Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

547 Hektare Hutan dan Lahan di Kalteng Terbakar, DPR Ingatkan Bahaya Bara Api di Gambut

Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, mengingatkan kebakaran di kawasan gambut memiliki karakteristik yang membuat api berpotensi muncul kembali meski hujan telah turun.

Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan yang mendekati kawasan permukiman warga di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (9/10/2026).
Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan yang mendekati kawasan permukiman warga di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (9/10/2026).(ANTARA FOTO/Auliya Rahman/wsj.)

Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan belum sepenuhnya menghentikan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Di Kalimantan Tengah (Kalteng), luas lahan terbakar meningkat menjadi 547 hektare. Sementara, di Kalimantan Timur (Kaltim) mencapai 60 hektare.

Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan mengingatkan kebakaran di kawasan gambut memiliki karakteristik yang membuat api berpotensi muncul kembali meski hujan telah turun. Maka itu, pemerintah diminta tak menganggap kawasan sudah aman hanya karena kobaran api di permukaan padam.

“Karakteristik gambut memungkinkan bara bertahan di bawah tanah dan menjalar tanpa terlihat jelas di permukaan. Ketika kelembapan tanah menurun, bara tersebut dapat memicu kebakaran kembali, bahkan setelah hujan turun,”

kata Daniel, Jumat, 6 November 2026.

Dari laporan BNPB, bara api yang masih bertahan di bawah permukaan gambut jadi salah satu penyebab kebakaran kembali muncul. Kondisi ini membuat penanganan Karhutla di lahan gambut tak bisa hanya mengandalkan pemadaman api yang terlihat.

Iklan

Daniel menilai, hujan dan padamnya api di permukaan belum cukup jadi indikator bahwa kebakaran telah benar-benar berakhir. Petugas masih perlu melakukan pembasahan berulang, pendinginan, penyisiran bara, hingga patroli lanjutan.

Menurut dia, meningkatnya kembali kebakaran di Kalteng dan Kaltim memperlihatkan pentingnya penanganan jangka panjang, terutama di kawasan yang memiliki karakteristik lahan gambut.

“Pemadaman tetap menjadi prioritas, tetapi Pemerintah juga harus memastikan lahan tidak kembali terbakar setelah operasi dinyatakan selesai,”

ujar politikus PKB dari daerah pemilihan Kalimantan Barat I tersebut.

Daniel mengingatkan pemerintah perlu menggabungkan upaya pemadaman dengan pencegahan berbasis kondisi ekosistem gambut. Pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran dan penegakan hukum juga harus berjalan secara konsisten.

Menurut dia, persoalan karhutla tak seharusnya hanya ditangani ketika api sudah meluas. Pemerintah perlu memastikan kesiapan peralatan, pemantauan dini, serta strategi pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang.

Penanganan Karhutla tidak seharusnya berhenti pada pemadaman, tetapi juga menyentuh akar persoalan, perlindungan ekosistem, dan pencegahan kejadian serupa,”

tutur Daniel.

Ia juga mengingatkan pentingnya dukungan pemulihan bagi masyarakat yang terdampak kebakaran. Sebab, dampak Karhutla tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Namun, bisa berlanjut pada kerusakan lingkungan dan terganggunya kehidupan masyarakat.

Maka itu, menurut Daniel, evaluasi penanganan Karhutla perlu mencakup seluruh tahapan. Hal itu mulai dari deteksi dini, pemadaman, pengawasan pascakebakaran, hingga pemulihan kawasan dan masyarakat terdampak.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.