Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menilai keberhasilan kebijakan Kegiatan Kepanduan dan Kepramukaan serta Bela Negara (KKRI) tak bisa hanya diukur dari kepatuhan formal peserta didik.
Koordinator Advokasi Sekretariat Nasional JPPI Ari Hardi mengatakan kemampuan siswa mengikuti instruksi, berdiri dalam barisan, mengenakan seragam secara rapi, hingga menyelesaikan latihan fisik tak otomatis menunjukkan terbentuknya kesadaran bela negara.
Ukuran keberhasilan jangan hanya dilihat dari seberapa patuh siswa mengikuti instruksi, berdiri dalam barisan, atau menyelesaikan latihan fisik. Itu belum tentu menunjukkan bahwa kesadaran bela negara sudah terbentuk,”
kata Ari kepada Owrite Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurutnya, kesadaran kebangsaan merupakan proses pendidikan yang lebih kompleks. Hal itu berkaitan dengan kemampuan peserta didik memahami tanggung jawab sebagai warga negara, menghargai perbedaan dan hak orang lain.
Selain itu, berpartisipasi dalam kehidupan sosial serta mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan etis.
Karena itu, Ari minta pemerintah agar menggunakan indikator yang lebih substantif dalam mengevaluasi pelaksanaan KKRI.
Evaluasinya harus melihat perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa yang memang relevan dengan kesadaran sebagai warga negara,”
kata Ari.
Ari menyebut sejumlah aspek yang perlu diukur seperti pemahaman siswa terhadap konstitusi dan nilai-nilai demokrasi, kemampuan berdialog.
Selain itu, toleransi terhadap kelompok yang berbeda, kepedulian sosial, serta kemampuan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Lebih lanjut, Ari berpendapat suara peserta didik juga harus jadi bagian dari evaluasi. Pemerintah perlu mengetahui apakah siswa merasa dihargai, memiliki ruang untuk menyampaikan kritik, dan merasa aman ketika menolak perlakuan yang dinilai tidak sesuai.
Pendidikan karakter tidak bisa dinilai secara utuh hanya dari pengamatan pihak yang memegang otoritas. Kita juga perlu mendengar pengalaman dan suara peserta didik,”
ujar Ari.
Ari menyampaikan kepatuhan dan kesadaran merupakan dua hal yang berbeda. Kepatuhan bisa muncul karena tekanan, kewajiban, atau instruksi.
Sementara, kesadaran membutuhkan proses memahami, mengalami, merefleksikan, dan memilih tindakan secara bertanggung jawab.
Kesadaran membutuhkan pemahaman, pengalaman, refleksi, dan kebebasan untuk memilih tindakan yang bertanggung jawab. Jadi, siswa yang patuh belum tentu berarti siswa tersebut sudah memiliki kesadaran bela negara,”
ujar Ari.






