Petugas Manggala Agni Daops Sumatera XII Muara Tebo bersama Pendamping Tahura OKH Dinas Kehutanan Provinsi Jambi melakukan pengecekan titik api di Taman Hutan Raya (Tahura) Orang Kayo Hitam (OKH), Jambi. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan).
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tahun ini meninggalkan duka mendalam. Sepanjang Agustus hingga Oktober 2026, setidaknya tujuh petugas dan relawan meninggal dunia usai berjuang memadamkan api.
Terbaru, pada Kamis 15 Oktober 2026, empat orang tewas saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Bromo, Jawa Timur. Sebelumnya ada tiga petugas di Kalimantan Tengah yang gugur saat memadamkan api karhutla.
Dari catatan Owrite.id, Senin, 19 Oktober 2026, berikut daftar tujuh petugas dan relawan yang meninggal dunia karena terlibat dalam penanganan karhutla sepanjang 2026.
Iklan
Akhmad Rizani
Akhmad Rizani, Ketua Tim Serbu Api Kecamatan (TSAK) Jekan raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah meninggal dunia pada Kamis, 27 Agustus 2026 setelah jalani perawatan selama enam hari di RS Betang Pembelum.
Melansir dari @samarinda_responinfo, Rizani diketahui sempat drop saat memadamkan kebakaran lahan di Jalan Rungan, kawasan Belakang kantor Kecamatan Jekan Raya.
Ia sempat memberikan isyarat kepada rekan-rekannya sambil memegang dada. Rekan-rekannya kemudian mengevakuasi Rizani ke Kantor BPBD sebelum membawanya ke rumah sakit.
Ahmadin alias Itam Madin
Ahmadin alias Itam Madin bin Gusti Djamliansyah merupakan relawan Damkar Huma Singgah Itah yang terlibat dalam penanganan karhutla di kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah.
Ia meninggal dunia pada Minggu, 30 Agustus 2026 malam di RSUD Sultan Imanudin Pangkalan Bun. Ahmadin sebelumnya mengalami sesak nafas imbas paparan asap selama sekitar satu pekan.
Aries Sutio Luthfil Hadi
Aries Sutio Luthfi Hadi merupakan anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) dari Posko Danau Masoraian, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah.
Melansir dari akun Instagram @rumahzakat, Aries meninggal dunia pada Kamis, 10 September 2026 sore setelah terlibat dalam penanganan karhutla di Jalan Pangkalan Bun.
Semasa bertugas, Aries sering menghadapi panas, kepulan asap, dan medan yang sulit untuk membantu memadamkan api serta melindungi masyarakat dan lingkungan.
Ilustrasi Karhutla/Doc. Owrite/Acel
Sukaris
Sukaris merupakan aparatur sipil negara (ASN) di Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ia menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kebakaran di kawasan TNBTS, Jawa Timur, pada Kamis 15, Oktober 2026.
Berdasarkan informasi yang diunggah akun Instagram @riekediahp, Sukaris meninggal di lokasi kejadian setelah terjebak kobaran api saat berupaya memadamkan kebakaran.
Sukaris merupakan satu dari empat korban dalam insiden yang menewaskan petugas dan warga yang ikut membantu penanganan karhutla di kawasan Bromo tersebut.
Hendra Rony Wagiyanata
Hendra Rony Wagiyanata juga merupakan ASN atau petugas TNBTS yang terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan Bromo.
Berbeda dengan tiga korban lainnya, Hendra sempat mendapatkan perawatan medis akibat luka bakar serius. Namun, nyawanya tidak tertolong dan ia akhirnya meninggal dunia.
Wisnu Yuda Pratama
Wisnu Yuda Pratama merupakan karyawan Artotel Bromo yang turut membantu petugas memadamkan kebakaran di kawasan TNBTS.
Ia meninggal dunia setelah terjebak kobaran api dalam pada Kamis, 15 Oktober 2026. Wisnu menjadi salah satu korban yang meninggal di lokasi kejadian.
Sefriel Ardiansyah
Sefriel Ardiansyah jadi korban termuda dalam tragedi karhutla Bromo. Karyawan Artotel berusia 19 tahun itu turut membantu proses pemadaman sebelum meninggal dunia akibat terjebak kobaran api.
Berdasarkan informasi yang beredar, tiga korban meninggal di lokasi kejadian. Sementara, satu korban lainnya sempat mendapatkan perawatan medis sebelum akhirnya meninggal dunia.
Tragedi tersebut menambah panjang daftar korban jiwa dalam penanganan karhutla sepanjang 2026.
Kematian tujuh petugas dan relawan tersebut memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi orang-orang di garis depan penanganan karhutla. Mereka harus berhadapan dengan kobaran api, asap pekat, medan yang sulit, serta kondisi lapangan yang dapat berubah dengan cepat.
Namun, keberanian saja tidak cukup untuk melindungi mereka dari bahaya. Karena butuh kesiapan alat pelindung diri, pemantauan kondisi kesehatan, prosedur evakuasi, dan penilaian risiko di lokasi kebakaran.