Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Produksi Minyak Sempat Nol akibat Banjir, Pertamina EP Rantau Kini Bor 5 Sumur Baru

Pengeboran lima sumur juga untuk jaga produksi di tengah pemulihan pascabanjir besar yang melanda Aceh Tamiang.

Pertamina EP Rantau Field mulai mengebor lima sumur baru untuk mencari cadangan minyak dan gas bumi (migas).
Pertamina EP Rantau Field mulai mengebor lima sumur baru untuk mencari cadangan minyak dan gas bumi (migas). (Foto: Pertamina EP Rantau Field).

Pertamina EP Rantau Field mulai mengebor lima sumur baru untuk mencari cadangan minyak dan gas bumi (migas). Langkah itu juga untuk jaga produksi di tengah pemulihan fasilitas operasional pascabanjir besar yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025.

Setelah jalani pemulihan selama sekitar empat bulan, produksi minyak perusahaan kini kembali stabil di kisaran 1.700 barel per hari (bph). Sebelumnya, banjir sempat melumpuhkan operasional hingga produksi minyak terhenti total.

Kendati masih dalam situasi pemulihan pascabanjir, perusahaan melakukan pengeboran sumur untuk menemukan cadangan migas baru dan mempertahankan produksi migas,”

kata Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, dalam keterangannya, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Dia mengatakan pengeboran sumur baru jadi langkah penting untuk jaga keberlanjutan produksi sekaligus mendukung penyediaan energi nasional.

Iklan

Tajak sumur baru ini sangat penting bagi penyediaan energi nasional,”

ujar Tomi.

Lima sumur yang mulai dibor tersebut terdiri atas RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 di Desa Tanjung Seumantoh, serta RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33 di Desa Paya Meta. Kedua desa itu berada di Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

Sumur RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 dibor menggunakan rig APS-752 berkapasitas 550 tenaga kuda (HP). Keduanya memiliki target kedalaman akhir masing-masing 1.145 meter dan 1.037 meter.

Sementara, pengeboran sumur RNT DZ-11 menggunakan rig TMMJ-12 dengan kapasitas yang sama, yakni 550 HP, dengan target kedalaman akhir 1.132 meter. Adapun dua sumur lainnya masih dalam proses pengeboran.

Empat Tahap

Di tengah kegiatan pengeboran, Pertamina EP Rantau Field terus memulihkan fasilitas yang terdampak banjir. Menurut Tomi, proses itu dilakukan secara bertahap melalui empat fase, yakni emergency, reactivation, recovery, dan sustainability.

Tahapan itu mencakup pemenuhan kebutuhan darurat, pengaktifan kembali fasilitas dan sumur produksi, pemulihan operasional, hingga penguatan sistem untuk menjaga keberlanjutan kegiatan dalam jangka panjang.

Tahap awal fokus pada kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, kesehatan dan listrik. Setelah kondisi sudah membaik, tim kemudian bergerak mengaktifkan fasilitas dan sumur sumur produksi,”

ujarnya.

Banjir besar pada akhir November 2025 berdampak pada fasilitas produksi, perkantoran, hingga permukiman pekerja. Ketinggian air dilaporkan mencapai 4–4,5 meter. Sementara, endapan lumpur di sejumlah lokasi mencapai 30–80 sentimeter.

Salah satu kendala utama dalam pemulihan adalah kerusakan berat pada High Pressure Compressor Station (HPCS). Fasilitas tersebut sebelumnya menjadi satu-satunya sumber pasokan gas untuk pembangkit listrik di lapangan Rantau.

Terputusnya pasokan listrik turut mengganggu penyediaan air bersih. Instalasi pengolahan air atau water treatment plant (WTP) terendam banjir sehingga pompa tidak dapat beroperasi. Kondisi tersebut membuat kegiatan produksi minyak sempat terhenti sepenuhnya.

Pembangkit listrik di sini menggunakan gas dari sumur yang telah direaktivasi. Akibat banjir HPCS yang kami miliki mengalami kerusakan berat. Maka kami melakukan berbagai inovasi untuk bisa kembali menghidupkan listrik,”

tutur Tomi.

Untuk mengatasi kerusakan HPCS, perusahaan melakukan evaluasi dan memilih pendekatan berbeda dalam memulihkan pasokan gas. Alih-alih mengaktifkan kembali HPCS sebagai satu-satunya sumber pasokan, tim memodifikasi fasilitas SP-5 agar dapat mengambil alih fungsi tersebut.

Melalui langkah itu, pasokan gas untuk pembangkit listrik kini disebut berasal dari SP-5 dan SP-1. Perubahan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun sistem operasional yang lebih sederhana dan mendukung pemulihan produksi.

Setiap ujian tentunya ada hikmah. Salah satu hikmahnya adalah kami melakukan simplifikasi di beberapa fasilitas. Ketika listrik sudah teratasi perlahan produksi yang sebelumnya nol barel mulai bergerak naik,”

jelasnya.

Setelah fasilitas berangsur pulih, produksi minyak Pertamina EP Rantau Field sempat mencapai 2.000 barel per hari pada Mei dan Agustus 2026. Angka tersebut melampaui tingkat produksi sebelum banjir. Saat ini, produksi kembali stabil di kisaran 1.700 barel per hari.

Tomi mengatakan percepatan pemulihan tidak terlepas dari dukungan personel lintas wilayah operasi Pertamina. Sejumlah pekerja dari Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba, dan lapangan lainnya turut membantu memperbaiki fasilitas yang terdampak.

Pulih lebih cepat ini bisa terwujud karena ada bantuan personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina. Seperti Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba dan sejumlah lapangan lainnya ikut terlibat aktif dalam pemulihan fasilitas Rantau Field. Pertamina ini satu keluarga, jika satu tertimpa musibah yang lain datang membantu,”

jelasnya.

Atas percepatan pemulihan operasional tersebut, Pertamina EP Rantau Field menerima penghargaan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada 8 April 2026.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.