Wacana pengenalan bahasa asing bagi siswa kelas 1 sekolah dasar (SD) mendapat respons positif dari orang tua murid. Meski dinilai bermanfaat, penerapannya diminta tetap disesuaikan dengan usia dan kemampuan masing-masing siswa.
Saya sepakat kalau anak lebih cepat nangkap pelajaran kalau diajarkan sejak dini,”
kata Orang tua murid, Deasy Amalia kepada Owrite, Rabu, 19 Agustus 2026.
Deasy mengatakan dirinya sepakat apabila bahasa asing mulai dikenalkan sejak anak duduk di bangku kelas 1 SD. Menurutnya, anak cenderung lebih mudah menangkap pelajaran apabila dikenalkan sejak usia dini.
Namun, Deasy mengingatkan bahwa kemampuan setiap anak berbeda. Ia melihat masih ada anak yang harus beradaptasi dengan pelajaran bahasa Inggris yang saat ini sudah mereka dapatkan di sekolah.
Yang jadi masalah, enggak semua anak sudah menguasai pelajaran bahasa Inggris yang notabenenya sudah jadi pelajaran wajib anak SD,”
ujarnya.
Deasy mencontohkan pengalaman anaknya yang saat ini sudah mendapatkan dua pelajaran bahasa asing di sekolah, yakni bahasa Inggris dan bahasa Arab.
Di sekolah anak saya, anak mendapat dua pelajaran bahasa asing, bahasa Inggris dan bahasa Arab. Itu saja pendekatannya harus pakai lagu biar mudah diingat,”
tuturnya.
Karena itu, Deasy menilai penambahan bahasa asing lainnya perlu dipertimbangkan secara matang. Ia khawatir anak justru kesulitan mengikuti pelajaran apabila harus mempelajari terlalu banyak bahasa sekaligus.
Kalau ditambah bahasa asing lain, misalnya Prancis dan lain-lain, feeling-ku anak bakal sangat keteteran,”
ucapnya.
Menurut Deasy, anak kelas 1 SD sebenarnya sudah cukup siap untuk dikenalkan dengan bahasa asing. Namun, jumlah bahasa yang diberikan sebaiknya dibatasi.
Menurutku sudah siap, tapi bahasa asingnya mungkin dibatasi, satu-dua saja,”
ujarnya.
Ia menilai anak kelas 1 SD sudah menghadapi cukup banyak pelajaran umum lainnya. Karena itu, pembelajaran bahasa asing jangan sampai membuat anak merasa semakin terbebani.
“Anak sepertinya sudah cukup overwhelmed dengan berbagai mata pelajaran umum lainnya,” kata Deasy.
Manfaat Cukup Pengenalan Dasar
Deasy mengatakan manfaat yang paling diharapkannya dari pengenalan bahasa asing sejak kelas 1 SD bukanlah agar anak langsung mahir.
Menurutnya, anak cukup memiliki kemampuan dasar dan mulai terbiasa mendengar serta menggunakan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari.
Manfaatnya paling sekadar ngerti dikit-dikit saja, misalnya untuk nyapa orang, nanya kabar, dan mereka sedikit familiar,”
tuturnya.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak langsung memberikan terlalu banyak bahasa kepada anak dalam waktu bersamaan.
Alangkah baiknya enggak usah langsung dijejelin berbagai bahasa sekaligus. Yang ada nanti anak gumoh,”
jelasnya.
Kekhawatiran terhadap beban belajar juga menjadi perhatian Deasy. Terlebih, menurutnya, masa peralihan dari taman kanak-kanak (TK) ke SD saja sudah menjadi tantangan tersendiri bagi anak.
Iya, sangat khawatir. Peralihan TK ke SD kan juga lumayan challenging,”
terang Deasy.
Apalagi, jika bahasa asing yang diberikan merupakan bahasa yang tidak dikuasai oleh orang tua, proses pendampingan belajar di rumah juga dapat menjadi tantangan.
Kalau ketambahan bahasa asing lain, yang orang tuanya juga sama sekali enggak familiar, bakal susah ngajarinya,”
akuinya.
Karena itu, Deasy mengusulkan agar pembelajaran bahasa asing tambahan dapat diberikan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler sehingga tidak wajib diikuti seluruh siswa.
Mungkin jadi ekskul tambahan saja. Jadi buat yang mau-mau saja,”
paparnya.
Sementara itu, orang tua murid lainnya, Tuty Alawiyah, juga mendukung wacana pengenalan bahasa asing sejak kelas 1 SD. Namun, ia menekankan agar penerapannya benar-benar disesuaikan dengan usia anak.
Menurut saya, wacana tersebut cukup bagus dan saya mendukung selama penerapannya disesuaikan dengan usia anak,”
kata Tuty.
Menurut Tuty, anak-anak saat ini memang perlu mendapatkan pengenalan bahasa asing sejak dini karena kemampuan tersebut dapat menjadi bekal ketika mereka tumbuh dewasa.
Anak-anak sekarang memang perlu dikenalkan dengan bahasa asing sejak dini karena akan menjadi bekal mereka ke depannya,”
ujarnya.
Meski demikian, Tuty menilai pembelajaran untuk anak kelas 1 SD sebaiknya masih berada pada tahap pengenalan. Ia tidak ingin anak langsung dibebani target pembelajaran seperti siswa di tingkat yang lebih tinggi.
Tapi menurut saya, sifatnya lebih ke pengenalan dulu, bukan pembelajaran yang terlalu serius seperti mengejar target nilai,”
tuturnya.
Tuty juga menilai anak kelas 1 SD cukup siap menerima pengenalan bahasa asing. Alasannya, anak pada usia tersebut masih berada dalam fase yang relatif mudah menyerap dan meniru bahasa baru.
Menurut saya sudah cukup siap, karena anak usia kelas 1 masih berada pada tahap mudah menyerap dan meniru bahasa baru,”
katanya.
Tapi kemampuan setiap anak kan berbeda-beda, jadi jangan sampai semua anak dituntut harus langsung bisa,”
tambah Tuty.
Menurutnya, proses pengenalan harus dilakukan secara bertahap dan menyenangkan sehingga anak tidak merasa tertekan.
Yang penting mereka dikenalkan secara bertahap dan tidak membuat anak merasa tertekan,”
katanya.
Jangan Kejar Nilai
Tuty berharap pengenalan bahasa asing dapat membuat anak lebih terbiasa mendengar dan menggunakan bahasa tersebut, khususnya bahasa Inggris.
Saya berharap anak jadi lebih terbiasa mendengar dan menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris,”
harapnya.
Selain kemampuan berbahasa, ia menilai pengenalan bahasa asing juga dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan memperluas wawasan anak.
Selain menambah kemampuan berbahasa, menurut saya belajar bahasa asing juga bisa membuat anak lebih percaya diri dan membuka wawasan mereka terhadap dunia luar,”
ujarnya.
Dengan pengenalan sejak dini, Tuty berharap anak setidaknya memiliki dasar ketika mereka memasuki usia yang lebih besar.
Setidaknya ketika mereka besar nanti, mereka sudah punya dasar dan tidak merasa asing dengan bahasa tersebut,”
tutup Tuty.
























