Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup tengah mendalami dan memverifikasi dugaan keterlibatan sejumlah korporasi dalam bencana alam di Sumatera Utara.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLH Yulia Suryanti berkata temuan awal mengindikasikan adanya keterlibatan delapan perusahaan dalam kejadian banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut.
Sebagai institusi yang memiliki otoritas dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, kami menegaskan komitmen untuk menindak tegas setiap bentuk pelanggaran yang terbukti mengancam keselamatan masyarakat, merusak ekosistem, dan mengganggu keberlanjutan lingkungan,”
ujar Yulia dalam keterangan resmi, Selasa, 9 Desember 2025.
Proses investigasi yang sedang berlangsung mencakup serangkaian langkah krusial untuk memastikan keakuratan data, seperti pengumpulan data dan fakta primer maupun sekunder yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan serta kondisi lingkungan di lokasi kejadian.
Upaya selanjutnya yaitu tim memverifikasi di lapangan dengan melakukan pemeriksaan dan klarifikasi langsung ke pihak perusahaan dan otoritas terkait di lapangan. Lalu, koordinasi lintas sektoral juga dilakukan dengan aparat penegak hukum lain dan pemerintah daerah guna memastikan kesesuaian data yang diperoleh.
Kementerian memastikan penegakan hukum akan dilakukan secara akurat, transparan, dan berlandaskan peraturan perundang-undangan. Proses ini akan berbasis pada fakta dan bukti hukum yang kuat serta bebas dari intervensi pihak manapun,”
Jelas Yulia.
Menanggapi tingginya perhatian publik dan media terhadap kasus ini, Yulia menyampaikan apresiasinya. Namun, ia juga menekankan bahwa penanganan kasus lingkungan memerlukan kehati-hatian dan proses penanganan kasus lingkungan memerlukan kecermatan dan kajian teknis komprehensif untuk menjamin akuntabilitas.
Delapan korporasi berada di beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Batang Toru, DAS Garoga, DAS Pandan, dan DAS Aek Sibulan. Empat di antaranya telah disegel lantaran diduga sebagai penyebab bencana di sana. Empat perusahaan tersebut adalah
PT Perkebunan Nusantara III (Persero), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru yang dioperasikan oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), PT Agincourt Resource, dan PT Sago Nauli.
Data Terkini
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data rekapitulasi umum dampak bencana yang melanda wilayah Pulau Sumatera. Merujuk data per 9 Desember 2025, tercatat total korban meninggal dunia mencapai 964 jiwa.
Secara akumulatif dari ketiga provinsi, terdapat penambahan 3 korban meninggal dunia dibandingkan per 8 Desember, sehingga total menjadi 964 orang. Provinsi Aceh mencatat angka kematian tertinggi yakni 391 jiwa (bertambah 2 orang), disusul Sumatera Utara sebanyak 338 jiwa, dan Sumatera Barat 235 jiwa (bertambah 1 orang).
Di Sumatera Barat, satu jenazah baru ditemukan kemarin namun belum dapat diidentifikasi. BNPB juga mencatat terdapat 31 jenazah yang saat ini masih dalam proses identifikasi. Sementara itu, jumlah korban hilang tercatat sebanyak 264 orang. Sumatera Utara menjadi wilayah dengan laporan orang hilang terbanyak yaitu 138 orang, diikuti Sumatera Barat 95 orang, dan Aceh 31 orang.



