Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Waspada! Hepatitis B Bisa Menular Tanpa Gejala, Begini Cara Mengenalinya

Hepatitis B dapat menular melalui darah dan cairan tubuh, sering tanpa gejala, tetapi bisa dicegah melalui vaksinasi dan pemeriksaan dini.

Hepatitis B Bisa Menular Tanpa Disadari, Kenali Cara Penularan dan Gejalanya
Ilustrasi sakit (Foto: Unsplash/Alexander Grey)

Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyerang organ hati dan dapat berkembang tanpa menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Kondisi ini membuat banyak orang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi dan berpotensi menularkan virus kepada orang lain.

Penyakit ini disebabkan oleh Hepatitis B Virus (HBV) yang dapat menular melalui darah dan cairan tubuh tertentu.

Jika tak ditangani dengan tepat, infeksi hepatitis B dapat berkembang menjadi penyakit kronis, sirosis hati, hingga kanker hati.

Iklan

Menular Melalui Apa?

Virus hepatitis B dapat menyebar ketika darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh orang lain. Beberapa jalur penularan yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Hubungan seksual tanpa pengaman. Virus dapat menular melalui kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi.
  • Penggunaan jarum suntik bersama. Berbagi jarum suntik, termasuk untuk penggunaan narkoba suntik, meningkatkan risiko penularan.
  • Peralatan pribadi yang terkontaminasi darah. Berbagi pisau cukur, sikat gigi, atau alat yang berpotensi terkena darah dapat menjadi jalur penularan.
  • Prosedur dengan alat tidak steril. Tindakan seperti tindik, tato, atau prosedur medis menggunakan peralatan yang tidak steril berisiko menyebarkan virus.
  • Ibu kepada bayi. Penularan dapat terjadi dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya, terutama ketika proses persalinan berlangsung.

Hepatitis B tak menular melalui aktivitas sehari-hari seperti berpelukan, berjabat tangan, berbagi makanan, menggunakan toilet bersama, atau batuk dan bersin.

Tidak Menunjukkan Gejala

Salah satu hal yang membuat hepatitis B berbahaya adalah infeksinya dapat berlangsung tanpa keluhan yang jelas. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar satu dari dua orang yang terinfeksi hepatitis B tidak mengetahui bahwa dirinya membawa virus tersebut.

Bahkan, penderita hepatitis B kronis dapat tak mengalami gejala selama bertahun-tahun meskipun virus masih berada di dalam tubuh dan berpotensi menyebabkan kerusakan hati.

Tanda yang Diperhatikan

Adapun jika gejala muncul, beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Kulit dan mata menguning. Kondisi ini disebut penyakit kuning atau jaundice akibat penumpukan bilirubin.
  • Urine berwarna gelap. Air seni dapat berubah menjadi lebih pekat seperti warna teh.
  • Mudah lelah. Tubuh terasa lemas meskipun tidak melakukan aktivitas berat.
  • Mual dan muntah. Gangguan pencernaan dapat muncul bersamaan dengan penurunan nafsu makan.
  • Nyeri perut. Rasa tidak nyaman atau sakit dapat muncul, terutama di bagian kanan atas perut.
  • Demam dan nyeri sendi. Sebagian penderita juga mengalami gejala menyerupai infeksi virus lainnya.
  • Tinja berwarna pucat. Warna kotoran dapat berubah menjadi lebih terang dari biasanya.

Gejala tersebut tidak selalu muncul bersamaan. Oleh karena itu, seseorang tetap perlu melakukan pemeriksaan meskipun merasa sehat apabila memiliki faktor risiko penularan.

Bisa Menjadi Kronis

Hepatitis B dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan lamanya infeksi, yaitu akut dan kronis.

Hepatitis B akut merupakan infeksi yang berlangsung dalam waktu relatif singkat. Pada sebagian besar orang dewasa dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, infeksi dapat sembuh dengan sendirinya.

Sementara itu, hepatitis B kronis terjadi ketika virus tetap berada di dalam tubuh selama lebih dari enam bulan. Kondisi ini perlu mendapatkan pemantauan medis karena dapat menyebabkan peradangan hati berkepanjangan.

World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa risiko infeksi berkembang menjadi kronis sangat dipengaruhi usia saat seseorang pertama kali terinfeksi. Sekitar 95 persen bayi yang terinfeksi saat lahir dapat mengalami infeksi kronis, sedangkan pada orang dewasa angkanya kurang dari 5 persen.

Jika tidak ditangani, hepatitis B kronis dapat berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.

Hepatitis B di Indonesia

Hepatitis B masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI yang disampaikan pada Juli 2024, prevalensi hepatitis B di Indonesia mengalami penurunan dari 7,1 persen pada 2013 menjadi 2,4 persen pada 2023 berdasarkan Riskesdas.

Meskipun menunjukkan penurunan, angka tersebut memperlihatkan bahwa hepatitis B masih menjadi masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian.

Salah satu fokus pencegahannya adalah memutus penularan dari ibu kepada bayi. Hal ini penting karena bayi yang terinfeksi saat persalinan memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami hepatitis B kronis dibandingkan orang dewasa.

Kementerian Kesehatan juga mendorong pemeriksaan hepatitis B pada ibu hamil agar infeksi dapat diketahui lebih awal dan langkah pencegahan bisa segera dilakukan.

Lakukan Vaksin

WHO merekomendasikan pemberian vaksin hepatitis B pertama kepada bayi sesegera mungkin setelah lahir, idealnya dalam 24 jam pertama, kemudian dilanjutkan dengan dosis berikutnya sesuai jadwal imunisasi.

Hepatitis B merupakan infeksi virus yang menyerang hati dan dapat menular melalui darah serta cairan tubuh tertentu.

Karena sering tidak menunjukkan gejala, pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi menjadi langkah penting untuk mendeteksi sekaligus mencegah penularannya.

Iklan