Isu kenaikan harga plastik ramai diperbincangkan. Kenaikan harga plastik disebabkan terjadinya perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS)-Israel, yang membuat harga bahan baku plastik yang berasal dari fosil mengalami kenaikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Februari 2026 Indonesia melakukan impor barang dari plastik atau HS 39 dari sejumlah negara. Pada bulan tersebut impor mencapai US$873,2 juta.
Di tengah ramainya isu kenaikan harga plastik, dosen Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Rizkiy Amaliyah Barakwan ST justru hal ini menjadi momen yang baik dari perspektif lingkungan.
Wadah yang ramah lingkungan memiliki biodegradabilitas tinggi, dapat terdekomposisi dalam hitungan minggu, sehingga mengurangi pencemaran lingkungan. Penggunaan ini lebih baik karena meninggalkan jejak karbon lebih rendah dan mendukung ekonomi sirkular, seperti petani daun pisang serta produsen kertas daur ulang,”
ujar Rizkiy dalam keterangan resminya seperti dikutip pada Senin, 13 Maret 2026.
Rizkiy melihat ada sisi positif ketika harga plastik naik, yakni bisa meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat.
Saat ini banyak terlihat di media sosial, ajakan UMKM yang mulai beralih ke kemasan ramah lingkungan menjadi viral.
Hal ini juga dapat mendorong perubahan perilaku pasar yang dimana konsumen mulai terbiasa dengan kemasan non-plastik.
Ini penting karena sustainability tidak hanya digerakkan oleh regulasi, tetapi juga oleh permintaan pasar. Mendorong munculnya inovasi kemasan berbasis bahan lokal dibandingkan impor. Lonjakan harga plastik justru membuka peluang keluar dari ‘ketergantungan struktural’ terhadap material berbasis fosil,”
tambah Rizkiy.
Meski demikian, hal itu juga harus didukung dengan standarisasi dan dan edukasi terkait higienitas, keamanan pangan, pemilihan pangan, dan dukungan kebijakan pemerintah dalam memperluas praktik ramah lingkungan. Misalnya insentif untuk UMKM yang beralih ke kemasan ramah lingkungan.
Lebih lanjut Rizkiy mengatakan fenomena ini dapat mendukung ketercapaian pada SDGs 8, 11, 12, 14, dan 15. Kunci agar pencapaian SDG dapat berkontribusi secara optimal diperlukan edukasi konsumen dan pelaku usaha agar tidak sekedar mengganti bahan, tetapi juga memahami pengelolaan limbah.
Selain itu, inovasi sistem pengolahan dibutuhkan supaya bahan biodegradable dapat benar-benar kembali ke lingkungan, dan pendekatan life cycle thinking yaitu memastikan solusi tidak menimbulkan dampak baru.
Masyarakat sebaiknya mengurangi, gunakan ulang, dan ganti dengan alternatif dari plastik yang lebih ramah lingkungan. UMKM dan pelaku usaha juga diimbau untuk terapkan opsi tanpa kemasan. Misalnya, memberikan diskon jika pelanggan membawa wadah sendiri, menggunakan sistem refill atau isi ulang, dan transparan kepada konsumen jika ada biaya tambahan akibat kenaikan harga,”
tambahnya.



