Anjloknya Kereta Api (KA) Bangunkarta (KA 161) di jalur hulu emplasemen Stasiun Bumiayu, Jawa Tengah, menjadi sorotan terhadap kualitas dan standar maintenance PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Selama perkembangannya dalam 10 tahun terakhir, KAI tidak hanya merubah wajah, yang awalnya ‘kumuh dan kotor’ tetapi berhasil mendirikan citra sebagai transportasi umum yang bersih dan tepat waktu.
Meski demikian, permasalahan KAI tidak hanya seputar menjaga kebersihan dan ketepatan waktu, namun harus mempertahankan standar pemeriksaan rutin yang mumpuni.
Pasalnya, menurut Pengamat Transportasi dari Universitas Unika Djoko Setijowarno, mempertahankan kualitas yang sudah terbangun sejak 10 tahun terakhir bukan perkara mudah.
Menurut Djoko, PT KAI juga jangan berpuas hati dengan kinerja dan kualitas yang saat ini telah dibangun. Seharusnya, perhatian pada kualitas maintenance harus diperhatikan dari tahun ke tahun.
Menurut catatan PT KAI saja, mobilitas masyarakat selama 1 bulan, contohnya pada angkutan Lebaran 2026, mencapai 32.460.915 pelanggan pada periode 11 Maret hingga 1 April 2026.
Angka itu meningkat 10,76 persen jika dibandingkan dengan periode Lebaran 2025 sebanyak 29.308.636 pelanggan sekaligus menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Artinya, kepercayaan masyarakat pada PT KAI masih terbilang tinggi meskipun banyak mengalami gangguan. Djoko pun menekankan agar PT KAI tidak menurunkan standar kualitasnya, namun harus menjaga kualitas.
Tantangan Kereta Api 10 tahun yang lalu dengan yang sekarang berbeda. 10 tahun yang lalu tuh dia berusaha merubah wajahnya yang dari lusuh, kesannya kotor, sekarang menjadi lebih baik. Dan itu Alhamdulillah berhasil dan bisa menjadi tolak ukur atau percontohan untuk transportasi lainnya,”
kata Djoko saat dihubungi Owrite, Rabu 8 April 2026.
Namun kan tidak berhenti di situ. Setelah dia sudah berhasil, pasti ada hal-hal lainnya juga akan menanti. Artinya ini tantangan yang harus dihadapi,”
tambahnya.
Djoko pun mengkritik jeda waktu perbaikan dan pemeriksaan kereta, yang mungkin jauh lebih singkat dari yang seharusnya.
Jalur kereta yang mungkin dekat dengan pemukiman sehingga memunculkan lendir-lendir sampah yang dapat membahayakan perjalanan kereta.
Kemungkinan lainnya kereta anjlok adalah masinis, yang menurut Djoko bisa saja kurang mendapatkan istirahat yang cukup.
Ketika perjalanan kereta, dulu kecepatannya maksimal kereta itu 90 km/jam itu sudah bagus. Ternyata mereka perbaiki truknya, dibagusin, materialnya juga (dibagusin). Kalau jalan lurus dia bisa dengan kecepatan 120 km/jam, yang dulunya gak kebayang, sekarang bisa, yang akhirnya pengguna ini senang, dan PT KAI menambah frekuensi. Ketika menambah frekuensi ini, perlu diperhatikan kereta itu,”
ungkap Djoko.
Perjalanan sampai Jakarta jam 10 malam, kemudian jam 10.30 berangkat lagi, waktu jeda itu digunakan untuk memeriksa, periksa kondisi. Kalau anjlok pasti dekat dengan stasiun, itu perlu dilihat aspek-aspeknya, kondisi tracknya kalau di perkotaan sering yang terjadi itu sampah. Lendir-lendir sampah itu mengganggu juga, makanya gak boleh (jalur) dekat pemukiman, pemukiman padat itu berpengaruh juga,”
paparnya.
Lebih jauh, Pakar Transportasi itu juga mendesak PT KAI untuk melihat rekomendasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Biasanya, jika KNKT terlibat, masalah yang terjadi di transportasi umum dapat diatasi.
Kadang, KNKT ini mesti turun. Nah kalau KNKT turun, nanti kita tunggu hasilnya, dan kalau KNKT itu cepat, karena mereka sudah terbiasa dan cepat merespons. Ini kan ujung-ujungnya untuk pelayanan kan? kalau terjadi hambatan-hambatan gitu, itu juga secara ekonomi merugikan juga,”
ungkapnya.
Meski demikian, PT KAI tetap mendapat kepercayaan lebih dari masyarakat. Terlepas dari hambatan yang terjadi berulang kali, ketepatan waktu dan pelayanan transportasi tersebut masih lebih unggul daripada transportasi lainnya.
Mereka (masyarakat) masih melihat kereta itu masih kecil lah kecelakaan dan sebagainya. Mereka masih cenderung percaya karena kelebihannya itu tepat waktu, pelayanannya bagus, yang meninggal juga dikatakan minim, kecuali kecelakaan-kecelakaan perlintasan, itu bukan masuk kategori kecelakaan Kereta Api,” tambahnya.
ujarnya.
Insiden anjloknya KA Bangunkarta menjadi pengingat bahwa keberhasilan transformasi PT KAI dalam satu dekade terakhir tidak boleh membuat lengah terhadap aspek fundamental seperti keselamatan dan kualitas perawatan.
Tingginya kepercayaan publik dan lonjakan jumlah penumpang justru harus diimbangi dengan standar maintenance yang semakin ketat, pemeriksaan yang konsisten, serta evaluasi menyeluruh terhadap faktor teknis maupun operasional.
Dengan demikian, PT KAI tidak hanya mampu mempertahankan citra positifnya, tetapi juga memastikan layanan transportasi yang aman dan berkelanjutan di tengah meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat.



