Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Jumat, 13 Mar 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Spill
  • Banjir
  • sumatera
  • BMKG
  • longsor
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / (Part II) Kelabu Ambang Batas Parlemen 7 Persen: Akal Bulus Elite Kubur Suara Rakyat
Politik

(Part II) Kelabu Ambang Batas Parlemen 7 Persen: Akal Bulus Elite Kubur Suara Rakyat

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
Last updated: Maret 12, 2026 3:56 pm
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi (Gambar dibuat oleh AI)
SHARE

Pemerintah dan DPR seharusnya membenahi district magnitude (besaran daerah pemilihan) atau fokus pada tata kelola di dalam parlemen itu sendiri, seperti penentuan jumlah fraksi dan mekanisme pengambilan keputusan.

Sayangnya, opsi alternatif yang lebih adil ini dihindari karena dianggap tidak secepat PT dalam mengamankan “maksud laten” petahana mengurangi pesaing politik.

Sebagai jalan keluar yang lebih demokratis, Hadar mengusulkan agar sistem pemilu di Indonesia kembali kepada prinsip keterbukaan dan penghargaan mutlak terhadap suara rakyat.

Menurut saya, seharusnya (semua orang) berani betul-betul menghargai suara rakyat. Sekalipun dia hanya bisa mengumpulkan satu kursi, itu harus dihargai,”

ucap Hadar.

Ada pula tawaran formulasi alternatif jika instrumen PT tetap terpaksa digunakan. Ambang batas persentase nasional tidak boleh menjadi satu-satunya syarat mutlak yang menggugurkan perolehan kursi sah di daerah pemilihan.

Jikapun akan diterapkan PT sekian persen, katakanlah 2,5 persen, maka harus diberlakukan klausul tambahan: ‘…atau memperoleh sekurang-kurangnya 1 kursi’. Jadi, jika ada partai memperoleh suara sah nasional tidak mencapai 2,5 persen namun mendapatkan 1 kursi di satu dapil tertentu, maka ia dianggap telah mencapai PT,”

tutur Hadar.

Sistem yang terbuka dan berkeadilan mutlak diperlukan agar hukum pemilu tidak terus-menerus direkayasa hanya demi melayani kepentingan kelompok yang tengah memegang palu kekuasaan.

Liga Anggota Parlemen

Wacana ini dinilai sebagai pedang bermata dua; di satu sisi bertujuan menciptakan pemerintahan dan parlemen yang kuat, namun di sisi lain berpotensi membuang jutaan suara rakyat dan memberangus banyak partai politik.

Pengamat Politik dari Citra Institute, Efriza, menilai wacana ini berangkat dari asumsi dasar untuk menguatkan sekaligus menyederhanakan jumlah partai politik di parlemen.

Rencananya itu adalah menguatkan partai politik, menyederhanakan partai politik. Ada keinginan supaya parlemen itu keputusannya tidak ribet. Keputusan parlemen itu bisa diambil langsung dengan cara mudah. Nah, ini adalah asumsi awal bagaimana parliamentary threshold itu dibangun,”

kata Efriza, kepada owrite.

Ketiadaan ambang batas atau ambang batas yang terlalu kecil justru dinilai berbahaya bagi efektivitas pemerintahan.

Partai-partai kecil yang lolos ke Senayan seringkali kalah suara dalam voting dan proses pengambilan keputusan, sehingga dinilai tidak efektif dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Selain itu, eksekutif pun dipusingkan dengan keharusan membagi kursi jabatan kepada partai-partai dengan kekuatan politik minim.

Jika wacana PT 7 persen benar-benar direalisasikan secara nasional, Efriza memprediksi lanskap politik Senayan akan berubah drastis.

Jumlah fraksi menyusut tajam, meninggalkan sistem multipartai ekstrem menuju multipartai moderat.

Semakin mengecil jumlah partai politiknya. Bisa jadi tinggal tersisa tiga atau empat partai politik yang bisa lolos di parlemen. Artinya partai-partai di bawah dari tiga besar itu semakin kesusahan,”

ucap dia.

Berdasarkan analisis rekam jejak dan basis identitas kepartaian, Efriza memetakan partai-partai yang berpotensi aman dan yang terancam terdepak dari Senayan:

1. Partai yang diprediksi lolos: PDI Perjuangan (karena identitas wong cilik yang kuat), Golkar (memiliki akar nasionalis yang lama), Gerindra (sedang berada di tampuk pemerintahan dengan elektabilitas tinggi), dan PKB (memiliki basis massa NU yang besar).

2. Partai yang terancam terdepak: PAN diprediksi kesulitan karena tidak bisa meraup suara Muhammadiyah secara utuh. Demokrat dan Nasdem juga rawan terdepak karena dinilai memiliki identitas kepartaian yang kurang kuat.

3. Partai yang dipastikan gagal: Partai-partai baru dan partai non-parlemen seperti Prima, Gelora, Partai Buruh, PKN, Perindo, hingga PSI dipastikan akan sangat sulit menembus angka 7 persen.

“Jangankan Prima, PSI pun kemungkinannya kalau 7 persen tidak akan lolos,”

tegas Efriza.

Di balik perdebatan angka ambang batas, Efriza menyoroti masalah mendasar pada sistem kepartaian di Indonesia.

Ia menyebut seluruh partai di Indonesia saat ini sejatinya masuk dalam kategori “partai gurem” karena tidak ada satu pun partai yang mampu mendominasi perolehan suara hingga menyentuh 30 persen, apalagi 50 persen plus satu.

Oleh karena itu, Efriza menawarkan solusi yang lebih sistematis ketimbang sekadar mengutak-atik angka PT, yakni dengan menerapkan sistem berjenjang layaknya kompetisi liga sepak bola.

Jangan hanya pengaturan tentang parliamentary threshold. Ada pengaturan yang berjenjang layaknya liga, layaknya kompetisi sepak bola, itu yang terbaik. Jadi, partai-partai baru tidak langsung untuk naik ke DPR,”

saran Efriza.

Dalam konsep ini, partai yang gagal memenuhi ambang batas (terdegradasi) atau partai baru tidak langsung bertarung di tingkat nasional, melainkan harus membuktikan diri terlebih dahulu di tingkat kabupaten/kota atau provinsi.

Efriza juga mengkritik keras gagasan ‘Ambang Batas Fraksi’ yang kerap digaungkan sebagai solusi penyelamat suara partai kecil jika PT dinaikkan.

Menurut hasil risetnya, penggabungan partai kecil ke dalam fraksi partai besar di DPR tidak memberikan dampak substansial bagi partai kecil tersebut.

Partai kecil yang tergabung dalam fraksi gabungan pada akhirnya hanya menjadi ‘pengekor’ keputusan partai besar yang mendominasi fraksi.

Umumnya partai gurem itu sulit untuk bersuara dan malah menjadi kesempatan bagi mereka berlindung di bawah kenyataan bahwa jumlah mereka kecil, namun makan gaji buta. Pada akhirnya, wacana PT 7 persen menghadirkan dilema klasik.

Artinya menyederhanakan partai, efeknya adalah membangun pemerintahan yang kuat, membangun DPR yang lebih baik. Namun, konsekuensinya adalah suara rakyat terbuang. Saya rasa itu perdebatan terus-menerusnya,”

kata Efriza.
Tag:DPREditorialParliamentary Thresholdpartai politikpemiluPolitikSpill
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Gambar ilustrasi
Politik

(Part I) Kelabu Ambang Batas Parlemen 7 Persen: Akal Bulus Elite Kubur Suara Rakyat

Wacana kenaikan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT) menjadi 7 persen untuk penyelenggaraan Pemilu menjadi polemik. Wacana yang kembali mengemuka di tengah rencana revisi Undang-Undang Pemilu ini, dinilai bertentangan…

By
Adi Briantika
Amin Suciady
8 Min Read
Awan tebal yang menyelimuti pemukiman dan gedung bertingkat di Jakarta
Megapolitan

Prakiraan Cuaca Jakarta Jumat 13 Maret 2026: Jaksel dan Jaktim Hujan Ringan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi prakiraan cuaca di wilayah DKI Jakarta pada hari ini, Jumat, 13 Maret 2026. Menurut ramalan, sebagian wilayah DKI Jakarta akan hujan dan sebagian…

By
Ivan
1 Min Read
Umat Islam melaksanakan shalat sunah berjamaah saat beriktikaf di kawasan Masjid Agung dan Makam Sunan Bonang, Tuban, Jawa Timur
Megapolitan

Jadwal Imsak dan Buka Puasa Hari ke-23 Jumat 13 Maret 2026

Hari ini, Jumat, 13 Maret 2026 bertepatan dengan hari puasa ke-23 menurut ketetapan Pemerintah RI dan Nahdlatul Ulama (NU). Umat Muslim saat ini tengah berada di fase sepuluh malam terakhir…

By
Syifa Fauziah
Ivan
3 Min Read

BERITA LAINNYA

PDIP keluarkan instruksi antisipasi dampak kenaikan harga minyak dunia.
Politik

Waspada Dampak Perang Timur Tengah, PDIP Keluarkan Instruksi Darurat ke Kader Daerah

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengeluarkan surat instruksi kepada para kadernya di…

hadi-febriansyah-owritedusep-malik
By
Hadi Febriansyah
Dusep
2 hari lalu
Bupati Pekalongan Fadia Arafiq (tengah) berjalan usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK Merah Putih, Jakarta.
Politik

Kasus Fadia Arafiq Buka Borok Politik, Bukti Rapuhnya Kaderisasi Parpol di Indonesia

Fadia Arafiq sebelumnya menyatakan bahwa dirinya berlatar belakang sebagai musisi dangdut, bukan…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owritedusep-malik
By
Rahmat
Dusep
3 hari lalu
Gambar ilustrasi politik dinasti
Politik

UU Pemilu Digugat: Ketika Nasib Dinasti Politik Keluarga Penguasa ada di Tangan MK

Dua warga negara, Raden Nuh dan Dian Amalia, mengajukan uji materi Undang-Undang…

hadi-febriansyah-owriteAmin Suciady
By
Hadi Febriansyah
Amin Suciady
4 hari lalu
Gambar ilustrasi parliamentary treshold
Politik

Parliamentary Threshold 7 Persen Picu Pro-Kontra, Sejumlah Parpol Angkat Suara

Wacana kenaikan Ambang Batas Parlemen (Parliamentary Threshold) menjadi 7 persen memunculkan perdebatan…

hadi-febriansyah-owriteAmin Suciady
By
Hadi Febriansyah
Amin Suciady
2 minggu lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up