Jagat sepak bola dihebohkan dengan munculnya petisi online yang menuntut Argentina dikeluarkan dari Piala Dunia 2026.
Hingga Jumat, 17 Juli 2026, petisi tersebut telah ditandatangani lebih dari 17 juta orang dari berbagai negara yang mendesak FIFA mencoret tim berjuluk La Albiceleste dari turnamen.
Petisi yang diunggah melalui situs argentinaout.com itu pun viral di media sosial. Penggagas petisi menilai FIFA menunjukkan favoritisme dan keberpihakan kepada Argentina serta sang kapten, Lionel Messi, sehingga kompetisi dianggap tidak berjalan secara adil.
Dengan jelas FIFA dan para wasit memihak Lionel Messi dan Argentina. Mengapa negara lain harus bersaing jika pemenangnya sudah ditentukan? Keluarkan Argentina dari Piala Dunia dan berikan kesempatan yang adil bagi semua tim,”
demikian isi petisi tersebut, dikutip dari South China Morning Post, Jumat, 17 Juli 2026.
Berawal dari Laga Kontra Mesir
Gelombang protes ini bermula dari pertandingan babak 16 besar saat Argentina menghadapi Mesir.
Dalam laga tersebut, Argentina berhasil bangkit dari ketertinggalan 0-2 sebelum mencetak tiga gol dalam 13 menit terakhir dan membalikkan keadaan menjadi kemenangan 3-2.
Namun, kemenangan dramatis itu justru memicu kontroversi. Kubu Mesir menilai sejumlah keputusan wasit dan Video Assistant Referee (VAR) merugikan tim mereka.
Mesir memprotes gol yang dianulir setelah VAR menemukan adanya pelanggaran dalam proses terciptanya gol.
Di sisi lain, gol kemenangan Argentina tetap disahkan meski Mesir menilai telah terjadi pelanggaran terhadap Mohamed Salah yang seharusnya ditinjau melalui VAR.
Pelatih Mesir Tuding Laga Sudah Diatur
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, bahkan menuding pertandingan tersebut telah diatur demi meloloskan Argentina ke babak berikutnya.
Saya akan mengatakan apa yang saya pikirkan, apa pun konsekuensinya. Ini jelas sudah diatur dan semua orang melihatnya. Kalau mereka memang ingin Argentina menang, mengapa masih mengundang negara lain bermain di Piala Dunia?”
ujar Hassan.
Ia juga menilai FIFA sengaja ingin mempertahankan Lionel Messi tetap bertahan di turnamen.
FIFA selalu menggaungkan fair play, tetapi kami tidak melihatnya di lapangan. Tanpa kesalahan-kesalahan itu, hasil pertandingan akan berbeda,”
katanya.
Scaloni Bantah Ada Perlakuan Khusus
Menanggapi tuduhan tersebut, pelatih Argentina Lionel Scaloni membantah keras adanya perlakuan khusus terhadap timnya.
Menurut Scaloni, tudingan serupa bukanlah hal baru dan sudah muncul sejak Argentina menjuarai Piala Dunia 1986.
Pada 1986 mereka juga mengatakan Argentina mendapat keuntungan yang tidak adil. Ini bukan hal baru bagi kami,”
kata Scaloni dalam konferensi pers jelang semifinal.
Ia menegaskan bahwa di era penggunaan VAR, hampir mustahil bagi siapa pun untuk memanipulasi hasil pertandingan.
Dengan VAR dan seluruh teknologi yang ada saat ini, sangat sulit membantu siapa pun. Hampir tidak ada ruang untuk interpretasi yang berbeda,”
ujarnya.
Scaloni juga menilai media sosial membuat setiap keputusan dalam pertandingan lebih mudah diperdebatkan sehingga memunculkan berbagai spekulasi.
Tidak ada keberpihakan. Justru sekarang sangat sulit membantu tim tertentu. Mungkin bertahun-tahun lalu hal seperti itu bisa saja terjadi, saya tidak tahu. Namun sekarang, itu nyaris mustahil,”
kata Scaloni.
Argentina Tetap Melaju ke Final
Meski diterpa tuduhan adanya keberpihakan wasit dan munculnya petisi yang telah ditandatangani lebih dari 17 juta orang, langkah Argentina di Piala Dunia 2026 tetap tidak terbendung.
Setelah menyingkirkan Mesir dengan skor dramatis 3-2 di babak 16 besar, Argentina kembali tampil impresif dengan mengalahkan Swiss 3-1 pada perempat final yang berlangsung pada Minggu, 12 Juli 2026.
Tim asuhan Lionel Scaloni kemudian melanjutkan tren positifnya dengan menumbangkan Inggris 2-1 di semifinal untuk mengamankan tiket ke partai puncak.
Argentina kini dijadwalkan menghadapi Spanyol pada Senin, 20 Juli 2026, dalam laga final Piala Dunia 2026.






















