Kehadiran pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas produksi kendaraan energi baru di Indonesia. Fasilitas manufaktur tersebut juga diproyeksikan menyerap tenaga kerja lokal.
Vice President of BYD Co Ltd sekaligus General Manager of BYD Asia Pacific Auto Sales Division Liu Xueliang mengungkapkan bahwa BYD memiliki target jangka panjang untuk menyerap hingga 20.000 karyawan ketika pabrik di Indonesia telah beroperasi dalam kapasitas penuh.
“Setelah pabrik ini mencapai kapasitas produksi penuh di masa mendatang, kami akan mencapai target 20.000 karyawan,”
ujar Xueliang di Subang, dikutip pada Jumat, 4 September 2026.
Target 20.000 karyawan tersebut akan dicapai secara bertahap seiring dengan peningkatan aktivitas produksi dan rantai pasok BYD di Indonesia. Saat ini, perusahaan asal China tersebut telah menciptakan lebih dari 5.000 lapangan kerja lokal melalui kegiatan manufaktur maupun jaringan rantai pasoknya.
Jumlah tenaga kerja tersebut diperkirakan terus meningkat ketika kapasitas produksi pabrik Subang semakin besar. Dengan demikian, investasi BYD tidak hanya berpotensi memperkuat industri kendaraan listrik Indonesia, tetapi juga membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat di sekitar kawasan industri.
Empat Proses Manufaktur
Liu Xueliang menyebut fasilitas produksi BYD di Indonesia sebagai salah satu basis manufaktur kendaraan energi baru terbesar yang dimiliki perusahaan di Tanah Air. Pabrik tersebut juga menggunakan teknologi serta proses produksi yang dikembangkan BYD secara global.
“Di sini, kami telah membangun empat proses manufaktur utama otomotif: Stamping (Pengepresan), Welding (Pengelasan), Painting (Pengecatan), dan Assembly (Perakitan),”
ujar dia.
Keberadaan empat proses manufaktur utama tersebut menunjukkan bahwa aktivitas di pabrik Subang mencakup rangkaian produksi kendaraan secara lebih terintegrasi. Dampak investasi BYD tidak hanya dirasakan melalui tenaga kerja yang direkrut langsung oleh perusahaan. Dalam menjalankan operasional di Indonesia, BYD telah melibatkan lebih dari 200 mitra rantai pasok.
Keterlibatan ratusan mitra tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk terhubung dengan ekosistem industri dan manufaktur nasional. Ekspansi ke Indonesia juga menjadi strategi BYD untuk membangun kehadiran jangka panjang serta mengembangkan bisnis bersama masyarakat dan industri lokal.
Pabrik di Indonesia tercatat sebagai fasilitas manufaktur BYD yang ke-13 secara global. Kehadirannya sekaligus menjadi bagian penting dari strategi lokalisasi produksi perusahaan.
Pengembangan Talenta Indonesia
Kemudian, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Republik Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan berujar pembangunan fasilitas kendaraan listrik harus memberikan efek berantai terhadap industri nasional. Kehadiran pabrik seharusnya turut mendorong pertumbuhan industri pendukung, mulai dari baterai, battery pack, komponen kendaraan, hingga pengembangan sumber daya manusia.
“(Hal) yang perlu dilakukan adalah membangun talenta-talenta Indonesia, menjaga kualitas, meningkatkan produktivitas, dan menguasai teknologi,”
kata Luhut.
Maka, peningkatan kualitas tenaga kerja dan penguasaan teknologi menjadi aspek penting agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga berkemampuan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik secara mandiri. Luhut berharap keberadaan pabrik BYD di Subang tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan kendaraan listrik di pasar domestik.
Lebih jauh, fasilitas tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi produk yang dibuat di Indonesia untuk dipasarkan ke berbagai negara. Jika rantai pasok lokal semakin kuat, Indonesia berpotensi berperan besar dalam jaringan produksi kendaraan listrik global BYD.
TKDN BYD Ditargetkan Capai 60 Persen pada 2027
Dalam upaya meningkatkan lokalisasi produksi, BYD juga menargetkan kenaikan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang mencapai 60 persen pada Januari 2027. Target tersebut menjadi bagian penting dari strategi lokalisasi BYD di Indonesia.
Semakin tinggi penggunaan komponen lokal, semakin besar pula peluang industri komponen nasional untuk masuk ke dalam rantai pasok kendaraan listrik. Peningkatan TKDN diharapkan berdampak lebih luas terhadap pertumbuhan industri nasional maupun penyerapan tenaga kerja Indonesia.
Dengan pabrik Subang, BYD tidak hanya membangun fasilitas produksi kendaraan energi baru, tetapi juga tengah membentuk ekosistem manufaktur yang melibatkan tenaga kerja, pemasok lokal, teknologi, dan industri komponen Indonesia.


























