Rencana pemerintah Indonesia untuk mengirim hingga 20 ribu pasukan perdamaian ke Gaza memasuki tahap persiapan akhir.
TNI memastikan seluruh personel disiapkan untuk misi kemanusiaan tersebut telah menjalani pelatihan dan pembinaan sesuai kebutuhan operasi.
Kapuspen TNI, Mayjen Freddy Ardianzah, menjelaskan sebanyak 20 ribu prajurit tersebut merupakan kekuatan yang sudah diproyeksikan dalam kerangka tugas perdamaian internasional.
“Angka 20 ribu itu adalah kapasitas yang telah kami siapkan untuk mendukung operasi kemanusiaan dan perdamaian. Mereka berasal dari satuan yang rutin menjalani pembinaan OMSP dan berpengalaman dalam misi PBB,”
Freddy.
Menurutnya, kemampuan dasar, kesiapan logistik, hingga interoperabilitas pasukan sudah terbentuk sejak lama karena mengikuti standar misi penjaga perdamaian. TNI saat ini tinggal menunggu keputusan resmi pemerintah dan mandat dari PBB.
TNI Tunggu Mandat
Freddy menegaskan bahwa latihan tambahan akan dilakukan jika mandat final diterbitkan. Namun secara umum, seluruh unsur TNI sudah siap digerakkan kapan pun dibutuhkan.
TNI akan melaksanakan perintah pemerintah secara profesional dan sesuai hukum nasional maupun internasional,”
Freddy.
Untuk misi kemanusiaan di Gaza, TNI telah menyiapkan kemampuan inti berupa tenaga kesehatan, satuan zeni konstruksi, rumah sakit lapangan, ambulans, peralatan medis darurat, fasilitas air bersih dan sanitasi, hingga alat berat untuk pekerjaan rekonstruksi.
Freddy mengatakan detail jumlah logistik akan disesuaikan setelah PBB menetapkan kebutuhan resmi di lapangan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto, dalam pidatonya di Sidang Umum PBB yang disiarkan melalui kanal resmi United Nations pada 23 September 2025, memastikan bahwa Indonesia siap mengirimkan pasukan dalam jumlah besar untuk menjaga perdamaian global.
Indonesia adalah salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian PBB. Kami percaya pada komitmen internasional, dan kami siap hadir di mana pun perdamaian membutuhkan penjaga,”
Prabowo dalam pidatonya.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia siap mengirim 20 ribu personel atau lebih jika PBB membutuhkan bantuan, baik untuk memulihkan situasi di Gaza, Ukraina, Sudan, Libya, maupun wilayah konflik lainnya.
Ia menekankan bahwa Indonesia tidak hanya mendukung perdamaian dengan diplomasi, tetapi juga siap terjun langsung melalui pasukan yang memiliki kapabilitas di lapangan.
Tantangan Besar Jika Indonesia Kirim Pasukan
Pengamat politik Internasional, Edwin Tambunan mengungkapkan, mengirim pasukan ke Gazza tidaklah mudah. Banyak faktor yang harus diperhatikan terlebih dahulu dan mekanisme pengiriman pasukan perdamaian ke Gazza.
Ada dua macam kehadiran pasukan dalam rangka intervensi internasional pihak ketiga. Pertama, kehadiran pasukan koalisi dikoordinasikan oleh satu negara besar untuk menghancurkan atau menetralkan kekuatan yang dianggap mengancam,”
Edwin saat dihubungi Owrite.id.
Lebih lanjut Edwin juga memberikan beberapa contoh terkait dengan pengiriman pasukan perdamaian. Salah satu contoh konkret adalah koalisi internasional yang dipimpin oleh AS.
Kehadiran koalisi internasional yang dipimpin AS di Afghanistan merupakan contoh untuk ini. Kedua, kehadiran pasukan dalam rangka pemeliharaan perdamaian di wilayah-wilayah konflik atas mandat PBB,”
Edwin.
“Pasukan ini bisa dibentuk langsung oleh PBB atau didelegasikan ke organisasi regional. Bentuk yang kedua inilah yang kita kenal dengan Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB,” pungkasnya.
Siap Kirim 20 Ribu Pasukan Jika Dibutuhkan PBB
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menyampaikan komitmen Indonesia di hadapan Sidang Umum PBB, melalui siaran resmi United Nations pada 23 September 2025.
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia siap berkontribusi besar dalam menjaga stabilitas global.
Indonesia siap mengerahkan 20 ribu putra-putri terbaik kami, bahkan lebih, jika PBB memerlukan dukungan untuk mengamankan perdamaian baik di Gaza, Ukraina, Sudan, Libya, maupun wilayah konflik lainnya,”
Prabowo.
Ia menambahkan bahwa Indonesia tidak hanya berkomitmen lewat diplomasi, tetapi juga siap hadir di lapangan dengan pasukan yang memiliki kemampuan teknis, kemanusiaan, dan peacekeeping yang telah teruji.



