Sinyal terakhir yang terdeteksi dalam pencarian kapal yang membawa lima jurnalis dan tiga kru berada di sekitar Pulau Sebesi.

Namun, setelah ditindaklanjuti dan ditelusuri oleh tim SAR, sinyal tersebut belum menemukan titik terang mengenai keberadaan korban maupun kapal yang hilang.

Sudah, sudah ditindaklanjuti, dan sudah ditelusuri, nihil,”

kata Gubernur Banten Andra Soni di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 15 September 2026.

Andra menjelaskan informasi mengenai sinyal terakhir di sekitar Pulau Sebesi sudah ditelusuri oleh tim terkait. Namun, penelusuran itu tak menemukan keberadaan yang berkaitan dengan kapal hilang.

Meski jadi titik terakhir sinyal terdeteksi, penelusuran di sekitar Pulau Sebesi belum membuahkan hasil.

Kondisi itu membuat pencarian terus dilakukan di wilayah yang lebih luas. Hingga hari kedelapan, tim SAR masih menyisir sejumlah sektor untuk mencari keberadaan lima jurnalis, dua anak buah kapal (ABK), dan satu pemandu kapal.

Andra menyampaikan wilayah pencarian yang dilakukan tim SAR sangat luas. Pembagian sektor dilakukan untuk memperbesar peluang menemukan korban maupun petunjuk mengenai keberadaan kapal.

Ya mereka membagi beberapa sektor ya. Bahkan mereka juga sampai ke perairan Samudera, dan sebagainya,”

ujarnya.

Pencarian tak hanya dilakukan oleh unsur SAR di Banten. Tim juga berkoordinasi dengan sejumlah unsur di wilayah lain yang berada di sekitar area pencarian.

Menurut Andra, koordinasi itu antara lain dilakukan dengan SAR Lampung, Polda Lampung, dan Pangkalan Angkatan Laut Lampung. Langkah itu dilakukan karena cakupan pencarian telah melebar ke wilayah perairan yang luas.

Selama tujuh hari pertama operasi, tim SAR juga menemukan sejumlah material atau objek di lokasi pencarian. Namun, setelah dilakukan konfirmasi kepada pihak terkait, seluruh temuan tersebut dipastikan tidak berkaitan dengan kapal yang hilang.

Yang kemudian seluruh objek yang ditemukan tersebut dikonfirmasi oleh pihak terkait bahwa itu tidak ada kaitan dengan kapal yang hilang tersebut,”

kata Andra.

Petunjuk lain muncul dari dua temuan mayat di lokasi berbeda. Satu jasad ditemukan di perairan atau muara Sungai Terate, Kabupaten Serang.
Namun, jasad itu sudah dikonfirmasi bukan bagian dari penumpang kapal yang tengah dicari.

Dan, terkonfirmasi itu tidak dari bagian dari tujuh atau delapan penumpang dari kapal tersebut,”

ujar Andra.

Jasad kedua ditemukan di sekitar perairan Pulau Enggano, Bengkulu. Jasad tersebut telah dievakuasi dan dibawa ke Polda Bengkulu untuk menjalani proses pencocokan DNA.

Andra mengatakan hasil pencocokan DNA tersebut belum diketahui. Pemerintah Banten masih menunggu informasi dari pihak kepolisian untuk memastikan identitas jasad yang ditemukan di Enggano.

Nah, saat ini mayat telah dievakuasi dan dibawa ke Polda Bengkulu. Dan, sedang proses pencocokan DNA. Dan informasi sedang kita tunggu,”

katanya.

Pencarian juga menghadapi tantangan kondisi alam. Andra menyebut erupsi yang masih terjadi, asap dan debu dari kawah, hingga kondisi ombak yang terkadang tinggi menjadi kendala bagi tim SAR di lapangan.

Ditambah kadang-kadang ombaknya juga tinggi dan sebagainya. Tapi, melihat cover area yang dilaksanakan, ini sangat luas sekali,”

tutur Andra.

Meski sejumlah petunjuk yang muncul belum memberikan hasil, Andra meminta setiap informasi dari masyarakat tetap ditindaklanjuti. Ia menilai informasi sekecil apa pun dapat membantu proses pencarian.

Apapun, sekecil apapun informasi dapat ditindaklanjuti,”

kata Andra.

Operasi pencarian sendiri telah diperpanjang tiga hari setelah keluarga meminta agar pencarian tetap dilanjutkan. Andra menyerahkan teknis pencarian kepada Basarnas, termasuk penentuan sektor yang akan menjadi fokus tim selama operasi tambahan tersebut.