Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meluruskan mengenai peran guru sebagai pengawas makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
Hal ini ia sampaikan dalam Webinar Literasi Gizi bagi Kepala Sekolah bertajuk “Peran Kepemimpinan Sekolah dalam Menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)” yang disiarkan melalui kanal YouTube BGN, Selasa, 15 September 2026.
Sudaryono menegaskan guru tidak diminta mencicipi MBG untuk mengetahui apakah makanan aman dikonsumsi atau tidak, karena tugas tersebut sudah dilakukan dalam beberapa tahap oleh chef, ahli gizi, petugas pengemasan, dan PIC sekolah.
“Makanan yang tersaji sampai dengan sekolah itu sudah (dicicip) oleh chef pada saat makanan masak. (Pun) sudah (dicicip) ahli gizi sebelum dikemasi,”
kata Sudaryono dikutip dari YouTube BGN pada Rabu, 16 September 2026.
Makan Bareng
Dia bilang perintah guru sebagai pencicip yakni guru makan bersama siswa sekaligus memeriksa kondisi makanan sebelum dikonsumsi, termasuk bau, kemungkinan basi, label pada ompreng, dan batas waktu konsumsi.
“Manakala dirasa tidak aman, maka kami minta guru untuk menyetop. Jadi enggak boleh dimakan,”
ujar dia.
Tak hanya itu, Sudaryono juga menekankan pentingnya waktu konsumsi MBG. Sejumlah kejadian terkait program tersebut, siswa keracunan misalnya, berkaitan dengan waktu konsumsi yang tidak sesuai dengan ketentuan.
Karena itu ia meminta setiap ompreng yang diterima sekolah harus memiliki label waktu konsumsi yang jelas. Jika tidak berlabel, makanan tersebut tidak boleh dibagikan kepada siswa.
“Jam 10, jam 11.00 kah, jam 12.00 kah? Itu ditempel di situ,”
ujar Sudaryono.
Ia juga meminta kepala sekolah melaporkan layanan MBG yang tidak sesuai standar. Sudaryono mrngklaim saat ini BGN tengah memperbaiki tata kelola layanan dan membutuhkan umpan balik dari sekolah.
Salah satu mekanisme yang dikembangkan adalah aplikasi untuk memungkinkan kepala sekolah memberikan penilaian dan catatan terhadap dapur yang melayani sekolah, termasuk terkait menu, keterlambatan, dan pelayanan.





