Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman membantah narasi yang menyebut Presiden RI, Prabowo Subianto pernah ditolak saat hendak berkunjung ke Italia.
Menurutnya, informasi tersebut tidak berdasar dan bertentangan dengan mekanisme diplomatik yang berlaku dalam kunjungan kenegaraan.
Dudung menegaskan kunjungan Presiden ke luar negeri tidak dilakukan secara mendadak. Seluruh agenda telah melalui proses komunikasi dan persiapan jauh hari dengan negara tujuan.
“Oh tidak ada, saya tidak mendengar. Kalau presiden ke negara-negara itu seminggu sebelumnya tuh sudah direncanakan, bahkan sebulan. Nggak mungkin dong, ‘eh kita ke sini’. Nggak mungkin,”
kata Dudung kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.
Ia menjelaskan, setiap kunjungan kepala negara selalu diawali koordinasi diplomatik antarpemerintah. Karena itu, menurutnya, hampir tidak mungkin terjadi penolakan terhadap kunjungan resmi Presiden RI yang sudah dijadwalkan.
“Enggak ada istilah ditolak saya rasa ya. Presiden kita sangat baik hubungan bilateralnya dengan beberapa negara luar, sangat diterima,”
tegasnya.
Pesan Dudung untuk Masyarakat
Dudung meminta masyarakat tidak termakan spekulasi tersebut dan memahami bahwa kunjungan luar negeri Presiden dilakukan untuk kepentingan strategis Indonesia.
Menurutnya, Prabowo tengah menjalankan berbagai agenda strategis yang berkaitan dengan kondisi ekonomi global, kerja sama bilateral, hingga isu pertahanan.
“Banyak hal yang strategis. Nggak bisa disampaikan di sini dong, bahwa antara pembicaraan bapak presiden berbicara masalah pertahanan negara, masalah ekonomi dan sebagainya, kan banyak yang dibicarakan,”
ujarnya.
Dudung pun memastikan hubungan Indonesia dengan negara-negara mitra, termasuk di Eropa, berjalan baik. Karena itu, ia menilai isu penolakan terhadap Presiden Prabowo tidak memiliki dasar yang kuat dan tidak sesuai dengan fakta diplomatik yang ada.
Bakom Ikut Membantah
Adapun sebelumnya beredar di media sosial bahwa kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ditolak saat ke Roma, Italia lantaran tidak ada pejabat yang menerima.
Hal itu langsung dibantah oleh Kepala Bakom Muhammad Qodari. Ia menegaskan bahwa narasi tersebut sama sekali tidak benar. Sejak awal, agenda resmi Kepala Negara memang hanya dijadwalkan untuk mengunjungi Prancis.
“Sejak awal tidak ada statement pemerintah RI bahwa Presiden akan ke Italia. Jadwal resmi memang hanya ke Prancis,”
kata Qodari dalam klarifikasi resminya.


