Proses evakuasi korban tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur membutuhkan penanganan ekstra.
Benturan keras menyebabkan lokomotif KA Argo Bromo relasi Gambir-Pasar Turi itu menembus dan menyatu dengan salah satu gerbong Commuter Line, sehingga menyulitkan evakuasi korban.
Sehingga kami harus melakukan penanganan khusus dengan melibatkan personel-personel yang memang memiliki kemampuan khusus, untuk melakukan ekstrikasi secara teliti dan juga terukur,”
kata Kepala Basarnas Mohammad Syafii di lokasi kejadian, Selasa, 28 April 2026.
Fokus utama tim penolong saat ini ialah menyelamatkan tiga korban yang masih hidup dan terjepit di dalam gerbong. Operasi penyelamatan dimulai sejak 30 menit usai tabrakan dan berlangsung tanpa henti.
Untuk korban saat ini masih hidup, masih bisa berkomunikasi dengan baik. (Tim) media selalu mendampingi untuk memberikan tindakan-tindakan setiap ada perubahan dan ekstrikasi oleh tim SAR, khususnya dari Basarnas Special Group, tetap kami laksanakan semaksimal mungkin,”
ucap Syafii.

Tarik Kereta
Tim penyelamat telah berhasil menarik rangkaian gerbong KA Argo Bromo Anggrek, namun lokomotif yang menabrak masih berada di dalam gerbong Commuter Line. Hal ini demi keselamatan para korban yang masih terimpit.
Saat ini belum kami tarik (lokomotif) karena kami memprioritaskan 3 korban. Setelah itu kami akan tarik, (bila) seluruh korban sudah bisa dievakuasi,”
kata Syafii.
Kecelakaan ini bermula ketika rangkaian Commuter Line yang berhenti di lintasan, ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek, pukul 20.55 WIB, Senin, 27 April. Hingga kini petugas masih terus mengevakuasi dan investigasi lebih lanjut bakal dijalankan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).


