Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menjadi perhatian publik. Salah satu persoalan yang membuat program tersebut terus diperbincangkan adalah munculnya sejumlah kasus keracunan yang dialami siswa di berbagai wilayah.

Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), total korban keracunan yang dikaitkan dengan MBG mencapai 43.838 orang.

Rinciannya terdiri dari 28.103 korban sepanjang 2025 dan 15.735 korban pada periode Januari hingga awal September 2026.

Jumlah tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai pelaksanaan program, termasuk proses penyediaan dan distribusi makanan kepada para siswa.

Di tengah berbagai sorotan tersebut, seorang guru di salah satu sekolah di Kota Depok menceritakan pengalamannya selama program MBG berjalan di sekolah.

Menurutnya, sejumlah persoalan memang sempat muncul ketika program baru diterapkan. Kendala tersebut antara lain berkaitan dengan mekanisme distribusi serta waktu makanan tiba di sekolah.

Namun, ia melihat kondisi tersebut perlahan mengalami perbaikan.

Kalau kendala sendiri ada di awal-awal saja, karena kan memang baru MBG ini. Cara pendistribusiannya dan waktunya, tapi sekarang sudah mulai teratasi,”

kata salah satu guru kepada owrite.id, Kamis, 17 September 2026.

Tidak Habis Dikembalikan

Guru tersebut juga menjelaskan mengenai makanan yang tidak dihabiskan oleh siswa. Apabila ada makanan yang tersisa atau tidak dikonsumsi, makanan tersebut akan dikembalikan kepada SPPG yang bertugas mengantarkan MBG.

Untuk MBG memang kalau ada yang tidak habis dikembalikan ke SPPG-nya. Anak-anak itu beberapa memang kadang ada yang habis ada yang tidak,”

ujarnya.

Jenis menu disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat siswa untuk menghabiskan makanan yang diberikan.

Tergantung menu yang didapat dari SPPG-nya. Biasanya yang habis itu menu seperti chicken katsu dan dimsum. Kalau menu seperti telur jarang habis anak-anak,”

tambahnya.

Pandangan Berbeda soal MBG

Program MBG juga mendapatkan tanggapan beragam dari orang tua siswa. Sebagian menilai program tersebut memberikan manfaat karena dapat membantu mengurangi pekerjaan orang tua dalam menyiapkan makanan untuk anak.

Salah satu orang tua, Anggun, mengaku merasakan manfaat tersebut sejak program MBG diterapkan.

Dari pertama program MBG sebenarnya ini sangat membantu saya pribadi. Karena memang membuat pekerjaan di rumah menjadi lebih cepat,”

ujar Anggun.

Meskipun kasus keracunan MBG menjadi perhatian, Anggun mengaku sejauh ini tidak merasa khawatir memberikan makanan tersebut kepada anaknya.

Ia menilai kualitas makanan juga berkaitan dengan SPPG yang menjadi penyedia program. Menurutnya, pihak sekolah memiliki peran dalam memastikan penyedia MBG yang digunakan.

Kalau ketakutan terhadap keracunan MBG sendiri saya tidak ya. Karena ini kan tergantung dari SPPG-nya juga. Selama ini sih aman-aman saja,”

tambahnya.

Menyiapkan Bekal

Pandangan berbeda disampaikan Nur, orang tua siswa lainnya. Ia mengatakan anaknya selama ini tidak pernah mengonsumsi makanan yang diberikan melalui program MBG.

Menurut Nur, anaknya lebih menyukai makanan yang dibawa dari rumah sehingga ia memilih menyiapkan bekal setiap pagi.

Selama dapat MBG, anak saya tidak pernah ambil, karena memang menunya tidak sesuai dengan selera yang dia mau. Anak saya itu lebih memilih membawa bekal sendiri,”

kata Nur.

Kasus keracunan yang muncul di sejumlah daerah juga menjadi salah satu pertimbangan Nur dalam menentukan makanan yang dikonsumsi anaknya.

Karena ada kasus MBG keracunan juga yang semakin banyak, ya jadi saya lebih memilih untuk menyiapkan makanan untuk anak saya,”

tambahnya.

Pengalaman guru dan orang tua tersebut menunjukkan adanya pandangan yang berbeda terhadap pelaksanaan MBG. Ada yang merasakan manfaat karena membantu kebutuhan makanan siswa sekaligus meringankan aktivitas orang tua, sementara sebagian lainnya memilih menyiapkan makanan sendiri.

Di sisi lain, munculnya kasus keracunan membuat aspek keamanan makanan menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan program MBG.

Evaluasi terhadap distribusi, menu, serta kualitas makanan menjadi bagian penting untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan.