Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 5 Feb 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • Cari Tahu
  • WARGA SPILLNew
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Banjir
  • sumatera
  • longsor
  • Bola
  • Spill
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Rencana Haji di Bawah Komando dan Potensi ASN Tergusur dari Urusan Haji
Nasional

Rencana Haji di Bawah Komando dan Potensi ASN Tergusur dari Urusan Haji

iren natania longdongAmin Suciady
Last updated: Januari 15, 2026 5:38 pm
Iren Natania
Amin Suciady
Share
Jamaah haji dari berbagai negara melakukan Tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi
Jamaah haji dari berbagai negara melakukan Tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Minggu (15/6/2025). Menurut Saudi Press Agency, kapasitas Masjidil Haram pada tahun 2025, setelah perluasan tahap ketiga selesai, mencapai tiga juta orang per hari dengan adanya peningkatan luas area Masjidil Haram dari 414.000 meter persegi menjadi 1,5 juta meter persegi. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu/foc.)
SHARE

Wacana petugas penyelenggara ibadah haji didominasi atau bahkan seluruhnya berasal dari unsur TNI dan Polri seperti yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto, harus mempunyai batasan yang jelas.

Daftar isi Konten
  • Pembenahan Seleksi Petugas Sipil
  • Tak Sejalan dengan Layanan Publik Sosial-Keagamaan
  • Pengembangan Kapasitas ASN Bakal Melempem

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta (UPNVJ), Achmad Nur Hidayat, mengungkapkan jika pelibatan TNI-Polri tidak dibatasi secara ketat pada perlindungan dan kedaruratan lalu masuk ke inti layanan, akan membuka ruang mission creep, yang berarti hari ini haji, besok layanan publik lain.

Pada akhirnya, birokrasi sipil kehilangan panggung untuk bertumbuh, sementara negara makin bergantung pada solusi instan berbasis pengerahan, bukan perbaikan sistem.

Lebih jauh, ada dampak lain yang sering luput, seperti psikologi organisasi. Ketika ASN Kemenag atau Kemenhaj melihat bahwa tugas layanan yang strategis cenderung diberikan ke luar jalur sipil, pesan yang ditangkap adalah sinis.

Ngapain kita dilatih, toh nanti diganti. Di situlah pengembangan kapasitas mati pelan-pelan,” 

ungkap Achmad, kepada owrite.

Ia menilai, padahal seharusnya kebijakan yang baik memacu profesionalisme ASN, bukan meminggirkannya. Nilai dasar ASN yang berorientasi pelayanan seharusnya diterjemahkan menjadi investasi serius dalam pelatihan, sertifikasi, dan manajemen kinerja petugas haji sipil, bukan sekadar slogan di dinding kantor.

Di sisi lain, jika memang ada kebutuhan ketangguhan fisik, hal itu dapat dibangun sebagai standar kompetensi petugas haji sipil.

Tidak ada yang melarang membuat seleksi kebugaran yang wajar, pelatihan ketahanan panas, latihan prosedur evakuasi, dan simulasi krisis. Itu semua reformasi manajemen SDM, bukan substitusi aktor.

Sampai hari ini, argumen yang dominan di ruang publik adalah klaim evaluatif, petugas TNI Polri dinilai disiplin, bertanggung jawab, dan mendapat poin positif,”

ujar Achmad.

Menurutnya, klaim ini bisa benar, tetapi kebijakan publik tidak boleh berhenti di kesan. Apalagi ketika wacana berubah dari penambahan terbatas menjadi dominasi.

Soal Wacana Dominasi TNI–Polri dalam Haji: Solusi Disiplin atau Gejala Militerisasi Layanan Publik?

Yang justru diperlukan adalah pembuktian berbasis indikator layanan yang sederhana tetapi nyata, kecepatan respons kasus jemaah tersesat, ketepatan informasi layanan, jumlah keluhan yang selesai, kualitas pendampingan kelompok rentan, hingga kepuasan jemaah yang diukur dengan metode yang rapi.

Tanpa hal itu, negara akan mudah terjebak pada ilusi karena seragam terlihat rapi, layanan dianggap pasti membaik.

Saya tidak sedang berargumen bahwa TNI Polri tidak boleh terlibat sama sekali. Dalam kerumunan besar dan situasi berisiko, unsur keamanan bisa menjadi penguat,”

kata Achmad.

Tetapi, sambungnya, garisnya harus tegas, penguatan perlindungan jemaah dan kedaruratan, bukan pengambilalihan layanan inti. Jika tujuan pemerintah adalah peningkatan kualitas layanan, fokus kebijakannya seharusnya kembali ke reformasi yang membangun kapasitas, bukan mengganti aktor.

Pembenahan Seleksi Petugas Sipil

Achmad pun meminta adanya pembenahan seleksi petugas sipil yang berbasis kompetensi dan integritas, dan perkuat pelatihan yang menyentuh komunikasi layanan dan manajemen krisis, rapikan SOP dan evaluasi, membuat insentif yang memuliakan kinerja pelayanan, lalu tempatkan unsur keamanan sebagai mitra dalam domain yang tepat.

Dengan demikian, disiplin tidak lagi menjadi atribut institusi tertentu, melainkan hasil dari sistem yang bekerja.

Di titik itulah kita bisa menjawab pertanyaan awal dengan jernih. Pelibatan TNI Polri bisa sejalan dengan prinsip layanan publik sipil bila ia dibatasi pada fungsi perlindungan yang jelas, akuntabel, dan berada dalam kerangka kendali sipil,”

papar Achmad.

Namun jika dibiarkan menjadi dominasi, ia berpotensi memundurkan agenda reformasi birokrasi, mematikan pengembangan kapasitas ASN, dan menggeser pendekatan layanan dari melayani jemaah menjadi mengendalikan jemaah.

Tak Sejalan dengan Layanan Publik Sosial-Keagamaan

Sementara itu, Pengamat dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai, secara prinsip, dominasi aparat keamanan tidak sepenuhnya sejalan dengan karakter penyelenggaraan haji sebagai layanan publik sosial-keagamaan.

Penyelenggaraan haji adalah layanan publik sipil berbasis pelayanan sosial dan keagamaan, bukan fungsi keamanan. Reformasi birokrasi pasca 1998 justru bertujuan menarik negara keluar dari pendekatan koersif menuju pendekatan pelayanan,”

ujar Ronny kepada owrite.

Menurutnya, jika dominasi aparat keamanan diperluas tanpa batas yang jelas, kebijakan tersebut berisiko menjadi kemunduran dari agenda demiliterisasi urusan sipil yang selama ini menjadi fondasi reformasi sektor publik di Indonesia.

Ronny mengingatkan, bahwa risiko terbesar dari pelibatan masif TNI–Polri dalam penyelenggaraan haji adalah pergeseran paradigma.

Haji adalah pengalaman religius yang sarat emosi, kerentanan fisik, dan kebutuhan empati. Pendekatan hierarkis dan komando, yang lazim dalam institusi militer, berpotensi mengubah relasi pelayanan menjadi relasi pengendalian,”

katanya.

Ia menilai, pendekatan semacam itu bisa mengikis rasa aman psikologis jemaah, khususnya kelompok lanjut usia dan kelompok rentan, yang justru membutuhkan pendampingan berbasis kesabaran, empati, dan sensitivitas budaya.

Aparat keamanan, lanjut Ronny, memang unggul dalam ketertiban dan kepatuhan. Namun pelayanan haji menuntut kompetensi yang berbeda, seperti komunikasi interpersonal, fleksibilitas, kemampuan menangani situasi emosional, serta pemahaman konteks sosial-keagamaan jemaah.

Tanpa pelatihan khusus pelayanan sosial-keagamaan, ada risiko jemaah diperlakukan sebagai objek pengaturan, bukan subjek yang dilayani,”

paparnya.

Lalu, bagaimana soal disiplin dan ketangguhan persepsi politik?

Alasan utama yang sering dikemukakan untuk melibatkan TNI–Polri adalah disiplin dan ketangguhan fisik. Namun Ronny menilai, argumen ini lebih bersifat persepsi politik daripada kesimpulan berbasis data.

Tidak ada bukti, bahwa secara sistemik petugas sipil haji kurang disiplin atau tidak tangguh. Banyak masalah haji justru bersumber pada desain kebijakan, koordinasi antar lembaga, sistem logistik, dan tata kelola, bukan semata kualitas individu petugas,”

tegas Ronny.

Ia juga menekankan, bahwa hingga kini belum ada bukti empiris kuat bahwa pelibatan penuh TNI–Polri otomatis meningkatkan kualitas layanan haji.

Pengalaman internasional justru menunjukkan, bahwa layanan haji yang baik ditopang oleh manajemen sipil profesional, sistem digital yang andal, dan pelatihan pelayanan yang manusiawi.

Tanpa desain kebijakan yang matang, pelibatan aparat justru bisa memunculkan masalah baru seperti miskomunikasi, ketegangan sosial, bahkan resistensi dari jemaah,”

tambahnya.

Ronny pun menyoroti implikasi kebijakan tersebut terhadap profesionalisme aparatur sipil negara (ASN), khususnya di Kementerian Agama atau lembaga penyelenggara haji.

Pengembangan Kapasitas ASN Bakal Melempem

Jika peran strategis petugas sipil terus digeser, maka insentif pengembangan kapasitas ASN akan melemah. Jalur karier bisa buntu, motivasi menurun, dan negara gagal membangun institusi sipil yang kompeten.

Dalam jangka panjang, negara justru menjadi tergantung pada aparat keamanan untuk fungsi non-keamanan,”

ujarnya.

Selain itu, normalisasi peran militer dan polisi dalam layanan publik dinilai berisiko mengaburkan batas antara fungsi keamanan dan fungsi sipil dalam negara demokratis.

Dalam demokrasi, militer dan polisi tunduk pada prinsip subsidiaritas, terlibat hanya jika dibutuhkan, bersifat temporer dan fungsional, bukan menggantikan peran sipil,”

tegas Ronny.

Ronny menilai, solusi paling rasional untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji bukanlah mengganti petugas sipil dengan aparat keamanan, melainkan mereformasi sistem yang ada.

Reformasi itu, menurutnya, meliputi peningkatan pelatihan berbasis pelayanan jemaah, seleksi petugas berbasis kompetensi dan empati, sistem insentif yang adil dan transparan, serta evaluasi kinerja berbasis data.

Mengganti petugas sipil dengan aparat keamanan adalah solusi instan, tetapi tidak menyentuh akar masalah tata kelola.

Negara yang kuat bukan negara yang mengandalkan militer untuk semua urusan, melainkan negara yang mampu membangun birokrasi sipil yang profesional, disiplin, dan manusiawi,”

pungkasnya.
Tag:Ibadah hajipetugas hajiPolriPrabowo SubiantoPresidenSpillTNI
Share This Article
Email Salin Tautan Print
iren natania longdong
ByIren Natania
Reporter
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE Media yang meliput pemberitaan Peristiwa Nasional dan Politik.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Ikuti
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
@owritedotid

BERITA TERKINI

Indeks berita
Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Ekonomi Bisnis

BPS Klaim Jumlah Pengangguran di RI Turun Jadi 7,35 Juta Orang pada November 2025

Jumlah orang menganggur di Indonesia mencapai 7,35 juta orang pada periode Agustus-November 2025. Angka ini tercatat turun sebesar 0,109 juta orang dibandingkan bulan Agustus 2025 yang mencapai 7,46 juta orang.…

By
Anisa Aulia
Dusep
2 Min Read
Tampilan layar saat penumpang pesawat berjalan melewati area pemeriksaan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Denpasar di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali
Kesehatan

Pemerintah Indonesia Diminta Siap Siaga dari Ancaman Virus Nipah

Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI) mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan nasional menyusul merebaknya kembali kasus infeksi virus Nipah di sejumlah negara. Virus Nipah sendiri merupakan penyakit zoonotik dengan…

By
Syifa Fauziah
Ivan
3 Min Read
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto
Nasional

DPR Ungkap Arah Revisi UU Migas, BUK Mengarah ke Pertamina

Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto mengungkapkan bahwa parlemen tengah mempercepat pembahasan revisi Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi (RUU Migas). Salah satu isu sentral dalam revisi tersebut adalah…

By
Hadi Febriansyah
Ivan
3 Min Read

BERITA LAINNYA

Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang
Nasional

Komisi VIII DPR Soroti Keuangan Haji, Target BPKH 2025 Dipertanyakan

Komisi VIII DPR RI mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Ketua Dewan…

hadi-febriansyah-owriteIvan OWRITE
By
Hadi Febriansyah
Ivan
3 jam lalu
Bahan Peledak yang dipakai siswa SMPN 3 Sungai Raya Kalbar untuk meneror sekolahnya.
Nasional

Tragis, Korban Bullying Siswa SMP Kalbar Jadi Pelaku Teror Bom Molotov di Sekolahnya

Kasus pelajar terpapar paham radikalisme kembali terjadi. Kali ini melibatkan seorang siswa…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owritedusep-malik
By
Rahmat
Dusep
19 jam lalu
Menteri Luar Negeri Sugiono
Nasional

Jika Tak Sesuai Arah, Indonesia Siap Tinggalkan Dewan Perdamaian

Menteri Luar Negeri Sugiono akhirnya angkat bicara terkait peluang Indonesia menarik diri…

hadi-febriansyah-owriteIvan OWRITE
By
Hadi Febriansyah
Ivan
19 jam lalu
dokumen istimewa
Nasional

(Part II) RUU Disinformasi dan Propaganda Asing: ‘Vaksin’ Kedaulatan atau ‘Racun’ Narasi Tunggal Negara?

Mata Koin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers turut mengeluarkan sikap tegas menanggapi…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
20 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up