Pengamat pendidikan, Itje Chodijah mengaku prihatin dengan kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).
Ia menyebut kejadian ini merupakan cerminan kehancuran moral yang dialami anak-anak muda.
Itje melihat para mahasiswa tersebut merupakan lulusan dari sekolah-sekolah favorit yang secara akademik tidak kekurangan apa pun.
Namun, hal itu justru bisa menjadi bumerang bagi mereka.
Sejak SMA mereka sudah di sekolah top, kemudian diterima di kampus top, yang artinya secara akademik tidak ada kekurangannya. Tetapi justru mungkin ini adalah bumerang. Karena anak-anak ini secara moral dan karakter terus-menerus menjadi anak superior. Sehingga melihat hidup ini, kalau saya superior, saya bisa melakukan banyak hal terhadap orang lain,”
ujar Itje kepada Owrite.id, Rabu, 15 April 2026.
Itje menambahkan, para pelaku diduga sudah terbiasa dianggap keren, matang, unggul, dan superior dalam berbagai hal. Sehingga mereka memandang perilaku yang dilakukan sebagai sesuatu yang biasa saja.
Menurut Itje, kejadian ini merupakan wake up call bagi semua pihak untuk melihat bahwa ada yang salah dalam pola pandang masyarakat terhadap pendidikan.
Pendidikan tidak bisa hanya dinilai dari kemampuan seseorang dalam meraih angka-angka prestasi semata.
Tetapi pendidikan adalah tentang membangun manusia secara utuh. Nah, ini yang barangkali perlu menjadi perhatian kita bersama, baik bagi pelaku pendidikan yang berada langsung di sekolah maupun para pembuat kebijakan. Karena kebijakan juga berpengaruh terhadap kehidupan pendidikan,”
jelasnya.
Lebih lanjut, Itje mengatakan hakikat mendidik adalah membangun manusia seutuhnya, bukan sekadar membentuk anak-anak yang berorientasi pada angka dan merasa unggul karena kepintaran akademik semata.
Ini yang menurut saya harus menjadi perhatian kita semua. Tidak boleh lengah lagi kita,”
tandasnya.


