Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membutuhkan bahan pangan dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan makanan penerima manfaat. Dampak penyerapan turut dirasakan oleh pedagang kecil di pasar tradisional yang mengaku kesulitan mendapatkan stok komoditas.

Sulastri, pedagang sayuran di Pasar Induk Kecil Kramat Jati, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, mengatakan sejumlah bahan pangan kini lebih sulit diperoleh. Ia telah berjualan di pasar tersebut selama lebih dari enam tahun dengan menjual berbagai komoditas, mulai dari cabai, timun, daun bawang, kentang, labu, pare hingga terong.

Kepada Owrite.id, 16 September 2026, Sulastri mengatakan stok sayuran mulai terasa berbeda dalam beberapa waktu terakhir.

Stok Sulit

Sulastri mengatakan beberapa komoditas seperti kacang merah, wortel dan labu lebih sulit diperoleh, lantaran agen di pasar induk cenderung memilih pembeli yang mengambil bahan pangan dalam jumlah besar.

Sementara itu, pedagang kecil seperti dirinya biasanya hanya membeli bahan pangan dalam jumlah sekitar 10 hingga 20 kilogram dalam sekali belanja. Adapun pembeli untuk kebutuhan MBG, menurut informasi yang diterimanya, dapat mengambil bahan dalam jumlah sekitar 50 hingga 100 kilogram.

Harga Bahan Pangan Naik

Selain persoalan stok, Sulastri juga merasakan harga beberapa komoditas naik lebih dari dua kali lipat dalam beberapa waktu belakangan.

Harga cabai yang sebelumnya sekitar Rp25.000, kini dapat mencapai Rp55.000; labu siam yang bisa ditebus sekitar Rp2.000 naik menjadi Rp5.000; bawang yang biasanya di kisaran Rp5.000-Rp7.000, kini menyentuh Rp12.000-Rp15.000.

Kenaikan harga tersebut ia kira tidak sepenuhnya karena dibutuhkan untuk pengolahan menu MBG. Ia juga menyebut kondisi cuaca yang panas dan gangguan produksi sebagai faktor lain yang dapat memengaruhi pasokan. Berdasar informasi yang ia terima dari agen, cuaca ekstrem berdampak terhadap hasil panen komoditas, termasuk cabai.

“Selain MBG, menurut saya pengaruh cuaca di Jakarta ini yang sangat-sangat panas juga jadi penyebab kenaikan harga bahan,” 

ujar Sulastri

Perubahan Harga dan Stok

Pengalaman serupa disampaikan Ihsan, yang membantu usaha warung sayur keluarga sejak 2018. Ia bukan pedagang langsung di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, tetapi rutin membeli sayur dan bahan pangan di pasar tersebut untuk dijual kembali di tokonya.

Ihsan mengatakan perubahan harga bahan pangan berlangsung dinamis. Menurutnya, harga sejumlah komoditas dapat berubah dalam hitungan hari, tergantung pasokan, musim, hasil panen, harga bahan bakar, dan permintaan pasar.

Beberapa komoditas yang menurut pengamatannya sempat merangkak naik antara lain buncis, labu siam, cabai dan ayam. Harga ayam, misalnya, yang sebelumnya sekitar Rp30.000 per kilogram sempat mencapai Rp45.000 atau lebih.

Saat MBG Berjalan

Ihsan juga mengatakan pernah melihat pembelian bahan pangan dalam jumlah besar yang ditujukan untuk kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Merujuk pengamatannya, terdapat perubahan harga pada beberapa komoditas ketika kegiatan MBG berhenti sementara karena libur sekolah.

“Ketika MBG libur stok banyak harga murah, tapi ketika MBG mulai lagi, harga mulai naik,”

 ujar Ihsan kepada Owrite.id, Kamis, 17 September 2026.

Meski demikian, Ihsan menganggap perubahan harga tidak dapat hanya dikaitkan dengan MBG. Ada faktor lain yang memengaruhi seperti kondisi pasokan, musim, hasil panen, harga bahan bakar, dan permintaan pasar.

BGN Wajibkan Survei Harga

Di sisi lain, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menetapkan mekanisme pemantauan harga bahan pangan untuk kebutuhan MBG. Dalam keterangan resmi pada 22 Januari 2026, BGN menyatakan survei harga pasar bahan pangan MBG wajib dilakukan secara rutin setiap minggu di daerah.

Survei tersebut menjadi dasar perencanaan belanja bahan pangan agar pengadaan menyesuaikan kondisi harga dan ketersediaan di pasar lokal. BGN menyebut pemantauan dilakukan untuk menjaga kewajaran harga sekaligus mencegah pengadaan bahan pangan menimbulkan tekanan terhadap pasar setempat.

Kebijakan tersebut menjadi penting ketika kebutuhan bahan pangan MBG dilakukan dalam jumlah besar. Di tingkat pedagang kecil, seperti yang dialami Sulastri, persoalan yang muncul bukan hanya mengenai harga, tetapi juga akses terhadap stok.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme pengadaan bahan pangan MBG diterapkan di tingkat pasar dan pembelian dalam jumlah besar memengaruhi ketersediaan bahan pangan bagi pedagang kecil serta konsumen rumah tangga.