Kementerian PPN/Bappenas meluncurkan buku MotoGP Mandalika 2025: Akselerasi Ekonomi, Citra, dan Pariwisata sekaligus memulai proses penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional.
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Bappenas, Rabu 30 September 2026. Berdasarkan kajian yang dimuat dalam buku tersebut, penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 diperkirakan memberikan dampak ekonomi sekitar Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun.
Pembelajaran dari MotoGP Mandalika menunjukkan pentingnya pengembangan ekosistem industri olahraga yang terpadu. Potensi industri olahraga belum sepenuhnya terkonversi menjadi nilai tambah, investasi, dan lapangan kerja di dalam negeri,”
kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, dalam keterangan resmi, Kamis, 1 Oktober 2026.
Dia mengatakan ekosistem masih terfragmentasi, mulai dari data, produk, industri, dan sumber daya manusia hingga pemanfaatan infrastruktur olahraga.
Pun, dari hasil kajian buku itu kemudian jadi salah satu pijakan pemerintah dalam menyusun kebijakan pengembangan pariwisata olahraga atau sport tourism serta industri olahraga nasional.
Buku itu merupakan hasil kajian bersama Kementerian PPN/Bappenas, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), serta Mandalika Grand Prix Association (MGPA).
MGPA merupakan bagian dari Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney.
Penyusunan kajian juga melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga antara lain Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Sekretariat Negara, Badan Pusat Statistik (BPS), serta Bank Indonesia.
Kajian itu diarahkan untuk menjadikan MotoGP Mandalika sebagai instrumen strategis yang bisa mendukung pembangunan nasional, khususnya melalui pengembangan ekosistem olahraga dan pariwisata.
Dampak MotoGP Mandalika
Perhitungan dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2025 mencakup dampak langsung, tidak langsung, hingga dampak lanjutan (induced impact).
Ajang balap motor dunia tersebut juga berkontribusi terhadap penciptaan puluhan ribu kesempatan kerja, baik pada tahap persiapan maupun ketika event berlangsung. Dampaknya dirasakan berbagai sektor, mulai dari pariwisata, UMKM, transportasi, akomodasi, ekonomi kreatif hingga masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tidak hanya berdampak terhadap aktivitas ekonomi, MotoGP Mandalika juga memberikan eksposur internasional. Nilai Advertising Value Equivalency (AVE) yang dihasilkan dari pemberitaan dan eksposur media global tercatat mencapai 361,6 juta euro atau sekitar Rp6,9 triliun.
Angka tersebut menggambarkan besarnya nilai promosi yang diperoleh Indonesia dan Mandalika melalui penyelenggaraan ajang MotoGP.
Survei Penonton
Kementerian PPN/Bappenas bersama ITDC turut melakukan survei selama penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 1.800 responden yang berasal dari berbagai kelompok, seperti penonton domestik, wisatawan mancanegara, pelaku UMKM, tenaga kerja, dan sponsor.
Hasil survei menunjukkan skor pengalaman penonton atau brand equity mencapai 5,07 dari skala 6. Kajian tersebut juga menemukan adanya minat wisatawan untuk kembali berkunjung ke Indonesia.
Jika peningkatan eksposur Mandalika diikuti dengan strategi promosi destinasi yang terintegrasi, kunjungan wisatawan diperkirakan berpotensi meningkat sekitar 11 persen.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan MotoGP Mandalika perlihatkan event olahraga kelas dunia mampu memperkuat daya tarik destinasi.
Meningkatkan kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta menggerakkan ekonomi lokal. Sinergi sektor pariwisata dengan olahraga akan terus diperkuat sebagai bagian dari pengembangan sport tourism Indonesia,”
jelas Putri.
Manfaat ekonomi MotoGP Mandalika juga terlihat dari meningkatnya aktivitas pelaku usaha lokal. Keterlibatan UMKM, tenaga kerja, dan berbagai pihak yang berada di sekitar kawasan menjadi bagian dari dampak penyelenggaraan event tersebut.
Survei mencatat tingkat kepuasan tenaga kerja dan relawan mencapai 5,51 dari skala 6. Sementara itu, tingkat kepuasan secara keseluruhan dari pelaku UMKM dan tenant berada di angka 5,23.
Pemerintah Provinsi NTB bersama pemerintah kabupaten dan kota juga memberikan dukungan terhadap pelaksanaan MotoGP Mandalika. Dukungan tersebut mencakup anggaran penyelenggaraan, promosi pariwisata, layanan kesehatan, pengamanan, pembangunan infrastruktur, hingga berbagai kegiatan pendukung lainnya.
Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut. Bagi Pemerintah Provinsi NTB, kawasan Mandalika memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi daerah.
Keberhasilan MotoGP Mandalika tidak hanya dinilai dari jumlah penonton. Aspek lain yang menjadi perhatian mencakup penguatan citra Mandalika, pengalaman wisatawan, serta kontribusi ajang tersebut terhadap perekonomian daerah secara berkelanjutan.
Plt. Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar menyampaikan MotoGP Mandalika menunjukkan bahwa event olahraga internasional bisa jadi katalis bagi pengembangan kawasan secara berkelanjutan.
Bagi ITDC, momentum ini perlu ditransformasikan dari sekadar event-based economy menjadi event-led development, sehingga manfaat ekonomi, sosial, dan pembangunan kawasan dapat terus dirasakan dalam jangka panjang,”
ujar Ahmad Fajar.
Selain meluncurkan kajian MotoGP Mandalika 2025, Kementerian PPN/Bappenas juga memulai penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional.
Dokumen tersebut nantinya diharapkan menjadi pedoman bersama dalam menentukan arah pengembangan, fokus, target, serta pembagian peran berbagai sektor yang terlibat dalam industri olahraga nasional.
Kementerian PPN/Bappenas memulai penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional sebagai acuan bersama yang menetapkan arah, fokus, target, serta pembagian peran lintas sektor,”
ujar Rachmat Pambudy.
Desain besar tersebut akan digunakan untuk membangun ekosistem industri olahraga yang berkelanjutan. Fokusnya mencakup penguatan koordinasi pemerintah pusat dan daerah, kejelasan peran setiap pemangku kepentingan, serta peningkatan sistem pemantauan dan evaluasi.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menilai pengembangan industri olahraga membutuhkan kerja sama lintas sektor. Menurutnya, prestasi atlet, industri olahraga, serta penyelenggaraan event internasional memiliki keterkaitan dalam membangun ekosistem olahraga nasional.
Kolaborasi lintas kementerian menjadi fondasi agar Indonesia semakin mampu menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga dunia yang profesional, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,”
ujar Erick.
Pemerintah berharap hasil kajian MotoGP Mandalika 2025 dapat menjadi pijakan dalam merancang kebijakan sport tourism dan industri olahraga. Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk mendukung target pembangunan nasional yang tercantum dalam RPJMN 2025–2029.
Pada akhirnya, yang ingin kita bangun bukan hanya semakin banyak event olahraga, tetapi ekosistem industri olahraga Indonesia yang semakin kuat, berdaya saing, dan mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian serta kesejahteraan masyarakat,”
tutur Rachmat.






