya kerusakan pada struktur sel bakteri setelah diberikan perlakuan ekstrak.
Penelitian tersebut bahkan menguji potensi ekstrak daun salam sebagai bahan sanitasi alami untuk mencuci bahan pangan.
Manfaat lain yang juga mulai diteliti adalah potensi daun salam dalam membantu mengontrol kadar kolesterol. Penelitian dalam Journal of Medical Laboratory Research tahun 2025, mengamati pengaruh pemberian air rebusan daun salam terhadap penderita hiperkolesterolemia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar kolesterol responden mengalami penurunan dari 240 mg/dL menjadi 233 mg/dL setelah pemberian air rebusan daun salam.
Penurunan sebesar 7 mg/dL tersebut menunjukkan adanya potensi yang menarik untuk dikaji. Namun, karena penelitian menggunakan desain satu kelompok tanpa pembanding, hasilnya belum dapat dijadikan bukti bahwa air rebusan daun salam efektif mengatasi kolesterol tinggi.
Meredakan Peradangan
Daun salam juga memiliki potensi aktivitas antiinflamasi atau antiperadangan. Potensi ini berkaitan dengan keberadaan senyawa flavonoid dan fenolik yang banyak ditemukan dalam ekstraknya.
Sebuah tinjauan ilmiah PharmaCine: Journal of Pharmacy, Medical and Health Science membahas berbagai penelitian mengenai aktivitas farmakologis daun salam.
Hasil kajian tersebut mengidentifikasi sejumlah potensi daun salam, termasuk aktivitas antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, antihipertensi, dan antihiperurisemia.
Cara Mengonsumsi
Daun salam dapat dikonsumsi dengan beberapa cara, salah satunya dengan memasukkannya ke dalam masakan seperti sup, sayur bening, semur, atau tumisan. Cara ini menjadi pilihan sederhana untuk memanfaatkan daun salam sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.
Selain itu, daun salam juga kerap diolah menjadi air rebusan. Caranya, cuci bersih beberapa lembar daun salam, kemudian rebus dalam air hingga mendidih. Setelah itu, saring dan biarkan hingga suhunya cukup hangat sebelum diminum.
Namun, perlu diketahui bahwa jumlah senyawa aktif yang larut dalam air dapat berbeda-beda, tergantung jumlah daun, suhu, dan lama perebusan.
Jadi, cara terbaik saat ini adalah menjadikan daun salam sebagai pelengkap makanan, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.