Pada Jumat, tim gabungan berhasil melakukan pemadaman pada area seluas sekitar 10,2 hektare,”
jelas Berton.
Untuk percepat penanganan, BNPB mengerahkan helikopter Sikorsky Black Hawk UH-60L guna melakukan pemadaman udara melalui dua sortie water bombing. Sementara, pemadaman dari darat melibatkan berbagai unsur mulai dari pengelola TNWK, TNI, Polri, BPBD, mitra konservasi, masyarakat, hingga personel pendukung lainnya.
Di lapangan, personel gabungan dibagi jadi empat tim dengan tugas berbeda. Kegiatan mereka meliputi pemantauan menggunakan drone, pemadaman di kawasan rawa gambut, distribusi air, serta pemasangan selang untuk menjangkau titik kebakaran.
Tim juga melakukan penyiapan suplai air menuju titik D dengan penggelaran selang penyalur sepanjang kurang lebih tiga kilometer,”
ujarnya.
Upaya pemadaman karhutla di kawasan konservasi tersebut menghadapi sejumlah kendala. Vegetasi yang rapat dan kering, angin kencang, serta akses menuju lokasi yang sulit membuat proses penanganan tidak mudah.
Selain itu, sumber air terdekat berjarak sekitar 1,5 kilometer dari titik kebakaran. Kondisi lahan gambut juga jadi tantangan tersendiri. Api bisa bertahan di lapisan bawah tanah dan kembali muncul meskipun pemadaman di permukaan telah dilakukan.
Maka itu, personel harus melakukan pemadaman lanjutan sekaligus memantau potensi munculnya kembali titik api.
Untuk membantu penanganan, BNPB turut melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada Jumat dengan menggunakan pesawat Cessna Caravan. Upaya itu dilakukan melalui penyemaian garam atau natrium klorida (NaCl) untuk mendukung pembentukan hujan di wilayah sasaran.
Dua sortie penyemaian garam atau natrium klorida (NaCl) masing-masing sebanyak 1.000 kilogram dilakukan di wilayah Taman Nasional Way Kambas dan Kabupaten Lampung Barat. Hasil pengamatan menunjukkan adanya hujan ringan di kedua wilayah tersebut,”
tutur Berton.
Pemantauan dan pemadaman dilanjutkan BNPB bersama tim gabungan akan melanjutkan pemantauan menggunakan drone untuk mengidentifikasi perkembangan titik api. Hasil pemantauan itu akan jadi dasar untuk menentukan prioritas pemadaman, baik melalui jalur udara maupun darat.
Operasi berikutnya akan difokuskan pada titik B, titik D, serta kawasan rawa gambut yang membutuhkan penanganan lanjutan. Tim juga akan terus memantau kondisi cuaca dan potensi penjalaran api agar kebakaran tidak meluas ke area lain.
Langkah ini dilakukan untuk menekan perluasan kebakaran dan memastikan penanganan di kawasan konservasi Taman Nasional Way Kambas berjalan secara terpadu,”
ujar Berton.