Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 25 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Purbaya
  • MBG
  • prabowo
  • iran
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / Soal Wacana Dominasi TNI–Polri dalam Haji: Solusi Disiplin atau Gejala Militerisasi Layanan Publik?
Nasional

Soal Wacana Dominasi TNI–Polri dalam Haji: Solusi Disiplin atau Gejala Militerisasi Layanan Publik?

iren natania longdongAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Januari 15, 2026 5:24 pm
By
Natania Longdong
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id,...
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
5 bulan lalu
Share
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (kiri) berbincang dengan petugas Haji saat pembukaan pendidikan dan latihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 di Asrama Haji
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (kiri) berbincang dengan petugas Haji saat pembukaan pendidikan dan latihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 di Asrama Haji, Jakarta, Minggu (11/1/2026). Sebanyak 1.636 PPIH Arab Saudi 2026 mulai menjalani diklat selama 20 hari dengan dibekali berbagai keterampilan mulai dari keahlian administratif hingga bahasa arab guna mengoptimalkan layanan haji 2026. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/agr)
SHARE

Usulan Presiden Prabowo Subianto agar petugas penyelenggara ibadah haji didominasi, atau bahkan seluruhnya berasal dari unsur TNI dan Polri, memunculkan pertanyaan baru soal arah pengelolaan layanan haji yang selama ini bersifat sipil. 

Daftar isi Konten
  • Mabes Polri Siap Tambah Anggota
  • Analogi Rumah Sakit

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid, menyebut keinginan itu didorong alasan kedisiplinan, ketangguhan fisik, dan kesiapan menghadapi situasi berat di lapangan, terutama di Arab Saudi.

Hal itu disampaikan Wachid saat memberikan arahan dalam pendidikan dan pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menjelang musim haji 2026 di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, 11 Januari lalu.

Yang tadi disampaikan oleh Pak Wakil Menteri, sebenarnya Bapak Presiden mengharapkan petugas haji ini adalah semua dari unsur TNI dan Polri,”

kata Wachid.

Menurut politikus Partai Gerindra itu, pelaksanaan ibadah haji menuntut kesiapan fisik dan mental yang tinggi, terutama pada fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. 

Ia menyoroti kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi yang bertepatan dengan musim panas, sehingga membutuhkan petugas yang terlatih dan disiplin.

Karena itu, pada musim haji 2026 jumlah personel TNI-Polri disebut akan ditingkatkan, bahkan dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, khususnya untuk bertugas di wilayah Armuzna.

Merespons keinginan Prabowo tersebut, Kementerian Haji dan Umrah menyatakan telah menambah petugas haji dari unsur TNI/Polri hingga 100 persen sebagai upaya untuk memperkuat layanan bagi jamaah, khususnya jamaah lanjut usia pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Tahun kemarin petugas dari TNI dan Polri ada 70 orang sekian. Hari ini kita tambah menjadi 170 sekian, jadi 100 persen lebih dalam rangka untuk memastikan pelayanan kepada jamaah haji, pelayanan terbaik,”

kata Menhaj RI Mochammad Irfan Yusuf di Jakarta, Rabu, 14 Januari 2025.

Irfan Yusuf mengatakan, penambahan petugas merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto agar pelayanan kepada jamaah calon haji semakin optimal.

Selain meningkatkan jumlah personel dari unsur keamanan, Kemenhaj juga memberi perhatian khusus pada aspek kesehatan jamaah.

Tenaga kesehatan ditambah, tetapi yang lebih penting lagi adalah pemeriksaan kesehatan awal yang harus dilakukan lebih serius,”

papar Irfan.

Mabes Polri Siap Tambah Anggota

Sementara itu, dari sisi Mabes Polri mengaku telah menyiapkan dukungan anggota sesuai permintaan penambahan personel sebagai Perlindungan Jemaah (Linjam) dari Kementerian Haji (Kemenhaj).

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, mengatakan pihak Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) Polri telah berkoordinasi terkait kapasitas dan kompetensi yang dibutuhkan oleh Kemenhaj.

SSDM Polri juga sudah berkoordinasi untuk mempersiapkan personel-personel yang terbaik,”

ujarnya.

Kendati demikian, ia tidak menjelaskan lebih jauh ihwal jumlah dan satuan yang dikerahkan sebagai tambahan Linjam untuk Kementerian Haji tersebut.

Polri tentunya akan bertugas melayani dan memberikan perlindungan kepada masyarakat Indonesia yang khususnya akan melaksanakan ibadah haji di masa depan,”

tambahnya.

Lebih jauh, menurut Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta (UPNVJ), menilai bahwa kata ‘dominasi’ TNI Polri sebagai petugas haji telah mencuat ke permukaan.

Menurutnya, ini bukan sekadar siapa yang paling disiplin, melainkan apakah layanan publik keagamaan sebesar haji sedang bergerak ke arah tata kelola sipil yang profesional, atau justru mundur ke logika komando yang membuat negara nyaman karena seragam, tetapi rapuh karena sistemnya tidak dibenahi?

Saya mulai dari konteks yang membuat isu ini terasa sangat timely. Kuota haji Indonesia untuk 2026 ditetapkan 221.000 jemaah,”

kata Achmad pada Owrite.

Menurutnya, angka ini menegaskan bahwa haji bukan program kecil melainkan layanan publik raksasa yang mengurus jutaan detail dan melibatkan ratusan ribu warga dalam situasi padat, panas, dan berisiko.

Di saat yang sama, pemerintah menyampaikan arahan Presiden agar jumlah petugas dari unsur TNI dan Polri ditambah hingga dua kali lipat dengan alasan disiplin dan ketangguhan fisik. 

Bersamaan dengan itu, muncul wacana ekstrem di ruang publik dan parlemen tentang porsi 50 persen petugas haji dari TNI-Polri, yang memantik kritik karena dianggap memperluas fungsi tanpa dasar yang jelas dan mengaburkan batas sipil militer.  

Pertanyaannya menjadi tajam; apakah lebih banyak aparat, otomatis sama dengan layanan lebih baik? 

Atau kita sedang memakai solusi yang terlihat tegas untuk menutup persoalan yang sebenarnya ada di jantung birokrasi pelayanan?,”

ujarnya.

Analogi Rumah Sakit

Achmad pun menganalogikannya dengan rumah sakit. Di rumah sakit besar, keamanan memang dianggap sebagai aspek penting, yang terdiri dari satpam, prosedur evakuasi, serta manajemen kerumunan ketika IGD penuh. 

Tetapi kita tidak menyimpulkan, bahwa karena keamanan penting, maka separuh tenaga rumah sakit sebaiknya satpam,” ujarnya.

ucapnya.

Rumah sakit yang baik, sambung Achmad, justru membedakan dengan tegas mana fungsi keamanan dan mana fungsi pelayanan klinis. Lalu memastikan keduanya bekerja dalam satu sistem yang memprioritaskan pasien.

Haji kurang lebih begitu. Ada kebutuhan pengamanan, mitigasi risiko, dan respons cepat saat terjadi insiden,”

beber Achmad.

Kehadiran unsur keamanan untuk perlindungan jemaah, yang kerap disebut sebagai Linjam, bisa relevan bila ditempatkan pada fungsi yang tepat.

Namun ketika narasi bergeser dari penguatan perlindungan menjadi dominasi petugas atau bahkan menggantikan petugas sipil, maka kita hal itu mencampuradukkan dua dunia yang logikanya berbeda, dunia layanan publik berbasis empati dan akses, dengan dunia komando berbasis kepatuhan dan kontrol.

Di titik inilah agenda transformasi birokrasi bisa terpeleset. Transformasi birokrasi bukan mencari siapa yang paling kuat berdiri paling lama, tetapi membangun sistem yang memastikan layanan tetap baik meski orangnya berganti,”

tekannya.

Achmad pun memahami mengapa Presiden menekankan disiplin dan ketangguhan fisik. Di lapangan haji, fisik dan ketegasan prosedur memang penting, tetapi kesimpulan kebijakannya tidak boleh melompat, seolah petugas sipil berarti tidak disiplin dan tidak tangguh. 

Menurutnya, hal itu bisa saja hanya persepsi yang muncul karena pengalaman lapangan tertentu, atau karena sistem rekrutmen dan pelatihan petugas sipil memang belum rapi. Bahkan, Undang-Undang ASN justru menegaskan orientasi pelayanan sebagai nilai dasar. 

Negara sudah mendeklarasikan bahwa aparatur sipil harus berorientasi layanan, akuntabel, kompeten, adaptif, kolaboratif, dan seterusnya,”

kata Achmad.

Jadi, tambahnya, masalahnya bukan pada sipilnya, melainkan pada apakah sistem seleksi, pelatihan, penugasan, dan insentif sudah memproduksi perilaku yang negara sendiri minta.

Kalau ada petugas sipil yang kinerjanya tidak disiplin, diagnosis kebijakannya harus spesifik, apakah seleksinya longgar, apakah pelatihannya formalitas, apakah insentifnya tidak mendorong kinerja, atau apakah justru pengawasan dan evaluasinya lemah. 

Mengganti dengan aparat bisa memberi efek cepat di permukaan, tetapi membiarkan akar masalah tetap hidup. Tahun depan persoalannya akan kembali, hanya berganti bentuk,”

ungkapnya.

Risiko terbesar dari militerisasi layanan keagamaan bukan sekadar soal citra, tetapi soal perubahan paradigma.

Dalam pelayanan publik modern, ukuran keberhasilan bukan hanya ketertiban, melainkan pengalaman layanan jemaah, apakah informasi jelas, apakah keluhan ditangani tanpa intimidasi, apakah kelompok rentan merasa aman, apakah petugas mampu menenangkan konflik kecil tanpa memperbesar ketegangan.

Ketika unsur komando terlalu dominan, logika yang mudah muncul adalah yang penting tertib. Padahal jemaah bukan pasukan. 

Mereka warga negara dengan kondisi beragam, banyak yang lansia, ada yang sakit, ada yang cemas karena pertama kali ke luar negeri, ada yang kebingungan prosedur,”

paparnya.

Diungkapkan Achmad, pendekatan layanan yang baik tidak membuat warga takut salah, tetapi membuat warga merasa dipandu.

Kritik dari masyarakat sipil juga menyoroti mismatch kompetensi, pelayanan jemaah menuntut komunikasi, sensitivitas sosial, dan etika pelayanan.

Jika porsi aparat melebar ke fungsi pelayanan inti, masalah baru bisa muncul pada cara berkomunikasi dan cara menangani keluhan.

Dalam negara demokratis, batas peran itu bukan formalitas. Ia adalah pagar agar institusi tetap profesional pada mandatnya dan warga tetap mendapat layanan yang akuntabel. 

Revisi UU TNI 2025 mencantumkan tugas OMSP yang bertambah menjadi 16 jenis. Perdebatan publik muncul karena daftar tugas itu dipahami sebagai rambu bahwa peran TNI harus tetap terkait pertahanan dan dukungan pada situasi tertentu, bukan melebar menjadi operator layanan sipil sehari-hari.

Tag:HeadlineIbadah hajipetugas hajiPolriPrabowo SubiantoPresidenSpillTNI
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Follow:
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id, ia dikenal lewat reportase mendalam soal bisnis, pertambangan, dan dampak kebijakan energi terhadap masyarakat.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Geger Pengakuan BEM UBK soal Duit Demo, Gibran Diminta Buka Fakta Sebenarnya, Berani?
By Hardani Triyoga
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berbincang dengan perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa usai pertemuan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6/2026).
1
Sadis Aniaya Pacar, Taufik Akan Diperiksa Kejiwaan dan Ditahan di Sel Khusus
By Rahmat Baihaqi
Petugas menggiring tersangka kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan berat Taufik Hidayat (tengah) setibanya di Polda Jabar, Bandung.
2
Harga Gas Industri Meroket, DPR Turun Tangan Usai 55 Ribu Buruh Terancam PHK
By Rika Pangesti
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco (kedua kanan) dan Cucun Ahmad Syamsurijal (kanan) tiba untuk menyampaikan keterangan pers terkait potongan komisi untuk layanan ojek online (ojol) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta
3
Prabowo Ungkap Ciri Koruptor: Biasanya Orang Pintar Tahu Cara Mencuri
By Rahmat Baihaqi
Presiden Prabowo hadir dalam Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan, di Gorontalo, 24 Juni 2026.
4
2 Peserta SPPI Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal saat Latihan Militer, Begini Penjelasan Kemhan
By Rahmat Baihaqi
Gedung Koperasi Merah Putih Kelurahan Baruga yang telah rampung dibangun di Kendari, Sulawesi Tenggara
5

BERITA LAINNYA

Orang tua siswa berdiri di depan layar informasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Manusia Unggul (Maung) di SMKN 1 Cimahi, Jawa Barat, Selasa (26/5/2026).
Nasional

Fenomena Aneh Terungkap, Ribuan Kursi PTN Terancam Kosong karena Peserta Menghilang

Tingginya jumlah peserta yang lolos seleksi perguruan tinggi negeri (PTN) tetapi tak…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
8 jam lalu
Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal
Nasional

Nasib 4 PMI di Somalia Belum Jelas, DPR Desak Kemlu Tunjuk Negosiator Khusus

Nasib empat Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang disandera di Somalia selama dua…

Rika PangestiAmin-Suciady-Owrite
By
Rika Pangesti
Amin Suciady
8 jam lalu
Wakil Rektor UI Prof Hamdi Muluk.
Nasional

Kesenjangan Masuk Kampus Jadi Alarm, DPR Bongkar Masalah Akses Pendidikan Tinggi

Kesenjangan akses pendidikan tinggi di Tanah Air jadi sorotan DPR RI dan…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
9 jam lalu
Kapuspenkum Kejagung, Anang Supriatna menjelaskan pertemuan tertutup Menkeu Purbaya dengan JA ST Burhanuddin.
Nasional

100 SPPG Diduga Bodong, Lokasinya Ada di Hutan hingga Tengah Kuburan, Mau Kasih Makan Hantu?

Sebanyak 100 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diduga fiktif tersebar di kawasan…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteAmin-Suciady-Owrite
By
Rahmat Baihaqi
Amin Suciady
9 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up