SEA Games 2025 resmi ditutup, perjuangan kontingen Indonesia berakhir sebagai runner-up di ajang dua tahunan tersebut. Indonesia berhasil meraih 333 medali, yang terdiri atas 91 emas, 111 perak, dan 131 perunggu.
Namun, gelaran SEA Games 2025 di Thailand menuai banyak kontroversi, mulai dari kurangnya logistik yang dikeluhkan kontingen, kecurangan yang dilakukan atlet, hingga sorotan kinerja wasit yang dianggap tidak netral dalam mengendalikan jalannya pertandingan.
Kabar wasit yang dianggap curang ini dirasakan hampir di semua cabang olahraga, yang memicu perasaan kecewa dari delegasi negara-negara peserta, termasuk Vietnam, Malaysia, Indonesia dan Filipina.
Misalnya saat pertandingan sepak bola wanita antara Vietnam melawan Filipina. Dalam pertandingan itu, wasit menolak memberikan penalti yang jelas saat handball terjadi di kotak terlarang, serta menganulir gol yang sah karena dianggap offside.
Kekecewaan juga dirasakan oleh peserta bela diri dari Vietnam, Vu Van Kien yang didiskualifikasi secara membingungkan saat memimpin poin atas lawannya dari Thailand. Wasit menuduhnya melakukan tendangan ke wajah, sebuah keputusan yang memicu perdebatan panas.
Marak Kecurangan
Atlet esports Thailand Naphat Warasin, yang dikenal dengan nama panggung Tokyogurl, resmi dikeluarkan dari ajang SEA Games ke-33 setelah terbukti melakukan kecurangan dalam pertandingan Arena of Valor (AOV) putri.
Naphat diketahui menggunakan perangkat lunak unauthorised third-party software or hardware modification. Insiden itu terjadi dalam laga tim putri Arena of Valor antara Thailand dan Vietnam pada 15 Desember 2025. Dalam pertandingan itu, ia melakukan modifikasi pada perangkat gaming secara ilegal.
Dengan banyaknya kontroversi yang terjadi dalam pertandingan di SEA Games 2025, event yang berlangsung di Thailand itu terancam dikenang sebagai salah satu event terburuk dalam sejarah.
Kebangkitan Indonesia
Indonesia berhasil meraih 333 medali, yang terdiri atas 91 emas, 111 perak, dan 131 perunggu. Koleksi 91 emas ini adalah jumlah medali emas terbanyak ketiga yang dibawa pulang oleh kontingen Indonesia ketika tidak menjadi tuan rumah penyelenggara, sejak pertama kali berpartisipasi di SEA Games 1977 hingga saat ini.
Pengamat olahraga Gatot S. Dewa Broto menilai Indonesia sudah dalam trek yang tepat untuk kembali ke masa jaya di pentas olahraga Asia Tenggara. Ia mengakui, ketika tampil di SEA Games bukan menjadi tuan rumah menjadi tantangan tersendiri.
Sejak SEA Games Singapura 1993, kita tidak pernah lagi berhasil membawa pulang lebih dari 88 emas. Di SEA Games Kamboja sebelumnya, kita hanya bisa mendekati saja dengan jumlah 87 emas. Jika selama ini kita hanya bisa bermimpi kapan kita akan kembali ke masa kejayaan di kancah olahraga Asia Tenggara, inilah saatnya. Kita sudah berhasil lepas dari mimpi buruk selama 32 tahun terakhir saat menjadi peserta tamu SEA Games,”
ujar Gatot dalam keterangan resmi Kemenpora, Minggu 22 Desember.
Cabang olahraga atletik menjadi penyumbang emas terbanyak dengan koleksi sembilan medali. Selanjutnya ada panahan dengan enam medali, wushu, kano, kayak, dan dayung menyumbang lima medali.
Selain itu, empat medali emas masing-masing diraih oleh cabang olahraga panjat tebing, judo, pencak silat, dan senapan dan pistol, perahu naga. Beberapa cabor juga masing-masing menyumbang tiga medali, yakni aquathlon, bulu tangkis, renang, tenis, dan angkat besi.

