Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa banjir bandang dan longsor di Sumatera dipicu oleh fenomena langka, yakni Siklon Tropis Senyar. Biasanya, wilayah tropis di garis khatulistiwa sulit ditembus siklon karena efek Coriolis yang lemah.
Namun, anomali atmosfer global dan suhu muka laut yang hangat di Selat Malaka menyebabkan bibit siklon tumbuh dan terperangkap.
Siklon ini terperangkap di antara Sumatera dan Semenanjung Malaysia. Seharusnya siklon lewat, tapi malah berputar-putar di sana selama 2-3 hari,”
Teuku Faisal dalam Rapat Kerja Bersama Komisi V DPR, Senin, 1 Desember 2025.
Dampak siklon tersebut adalah curah hujan ekstrem yang tidak masuk akal. Pada 25-27 November hujan sangat ekstrem. Bahkan curah hujan tertinggi tercatat di Kabupaten Bireuen, Aceh, yang mencapai 411 mm/hari,
Ini bahkan lebih tinggi daripada hujan bulanan di sana, mungkin 1,5 bulan. Jadi ini ‘tumpah’ dalam satu hari dan bayangkan itu terjadi selama 3 hari,”
Faisal.
Hal tersebut menjadi penyebab bencana hidrometeorologi lantaran tanah tidak mampu menahan tumpahan air hujan sehingga terjadilah banjir bandang dan longsor.
Dia mengingatkan kini saatnya Indonesia bersiaga terhadap bencana siklon tropis, tidak hanya bencana hidrometeorologi yang selama ini diketahui.
Saat ini, BMKG bersama BNPB terus melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk memecah awan hujan guna mempermudah proses evakuasi korban yang masih berlangsung.
BMKG juga mengakui adanya keterbatasan infrastruktur, yakni Indonesia baru memiliki 44 radar cuaca dari kebutuhan ideal 75 radar, menyebabkan adanya blind spot pemantauan di wilayah seperti Aceh Tengah.
Dia juga memperingatkan publik bahwa periode Desember 2025 hingga Februari 2026. Potensi bibit siklon diprediksi akan bergeser ke perairan selatan Indonesia.
Ada ancaman bibit siklon di perairan selatan dari Indonesia. Mulai dari Bengkulu, Sumatera bagian selatan, selatan Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Papua Tengah dan Papua Selatan,”
Faisal.
Daerah-daerah tersebut merupakan area rawan terjadinya bibit siklon yang dapat berkembang menjadi siklon tropis, sehingga berpotensi memunculkan curah hujan tinggi, bencana hidrometeorologi, dan gelombang tinggi.
Penanganan Ekstra
Ketua Komisi V DPR Lasarus menyebut kejadian ini sebagai peristiwa luar biasa yang menuntut penanganan ekstra.
Ia mendesak Basarnas memaksimalkan masa tanggap darurat, mengingat banyaknya korban yang belum ditemukan.
Lasarus juga menyoroti pentingnya koordinasi antara BMKG, Basarnas, dan BNPB dalam hal mitigasi dan meminta peta daerah rawan bencana diperbarui agar masyarakat tidak lagi bermukim di zona merah.
Maka memerlukan kesigapan pemerintah untuk sarana dan prasarana yang memadai, persiapan sumber daya manusia yang terlatih.
Karena SAR memiliki golden time yang harus bisa dimanfaatkan untuk menyelamatkan korban-korban,”
Ketua Komisi V DPR Lasarus.



