Pakar Oseanografi IPB University Prof Agus Saleh Atmadipoera menganalisis kemungkinan pergerakan kapal dan jasad korban yang terbawa arus laut dari kawasan Selat Sunda hingga Pulau Enggano.

Menurut Prof Agus, kondisi arus laut yang cukup kuat pada September menjadi salah satu faktor penting yang dapat menjelaskan pergerakan objek terapung di wilayah tersebut.

Ia menjelaskan, kapal yang mengalami masalah hingga mesinnya mati akan mengikuti kondisi laut, sehingga posisinya tidak lagi berada di titik terakhir saat kapal tersebut terlihat.

Kapal itu dianggap mesinnya mati, jadi objek yang terapung. Posisi terakhir pasti tidak fixed karena terbawa arus,”

ujar Agus dalam keterangannya yang dikutip pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

Objek ke Arah Enggano

Berdasarkan pemodelan dinamika laut pada September, Agus memperkirakan arus di kawasan Selat Sunda bergerak cukup kuat ke arah barat laut menuju perairan Pulau Enggano.

Begitu keluar Selat Sunda, arus sedang kencang-kencangnya dari arah timur, tertarik sampai ke Enggano. Tanggal 7 sampai 12 itu perkiraannya kapal sudah terbawa arus ke Enggano,”

jelas Agus.

Dalam waktu sekitar dua hari setelah berlayar dari kawasan sekitar Krakatau, objek yang terapung diperkirakan mulai memasuki wilayah Samudra Hindia.

Sementara itu, penemuan jasad korban pada hari ke-12 menjadi salah satu petunjuk yang dapat memperkuat dugaan bahwa objek maupun korban terbawa mengikuti pola arus laut tersebut.

Namun, Agus menjelaskan jalur pergerakan objek dapat berbeda, bergantung pada posisi awal kapal ketika berada di transek Selat Sunda.

Jika kapal berada di sisi utara Selat Sunda, objek diperkirakan dapat terbawa arus secara langsung menuju Pulau Enggano.

Sebaliknya, apabila kapal berada di sisi selatan yang berbatasan dengan kawasan Krakatau, terdapat dua sumbu arus yang dapat membuat pola pergerakan objek menjadi lebih berputar.

Teknologi Pemetaan Satelit

Untuk mendukung pencarian kapal maupun korban lainnya, Agus mengatakan IPB University siap berkolaborasi dengan tim pencarian melalui pemanfaatan teknologi pemetaan satelit.

Bisa berkolaborasi dengan IPB, ada fasilitas untuk pemetaan 12 satelit beresolusi tinggi untuk mendeteksi kapal-kapal yang ada di sekitaran Selat Sunda dan Krakatau,”

ungkapnya.

Menurutnya, pemantauan sebelumnya sempat menghadapi kendala akibat tutupan awan. Meski demikian, pemantauan secara berkala tetap akan diupayakan untuk membantu mempersempit wilayah pencarian.

Agus juga menyarankan agar tim gabungan SAR dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menjadikan pola pergerakan arus sebagai salah satu acuan dalam menentukan probability search area.

Dengan mempertimbangkan arah dan kekuatan arus, wilayah pencarian diharapkan dapat dipetakan secara lebih terarah sehingga upaya pencarian kapal dan korban dapat dilakukan pada area yang memiliki kemungkinan lebih besar.

Selain pemanfaatan teknologi, koordinasi dengan nelayan lokal yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda hingga Enggano juga dinilai penting.