Menurut Fu, cuaca kering akibat El Nino membuat kebakaran hutan semakin sulit dipadamkan. Kondisi angin yang tak menguntungkan juga memperburuk kualitas udara Singapura selama sepekan terakhir.
Berdasarkan data indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI), pada Jumat, 9 Oktober 2026 kualitas udara di Singapura mencapai angka 192. Angka itu jadi yang tertinggi sepanjang 2026 dan mendekati kategori sangat tidak sehat, yakni PSI 201-300.
Melansir dari The Straits Times, kualitas udara masih berada dalam kategori tak sehat. Pukul 09.00 waktu setempat, PSI tercatat 174 di wilayah tengah, 160 di wilayah barat, 156 di wilayah timur, 135 di wilayah selatan, dan 124 di wilayah utara.
Fu memperingatkan kualitas udara berpotensi memburuk meski hujan diperkirakan turun selama akhir pekan. Ia menyebut angka PSI dapat melampaui 200 sehingga memasuki kategori sangat tidak sehat.
Kami sangat mengkhawatirkan kondisi masyarakat, terutama kelompok yang lebih rentan,”
ujarnya.
Kabut asap yang menyelimuti Singapura berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan. Pembukaan lahan menggunakan api jadi salah satu pemicu kebakaran.
Sementara, lahan gambut yang mengering membuat api dapat bertahan selama berminggu-minggu dan sulit dipadamkan.
Singapura dan Indonesia sebelumnya menandatangani kesepakatan kerja sama lingkungan pada Juni 2026, termasuk penanganan polusi lintas batas. Kedua negara juga bahas pertukaran informasi peringatan dini serta dukungan terhadap pusat koordinasi ASEAN untuk pengendalian pencemaran asap lintas batas yang akan beroperasi di Indonesia.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Singapura menyiapkan pembagian masker N95 bagi kelompok yang memenuhi kriteria ketika PSI mencapai kategori sangat tidak sehat. Pemerintah juga bisa mengaktifkan ruang berpendingin udara di sejumlah fasilitas komunitas sebagai tempat berlindung sementara bagi warga dari paparan kabut asap.