Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Jumat, 8 Mei 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Spill
  • iran
  • BMKG
  • Sepak Bola
  • prabowo
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Soal Wacana Dominasi TNI–Polri dalam Haji: Solusi Disiplin atau Gejala Militerisasi Layanan Publik?
Nasional

Soal Wacana Dominasi TNI–Polri dalam Haji: Solusi Disiplin atau Gejala Militerisasi Layanan Publik?

iren natania longdongAmin Suciady
Last updated: Januari 15, 2026 5:24 pm
Iren Natania
Amin Suciady
Share
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (kiri) berbincang dengan petugas Haji saat pembukaan pendidikan dan latihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 di Asrama Haji
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (kiri) berbincang dengan petugas Haji saat pembukaan pendidikan dan latihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 di Asrama Haji, Jakarta, Minggu (11/1/2026). Sebanyak 1.636 PPIH Arab Saudi 2026 mulai menjalani diklat selama 20 hari dengan dibekali berbagai keterampilan mulai dari keahlian administratif hingga bahasa arab guna mengoptimalkan layanan haji 2026. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/agr)
SHARE

Usulan Presiden Prabowo Subianto agar petugas penyelenggara ibadah haji didominasi, atau bahkan seluruhnya berasal dari unsur TNI dan Polri, memunculkan pertanyaan baru soal arah pengelolaan layanan haji yang selama ini bersifat sipil. 

Daftar isi Konten
  • Mabes Polri Siap Tambah Anggota
  • Analogi Rumah Sakit

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid, menyebut keinginan itu didorong alasan kedisiplinan, ketangguhan fisik, dan kesiapan menghadapi situasi berat di lapangan, terutama di Arab Saudi.

Hal itu disampaikan Wachid saat memberikan arahan dalam pendidikan dan pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menjelang musim haji 2026 di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, 11 Januari lalu.

Yang tadi disampaikan oleh Pak Wakil Menteri, sebenarnya Bapak Presiden mengharapkan petugas haji ini adalah semua dari unsur TNI dan Polri,”

kata Wachid.

Menurut politikus Partai Gerindra itu, pelaksanaan ibadah haji menuntut kesiapan fisik dan mental yang tinggi, terutama pada fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. 

Ia menyoroti kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi yang bertepatan dengan musim panas, sehingga membutuhkan petugas yang terlatih dan disiplin.

Karena itu, pada musim haji 2026 jumlah personel TNI-Polri disebut akan ditingkatkan, bahkan dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, khususnya untuk bertugas di wilayah Armuzna.

Merespons keinginan Prabowo tersebut, Kementerian Haji dan Umrah menyatakan telah menambah petugas haji dari unsur TNI/Polri hingga 100 persen sebagai upaya untuk memperkuat layanan bagi jamaah, khususnya jamaah lanjut usia pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Tahun kemarin petugas dari TNI dan Polri ada 70 orang sekian. Hari ini kita tambah menjadi 170 sekian, jadi 100 persen lebih dalam rangka untuk memastikan pelayanan kepada jamaah haji, pelayanan terbaik,”

kata Menhaj RI Mochammad Irfan Yusuf di Jakarta, Rabu, 14 Januari 2025.

Irfan Yusuf mengatakan, penambahan petugas merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto agar pelayanan kepada jamaah calon haji semakin optimal.

Selain meningkatkan jumlah personel dari unsur keamanan, Kemenhaj juga memberi perhatian khusus pada aspek kesehatan jamaah.

Tenaga kesehatan ditambah, tetapi yang lebih penting lagi adalah pemeriksaan kesehatan awal yang harus dilakukan lebih serius,”

papar Irfan.

Mabes Polri Siap Tambah Anggota

Sementara itu, dari sisi Mabes Polri mengaku telah menyiapkan dukungan anggota sesuai permintaan penambahan personel sebagai Perlindungan Jemaah (Linjam) dari Kementerian Haji (Kemenhaj).

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, mengatakan pihak Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) Polri telah berkoordinasi terkait kapasitas dan kompetensi yang dibutuhkan oleh Kemenhaj.

SSDM Polri juga sudah berkoordinasi untuk mempersiapkan personel-personel yang terbaik,”

ujarnya.

Kendati demikian, ia tidak menjelaskan lebih jauh ihwal jumlah dan satuan yang dikerahkan sebagai tambahan Linjam untuk Kementerian Haji tersebut.

Polri tentunya akan bertugas melayani dan memberikan perlindungan kepada masyarakat Indonesia yang khususnya akan melaksanakan ibadah haji di masa depan,”

tambahnya.

Lebih jauh, menurut Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta (UPNVJ), menilai bahwa kata ‘dominasi’ TNI Polri sebagai petugas haji telah mencuat ke permukaan.

Menurutnya, ini bukan sekadar siapa yang paling disiplin, melainkan apakah layanan publik keagamaan sebesar haji sedang bergerak ke arah tata kelola sipil yang profesional, atau justru mundur ke logika komando yang membuat negara nyaman karena seragam, tetapi rapuh karena sistemnya tidak dibenahi?

Saya mulai dari konteks yang membuat isu ini terasa sangat timely. Kuota haji Indonesia untuk 2026 ditetapkan 221.000 jemaah,”

kata Achmad pada Owrite.

Menurutnya, angka ini menegaskan bahwa haji bukan program kecil melainkan layanan publik raksasa yang mengurus jutaan detail dan melibatkan ratusan ribu warga dalam situasi padat, panas, dan berisiko.

Di saat yang sama, pemerintah menyampaikan arahan Presiden agar jumlah petugas dari unsur TNI dan Polri ditambah hingga dua kali lipat dengan alasan disiplin dan ketangguhan fisik. 

Bersamaan dengan itu, muncul wacana ekstrem di ruang publik dan parlemen tentang porsi 50 persen petugas haji dari TNI-Polri, yang memantik kritik karena dianggap memperluas fungsi tanpa dasar yang jelas dan mengaburkan batas sipil militer.  

Pertanyaannya menjadi tajam; apakah lebih banyak aparat, otomatis sama dengan layanan lebih baik? 

Atau kita sedang memakai solusi yang terlihat tegas untuk menutup persoalan yang sebenarnya ada di jantung birokrasi pelayanan?,”

ujarnya.

Analogi Rumah Sakit

Achmad pun menganalogikannya dengan rumah sakit. Di rumah sakit besar, keamanan memang dianggap sebagai aspek penting, yang terdiri dari satpam, prosedur evakuasi, serta manajemen kerumunan ketika IGD penuh. 

Tetapi kita tidak menyimpulkan, bahwa karena keamanan penting, maka separuh tenaga rumah sakit sebaiknya satpam,” ujarnya.

ucapnya.

Rumah sakit yang baik, sambung Achmad, justru membedakan dengan tegas mana fungsi keamanan dan mana fungsi pelayanan klinis. Lalu memastikan keduanya bekerja dalam satu sistem yang memprioritaskan pasien.

Haji kurang lebih begitu. Ada kebutuhan pengamanan, mitigasi risiko, dan respons cepat saat terjadi insiden,”

beber Achmad.

Kehadiran unsur keamanan untuk perlindungan jemaah, yang kerap disebut sebagai Linjam, bisa relevan bila ditempatkan pada fungsi yang tepat.

Namun ketika narasi bergeser dari penguatan perlindungan menjadi dominasi petugas atau bahkan menggantikan petugas sipil, maka kita hal itu mencampuradukkan dua dunia yang logikanya berbeda, dunia layanan publik berbasis empati dan akses, dengan dunia komando berbasis kepatuhan dan kontrol.

Di titik inilah agenda transformasi birokrasi bisa terpeleset. Transformasi birokrasi bukan mencari siapa yang paling kuat berdiri paling lama, tetapi membangun sistem yang memastikan layanan tetap baik meski orangnya berganti,”

tekannya.

Achmad pun memahami mengapa Presiden menekankan disiplin dan ketangguhan fisik. Di lapangan haji, fisik dan ketegasan prosedur memang penting, tetapi kesimpulan kebijakannya tidak boleh melompat, seolah petugas sipil berarti tidak disiplin dan tidak tangguh. 

Menurutnya, hal itu bisa saja hanya persepsi yang muncul karena pengalaman lapangan tertentu, atau karena sistem rekrutmen dan pelatihan petugas sipil memang belum rapi. Bahkan, Undang-Undang ASN justru menegaskan orientasi pelayanan sebagai nilai dasar. 

Negara sudah mendeklarasikan bahwa aparatur sipil harus berorientasi layanan, akuntabel, kompeten, adaptif, kolaboratif, dan seterusnya,”

kata Achmad.

Jadi, tambahnya, masalahnya bukan pada sipilnya, melainkan pada apakah sistem seleksi, pelatihan, penugasan, dan insentif sudah memproduksi perilaku yang negara sendiri minta.

Kalau ada petugas sipil yang kinerjanya tidak disiplin, diagnosis kebijakannya harus spesifik, apakah seleksinya longgar, apakah pelatihannya formalitas, apakah insentifnya tidak mendorong kinerja, atau apakah justru pengawasan dan evaluasinya lemah. 

Mengganti dengan aparat bisa memberi efek cepat di permukaan, tetapi membiarkan akar masalah tetap hidup. Tahun depan persoalannya akan kembali, hanya berganti bentuk,”

ungkapnya.

Risiko terbesar dari militerisasi layanan keagamaan bukan sekadar soal citra, tetapi soal perubahan paradigma.

Dalam pelayanan publik modern, ukuran keberhasilan bukan hanya ketertiban, melainkan pengalaman layanan jemaah, apakah informasi jelas, apakah keluhan ditangani tanpa intimidasi, apakah kelompok rentan merasa aman, apakah petugas mampu menenangkan konflik kecil tanpa memperbesar ketegangan.

Ketika unsur komando terlalu dominan, logika yang mudah muncul adalah yang penting tertib. Padahal jemaah bukan pasukan. 

Mereka warga negara dengan kondisi beragam, banyak yang lansia, ada yang sakit, ada yang cemas karena pertama kali ke luar negeri, ada yang kebingungan prosedur,”

paparnya.

Diungkapkan Achmad, pendekatan layanan yang baik tidak membuat warga takut salah, tetapi membuat warga merasa dipandu.

Kritik dari masyarakat sipil juga menyoroti mismatch kompetensi, pelayanan jemaah menuntut komunikasi, sensitivitas sosial, dan etika pelayanan.

Jika porsi aparat melebar ke fungsi pelayanan inti, masalah baru bisa muncul pada cara berkomunikasi dan cara menangani keluhan.

Dalam negara demokratis, batas peran itu bukan formalitas. Ia adalah pagar agar institusi tetap profesional pada mandatnya dan warga tetap mendapat layanan yang akuntabel. 

Revisi UU TNI 2025 mencantumkan tugas OMSP yang bertambah menjadi 16 jenis. Perdebatan publik muncul karena daftar tugas itu dipahami sebagai rambu bahwa peran TNI harus tetap terkait pertahanan dan dukungan pada situasi tertentu, bukan melebar menjadi operator layanan sipil sehari-hari.

Tag:HeadlineIbadah hajipetugas hajiPolriPrabowo SubiantoPresidenSpillTNI
Share This Article
Email Salin Tautan Print
iren natania longdong
ByIren Natania
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media yang meliput pemberitaan Peristiwa Nasional dan Politik.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Ilustrasi anak bersama keluarga
Hype

Psikolog: Revisi UU Perlindungan Anak Harus Menyentuh Keluarga

Psikolog Meity Arianty menyambut baik adanya revisi UU Perlindungan Anak. Namun ia menekankan revisi tersebut perlu memperluas pendekatan, tidak hanya ke anak tapi juga keluarga. Perlu diketahui, bahwa banyak kasus…

By
Syifa Fauziah
Ivan
1 Min Read
Megapolitan

BMKG: Cuaca Jakarta 8 Mei 2026 Berawan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk wilayah DKI Jakarta pada hari ini, Jumat, 8 Mei 2026. Dilansir dari laman BMKG, wilayah DKI Jakarta diprediksi akan berawan.…

By
Syifa Fauziah
Ivan
1 Min Read
Ilustrasi Darurat Kesehatan Mental
Kesehatan

Psikolog: Anak Indonesia Darurat Kesehatan Mental, Revisi UU Harus Menyeluruh

Psikolog Meity Arianty memberi tanggapan terkait wacana revisi UU Perlindungan Anak. Menurut Meity, revisi tersebut tidak hanya fokus pada aspek hukuman atau perlindungan fisik semata, tetapi juga menyentuh akar sosiopsikologis…

By
Syifa Fauziah
Ivan
2 Min Read

BERITA LAINNYA

Presiden Prabowo menggunakan “Maung” dalam kunjungan kerjanya pada KTT ke-48 ASEAN yang berlangsung pada 7-8 Mei 2026.
Nasional

Cetak Sejarah! Maung Mejeng di Filipina Jadi Tunggangan Prabowo di KTT ASEAN

Presiden Prabowo Subianto tiba di Cebu, Filipina pada Kamis, 7 Mei 2026,…

Ani Ratnasariowrite-adi-briantika
By
Ani Ratnasari
Adi Briantika
13 jam lalu
Petugas menyusun ompreng berisi makanan bergizi gratis ke dalam mobil sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Ternate di Ternate, Maluku Utara
Nasional

SPPG Masuk Kampus Tuai Kritik, Perguruan Tinggi Dinilai Terancam Kehilangan Marwah

Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan perguruan tinggi untuk mendukung…

hadi-febriansyah-owriteIvan OWRITE
By
Hadi Febriansyah
Ivan
16 jam lalu
Kapolri Sigit mengatakan ada fenomena celah hukum baru akibat eskalasi global saat ini.
Nasional

Kapolri Ingatkan Bareskrim Antisipasi Modus Kejahatan Transnasional Baru

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkap banyak modus baru bermunculan akibat dinamika…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteowrite-adi-briantika
By
Rahmat
Adi Briantika
16 jam lalu
Kepala Badan Intelijen Srategis (Kabais) TNI, Letjen Robi Herbawan
Nasional

Profil Roby Herbawan, Kabais Pengganti Letjen Yudi Abrimantyo

Teka-teki siapa yang menjabat Kepala Badan Intelijen Srategis (Kabais) TNI akhirnya terjawab.…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteAmin Suciady
By
Rahmat
Amin Suciady
16 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up