Di tengah disrupsi digital dan krisis kepercayaan publik, pers mahasiswa menghadapi ujian yang lebih besar daripada sekadar eksis bertahan.
Kehadiran kecerdasan artifisial (AI) telah mengubah cara informasi diproduksi, dikurasi, dan didistribusikan. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang kini dapat dilakukan dalam hitungan detik.
Iklan
Perubahan tersebut membawa efisiensi, tetapi sekaligus menciptakan persoalan baru bagi ekosistem media. Persaingan memperebutkan perhatian publik semakin ketat, algoritma media sosial terus berubah, dan arus informasi yang melimpah tidak selalu diiringi jaminan akurasi.
Di tengah situasi ini, kecepatan kerap lebih diutamakan daripada ketepatan. Sementara, kepercayaan masyarakat terhadap media menghadapi tantangan serius.
Dalam kondisi itu, pers mahasiswa atau persma berada di persimpangan jalan. Apakah mereka akan ikut terseret arus digitalisasi, atau justru mengambil peran sebagai salah satu kekuatan yang jaga marwah jurnalisme?
Jawabannya tidak cukup dengan mempertahankan idealisme. Persma perlu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan prinsip yang menjadi fondasi keberadaannya.
Tak Boleh Tergadai
Persma memiliki karakter yang berbeda dari media arus utama. Media arus utama harus berhadapan dengan tekanan bisnis, kepentingan pemodal, persaingan trafik, dan tuntutan pendapatan iklan.
Namun, Persma tumbuh dari tradisi intelektual kampus. Jiwa mahasiswa yang semangat akan kebebasan berpendapat, serta keinginan untuk mengkritisi realitas sosial.
Ruang redaksi persma mesti jadi tempat untuk mengasah nalar, menguji gagasan, dan membangun keberanian menyampaikan kebenaran. Melalui kerja jurnalistik, mahasiswa belajar baca persoalan secara kritis, memeriksa fakta, serta menyuarakan kelompok marginal yang kerap luput dari perhatian.
Persma juga memiliki ruang untuk mengawasi kebijakan kampus, mengkritisi ketimpangan sosial, dan mengangkat persoalan yang tidak selalu memperoleh tempat dalam agenda media komersial.
Keberpihakan persma pada kepentingan publik jadi penting. Hal itu terutama saat suara kelompok rentan berhadapan dengan kekuasaan.
Namun, yang perlu jadi perhatian karena idealisme saja tak otomatis jamin keberlangsungan persma. Keterbatasan sumber daya, biaya operasional, waktu, dan kapasitas teknologi dapat menghambat kerja redaksi.
Tantangan semakin besar ketika perhatian pembaca berpindah ke platform digital yang bergerak cepat dan dikendalikan algoritma.
Maka itu, mempertahankan idealisme tak berarti menolak perubahan. Persma justru perlu menemukan cara agar nilai jurnalistik bisa tetap hidup di tengah perkembangan teknologi.
AI Hanya Alat
AI telah membuka peluang baru dalam kerja jurnalistik. Teknologi ini dapat membantu mengolah data, merangkum dokumen, mengidentifikasi pola, menyusun transkrip wawancara, hingga mendukung pemetaan informasi untuk liputan mendalam dan investigatif.
Bagi persma yang sering bekerja dengan sumber daya terbatas, pemanfaatan AI secara tepat dapat meningkatkan efisiensi redaksi.
AI juga bisa bantu persma memahami pola penyebaran disinformasi. Selain itu, AI bisa jadi alat untuk merancang distribusi konten agar menjangkau lebih banyak pembaca, khususnya generasi muda.
Dengan penguasaan literasi digital yang memadai, persma punya kesempatan untuk memperluas pengaruh tanpa harus meninggalkan karakter jurnalistiknya.
Meski demikian, AI bukan sumber kebenaran yang bisa diterima begitu saja. Teknologi ini bisa menghasilkan informasi keliru. AI juga menyajikan konteks yang tidak utuh atau mengulang bias yang terdapat dalam data.
Kemampuannya menghasilkan tulisan dengan cepat juga dapat dimanfaatkan untuk memproduksi hoaks dan manipulasi informasi dalam skala besar.
Aksi demonstrate mahasiswa UI di Jan. MH. Thamrin, Jakarta Pusat. Doc: Rahmat Tunny
Di sinilah batas penggunaan teknologi harus ditegaskan. AI boleh bantu proses kerja jurnalistik. Namun, tak boleh menggantikan verifikasi, penilaian editorial, dan tanggung jawab manusia atas informasi yang diterbitkan.
Teknologi tidak memiliki nurani. AI tak bisa sepenuhnya menggantikan kepekaan sosial, empati, keberanian mengambil sikap, dan tanggung jawab moral seorang jurnalis.
Keunggulan persma bukan terletak pada kemampuannya menulis lebih cepat daripada mesin. Tapi, melainkan pada kemampuannya memahami persoalan manusia dan mengungkap fakta yang penting bagi masyarakat.
Khitah Jurnalisme
Di tengah banjir informasi, persma perlu kembali menegaskan khitahnya sebagai penjaga kebenaran berita, Khitah itu dengan melakukan verifikasi, menerapkan kaidah jurnalistik di tingkat kampus maupun masyarakat luas.
Kebebasan berpendapat mesti berjalan beriringan dengan verifikasi, akurasi, keberimbangan, dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik yang relevan.
Ketika algoritma media sosial cenderung mengangkat konten yang memancing emosi, persma tidak boleh terjebak dalam perlombaan mengejar perhatian semata. Judul provokatif tanpa dasar, informasi yang belum terverifikasi, dan narasi yang memperuncing konflik mungkin mendatangkan klik. Namun, cara itu bisa merusak kepercayaan pembaca.
Persma perlu menawarkan sesuatu yang berbeda: karya jurnalistik yang kontekstual, reflektif, mendalam, dan humanis. Bukan sekadar menyampaikan apa yang sedang viral, melainkan menjelaskan mengapa sebuah peristiwa terjadi, siapa yang terdampak, dan kepentingan apa yang berada di baliknya.
Keberpihakan terhadap masyarakat marginal, kritik terhadap kebijakan kampus yang represif, persoalan ketimpangan, serta krisis lingkungan di tingkat lokal maupun global dapat menjadi ruang bagi persma untuk menunjukkan relevansinya.
Dengan cara itu, persma tidak hanya menjadi pengikut arus percakapan publik, tetapi ikut menentukan isu apa yang layak diperhatikan dan diperdebatkan secara sehat.
Menghapus Ego
Transformasi persma juga tak bisa dilakukan sendirian. Tantangan teknologi, keterbatasan pendanaan, dan perubahan perilaku pembaca menuntut kolaborasi lintas kampus.
Ego sektoral antarlembaga persma perlu dikurangi. Persaingan internal yang tidak produktif hanya akan memperlemah posisi persma di tengah industri informasi yang semakin kompleks.
Sebaliknya, jejaring nasional dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas, dan kerja jurnalistik kolaboratif.
Pelatihan bersama mengenai verifikasi digital, keamanan jurnalis, pemanfaatan AI, pengelolaan data, dan teknik investigasi dapat menjadi langkah konkret.
Kolaborasi liputan juga memungkinkan persma mengungkap persoalan yang melampaui batas wilayah kampus, termasuk isu lingkungan, kebijakan publik, dan pelanggaran hak masyarakat.
Solidaritas tak berarti menghilangkan perbedaan pandangan. Justru, perbedaan dapat jadi kekuatan ketika dipertemukan melalui diskusi terbuka, pertukaran gagasan, dan komitmen bersama terhadap kepentingan publik.
Persma perlu membangun ekosistem yang saling menguatkan agar tak hanya mampu bertahan secara teknis. Tapi, juga memiliki daya tawar intelektual dalam percakapan pers nasional.
Peran kampus tak bisa diabaikan. Perguruan tinggi seharusnya tak hanya menjadi tempat mencetak lulusan untuk memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga menjadi ruang pembentukan warga negara yang kritis, mandiri, dan berani mempertanyakan ketidakadilan.
Persma merupakan salah satu bagian penting dari proses tersebut. Karena itu, kebebasan redaksi perlu dihormati, sementara kritik terhadap kebijakan kampus semestinya dijawab melalui dialog dan argumentasi, bukan tekanan atau pembungkaman.
Dukungan terhadap persma dapat diwujudkan melalui akses pelatihan, fasilitas yang memadai, peningkatan literasi digital, dan perlindungan terhadap kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab.
Dukungan tersebut tetap harus menjaga independensi redaksi agar persma tidak berubah menjadi corong institusi yang seharusnya dapat mereka awasi.
Pada akhirnya, era AI dan disrupsi media tidak harus menjadi lonceng kematian bagi persma. Perubahan ini justru jadi ujian untuk membuktikan bahwa jurnalisme tak semata-mata bergantung pada kecepatan produksi atau kecanggihan teknologi.
Persma memang perlu belajar menggunakan AI, memahami algoritma, memperluas distribusi konten, dan membangun kolaborasi. Namun, semua itu harus berjalan bersama integritas, keberanian, dan kepedulian terhadap kepentingan publik.
Selama ruang redaksi tetap jadi tempat untuk merawat nalar kritis, menguji kekuasaan, dan menyuarakan mereka yang terpinggirkan, persma akan tetap relevan.
Bukan karena mampu mengalahkan mesin dalam perlombaan kecepatan. Tapi, karena bisa menjaga sesuatu yang tidak boleh hilang dari jurnalisme: nurani, kebenaran, dan keberanian untuk tidak bungkam.