Kontak tembak antara personel gabungan TNI dan kelompok bersenjata yang disebut sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM) terjadi di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Dalam insiden tersebut, tiga orang dilaporkan tewas.
TNI telah mengidentifikasi satu korban sebagai Manfret Fatem, yang disebut menjabat sebagai Komandan Operasi OPM Kodap IV/Sorong Raya. Panglima Komando Operasi (Pangkoops) TNI Habema Brigjen TNI Riyanto mengatakan, kontak tembak berlangsung pada pukul 08.25 WIT di kawasan hutan di sebelah utara Kampung Kamat, Distrik Aifat Timur, Jumat.
Berdasarkan pemeriksaan awal di lapangan, satu dari tiga korban teridentifikasi sebagai Manfret Fatem yang disebut menjabat sebagai Danops OPM Kodap IV/Sorong Raya,”
kata Riyanto, dalam keterangannya, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Peristiwa kontak tembak melibatkan Tim Patroli Gabungan Denkul 4/Satgas Rajawali V dan Satgas Yonif 9 Marinir saat menjalankan operasi patroli penindakan. Menurut keterangan TNI, kelompok bersenjata yang terlibat merupakan OPM Kodap IV/Sorong Raya pimpinan Manfret Fatem.
Iklan
Namun, TNI masih memverifikasi identitas dua korban lainnya. Adapun dari informasi awal yang diperoleh di lapangan, kedua orang tersebut diduga Yesias Fatem, yang disebut sebagai Komandan Batalyon Mosata.
Lalu, ada Antonius Assem alias Anton Fatem, yang disebut selaku Komandan Batalyon Ayosami dalam struktur OPM Kodap IV/Sorong Raya.
Proses verifikasi masih berlangsung untuk memastikan identitas dan keterkaitan kedua korban tersebut,”
jelas Riyanto.
Ilustrasi Pasukan TPNPB-OPM di Yahukimo. (Jubir TPNPB-OPM)
Setelah kontak tembak berakhir, personel gabungan mengamankan lokasi kejadian. Selain itu, tim gabungan juga melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan keamanan lanjutan.
Riyanto menyatakan tak ada personel TNI yang menjadi korban dalam insiden tersebut.
Di lokasi kejadian, aparat juga mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan kelompok bersenjata itu. Barang-barang itu meliputi satu pucuk senjata api jenis AK-101, 30 butir amunisi kaliber 5,56 milimeter, amunisi kaliber 9 milimeter, serta dua telepon seluler.
Petugas turut menemukan atribut kelompok OPM, bendera Bintang Kejora, satu dokumen OPM, dan sejumlah perlengkapan lainnya.
Riyanto menyampaikan, operasi pengamanan wilayah dilaksanakan dengan mengedepankan profesionalitas serta berpedoman pada ketentuan hukum dan aturan pelibatan yang berlaku.
Setiap ancaman terhadap keselamatan masyarakat dan aparat harus ditangani secara tegas, profesional, dan terukur,”
katanya.
Selain operasi keamanan, Koops TNI Habema menyatakan tetap mengedepankan pendekatan dialog dan pembinaan teritorial. TNI juga mengupayakan kerja sama dengan pemerintah daerah serta tokoh masyarakat untuk menjaga situasi keamanan di wilayah tersebut.
Menurut Riyanto, langkah itu diperlukan agar masyarakat dapat menjalankan kegiatan sehari-hari tanpa gangguan, mulai dari aktivitas pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga kegiatan ekonomi.
Ia mengatakan, upaya menjaga keamanan tak hanya dilakukan melalui operasi. Namun, juga melalui pendekatan yang melibatkan masyarakat dan pemerintah setempat.
Perkembangan lebih lanjut mengenai hasil operasi, identitas dua korban lainnya, serta situasi keamanan di wilayah tersebut akan disampaikan setelah proses verifikasi dan pendalaman selesai dilakukan,”