Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Selasa, 1 Sep 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • DPR
  • Sepak Bola
  • KPK
  • prabowo
  • Korupsi
  • MBG
  • Prabowo Subianto
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Politik / (Part II) Saat Politik Luar Negeri RI “Sein Kiri Belok Kanan”, Sulit Ditebak dan Banyak Tanda Tanya
Politik

(Part II) Saat Politik Luar Negeri RI “Sein Kiri Belok Kanan”, Sulit Ditebak dan Banyak Tanda Tanya

iren natania longdongAmin-Suciady-Owrite
Last updated: April 15, 2026 4:27 pm
By
Natania Longdong
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id,...
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
5 bulan lalu
Share
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, bertemu dengan Menteri Urusan Perang Amerika Serikat Pete Hegseth, untuk memperdalam kerja sama pertahanan.
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, bertemu dengan Menteri Urusan Perang Amerika Serikat Pete Hegseth, untuk memperdalam kerja sama pertahanan.(Sumber: Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk RI)
SHARE

Pelemahan Prinsip Bebas Aktif

Lebih jauh, pandangan berbeda disampaikan oleh praktisi dan pengajar hubungan internasional sekaligus pendiri lembaga penelitian & pelatihan independen Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja. 

Daftar isi Konten
  • Pelemahan Prinsip Bebas Aktif
  • Minim Transparansi
  • Potensi Dimanfaatkan Negara Besar

Ia menilai, pendekatan yang saat ini dijalankan pemerintah justru menunjukkan pelemahan prinsip bebas aktif, bukan penguatan. Dinna menegaskan, bebas aktif tidak hanya soal menjaga hubungan dengan semua pihak, tetapi juga menuntut kedalaman informasi, jaringan diplomatik, serta kebebasan dalam mengambil inisiatif global.

Prinsip bebas aktif menghendaki bukan hanya di atas kertas kita bicara dengan semua pihak, tetapi di tataran diplomatik ada kedalaman informasi dan network yang berkembang dengan semua pihak,”

kata Dinna pada Owrite.

Menurut dia, prinsip tersebut juga menuntut kebebasan berpikir dan bertindak, termasuk kemampuan Indonesia untuk menginisiasi upaya perdamaian global. Dengan demikian, bebas aktif tidak bisa direduksi menjadi sekadar strategi menahan diri atau menjaga keseimbangan antar kekuatan besar.

Jadi bukan sekadar menahan diri, menahan lawan (hedging), apalagi mengekor (bandwagoning),”

tegasnya.

Menurut hemat Dinna, implementasi bebas aktif mensyaratkan keterlibatan yang luas, baik dari diplomat negara maupun aktor non-negara dalam membangun jaringan dan pertukaran informasi. Tanpa hal tersebut, prinsip itu tidak berjalan secara substantif.

Minim Transparansi

Ia juga mengkritik minimnya transparansi dalam proses pengambilan keputusan politik luar negeri. Menurut dia, publik tidak memiliki akses memadai terhadap informasi terkait tawaran kerja sama, pertimbangan pemerintah, maupun hasil konkret dari berbagai pertemuan internasional.

Tidak bisa bebas aktif tapi informasi soal tawaran hubungan luar negeri, permintaan dari luar negeri, respons Indonesia dan pertimbangannya justru tidak diketahui publik,”

ujarnya.

Selain itu, ia menilai pengambilan keputusan politik luar negeri saat ini cenderung tersentralisasi pada segelintir pihak, tanpa diikuti proses tindak lanjut yang terstruktur di dalam negeri.

Tidak bisa bebas aktif tapi yang maju untuk urusan luar negeri cuma segelintir orang, bahkan 3–4 orang saja yang ketika di dalam negeri tidak nampak melakukan follow-up terstruktur,”

bebernya.
(Part I) Saat Politik Luar Negeri RI “Sein Kiri Belok Kanan”, Sulit Ditebak dan Banyak Tanda Tanya

Dinna bahkan menyebut kondisi ini sebagai bentuk “pelumpuhan” prinsip bebas aktif. Menurutnya, pemerintah masih menarasikan prinsip tersebut dijalankan, namun tidak disertai kejelasan proses dan dasar pengambilan keputusan.

Ia pun mencontohkan sejumlah kebijakan yang dinilai diambil tanpa keterbukaan informasi yang memadai kepada masyarakat, mulai dari pernyataan bersama dengan China soal pengelolaan wilayah klaim tumpang tindih di Laut China Selatan, hingga berbagai kesepakatan internasional lain.

Termasuk di antaranya kunjungan ke Rusia yang dinilai tidak disertai penjelasan rinci mengenai substansi pembahasan maupun keuntungan konkret bagi Indonesia.

Tidak ada yang tahu apa yang dibicarakan persisnya saat di sana dan apa keuntungan yang diperoleh Indonesia sebagai bangsa dan negara dari kunjungan tersebut,”

ujarnya.

Potensi Dimanfaatkan Negara Besar

Menurut Dinna, pola pengambilan keputusan seperti ini berpotensi dimanfaatkan oleh negara-negara besar. Ia mengingatkan, bahwa kekuatan adidaya umumnya mampu membaca kelemahan dalam proses politik luar negeri suatu negara.

Sehingga, dampaknya, Indonesia berisiko terseret dalam konflik yang tidak perlu, atau menanggung biaya dari dinamika global yang seharusnya bisa dihindari.

Atau Indonesia menanggung biaya-biaya konflik yang seharusnya tidak kita tanggung, atau negara-negara lain punya persepsi yang membahayakan upaya-upaya pencapaian nasional Indonesia,”

ujarnya.

Sementara itu, terkait isu kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat, Dinna mengaku khawatir dengan munculnya informasi mengenai peningkatan kerja sama di tengah situasi global yang belum stabil.

Ia pun mempertanyakan timing serta substansi dari isu tersebut, termasuk kemungkinan adanya akses lintas udara militer bagi AS di wilayah Indonesia.

Apakah memang benar telah disepakati military overflight di angkasa Indonesia untuk kapal-kapal tempur AS? Mengapa Indonesia menyetujui? Jika tidak disetujui, apa cara Indonesia menjamin bahwa AS tidak melanggar hal itu?”

kritisnya.

Menurut dia, tanpa keterbukaan informasi kepada publik, persoalan ini menunjukkan adanya masalah serius dalam tata kelola politik luar negeri Indonesia yang berpotensi membahayakan kedaulatan negara.

Ia juga menilai istilah “main dua kaki” atau hedging tidak lagi relevan untuk menggambarkan strategi Indonesia saat ini. Sebaliknya, Indonesia perlu membangun jejaring baru dengan kedalaman informasi yang kuat guna melindungi kepentingan nasional.

Istilah main dua kaki sudah tidak relevan, harusnya kita membangun jejaring baru dengan kedalaman informasi yang dibutuhkan supaya bisa melindungi kepentingan nasional kita,”

ujarnya.

Dalam kalimat penutupnya, Dinna pun menegaskan bahwa tujuan utama politik luar negeri Indonesia seharusnya tidak hanya menjaga keseimbangan, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas global.

Itulah harusnya sasaran politik luar negeri kita,”

tutupnya.

Sebagai informasi, usai pertemuan, Menteri Urusan Perang Amerika Serikat dan Menteri Pertahanan Indonesia mengumumkan pembentukan Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama (Major Defense Cooperation Partnership/MDCP) antara kedua negara.

MDCP dimaksudkan sebagai kerangka acuan untuk memajukan kerja sama pertahanan bilateral. Melalui pengumuman ini, kedua negara menegaskan kembali komitmen bersama dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.

MDCP memiliki tiga pilar utama yang dilaksanakan berdasarkan prinsip saling menghormati dan kedaulatan nasional:

  • Modernisasi militer dan penguatan kapasitas;
  • Pelatihan dan pendidikan militer profesional; dan
  • Latihan serta kerja sama operasional.

Dalam kerangka MDCP, Amerika Serikat dan Indonesia akan menjajaki inisiatif mutakhir yang disepakati bersama, termasuk pengembangan bersama kemampuan asimetris yang canggih, pelopor teknologi pertahanan generasi berikutnya di bidang maritim, bawah laut, dan sistem otonom, serta kerja sama dalam dukungan pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul guna meningkatkan kesiapan operasional.

Sebagai simbol peningkatan kemitraan ini, kedua pemimpin juga berkomitmen untuk meningkatkan pelatihan bersama pasukan khusus. Kegiatan ini diklaim akan memajukan kepentingan keamanan bersama dan memperkuat hubungan yang lebih tangguh antara personel militer Amerika dan Indonesia melalui perluasan kesempatan dalam pendidikan militer profesional unggulan serta pembentukan jejaring alumni pertahanan.

Tag:Amerika SerikatDonald TrumpEditorialmenteri pertahananMenteri Urusan Perang ASPete HegsethPolitik Luar NegeriPrabowo SubiantoPresidenRusiaSjafrie SjamsoeddinSpillVladimir Putin
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Follow:
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id, ia dikenal lewat reportase mendalam soal bisnis, pertambangan, dan dampak kebijakan energi terhadap masyarakat.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Mulai 1 September Harga BBM Pertamina Naik: Dexlite Tembus Rp23.700 per Liter
By Natania Longdong
Pengendara sepeda motor melintas usai mengisi bahan bakar minyak (BBM) Pertamax 92 di SPBU MT Haryono, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (4/8/2026).
1
Viral Warga Bogor Segel Alfamart Minta Bangunan Dialihfungsikan Jadi Kopdes Merah Putih, Netizen: Emang Bakal Laku?
By Ani Ratnasari
Alfamart di Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor
2
Usai Mundur Perry Warjiyo Akhirnya Angkat Suara, Ucapkan Ini ke Destry Damayanti
By Anisa Aulia
Eks Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
3
Isu Reshuffle Menguat Jelang Dua Tahun Pemerintahan, Prabowo Layak Evaluasi Menteri
By Rahmat Tunny
Presiden Prabowo Subianto (tengah) berjalan di ruangan untuk memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara
4
Setelah 20 Tahun, Lionel Messi Akhirnya Pensiun dari Timnas Argentina
By Hadi Febriansyah
Lionel Messi kenag sulitnya lawan Swiss di Piala Dunia 2014
5

BERITA LAINNYA

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad (tengah).
Politik

DPR soal 8 WNI Jadi Tentara Rusia: Diiming-imingi Gaji Besar Lewat Lowongan Kerja

DPR RI mengungkap adanya informasi mengenai sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
6 menit lalu
Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul di DPR.
Politik

Muktamar NU Tuntas, Gus Ipul Bongkar Isu Intervensi Istana hingga Terpilihnya Gus Kikin

Menteri Sosial RI sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU)…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
21 menit lalu
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) berunjuk rasa di depan Gedung MPR/DPR/DPD di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Politik

Aksi 27 Agustus Disebut Bukan Gerakan Biasa, Aktivis: Ada Skenario Mendelegitimasi Prabowo

Aksi demonstrasi 27 Agustus kemarin tidak semata-mata sebagai gerakan spontan masyarakat, tetapi…

Rahmat Tunny OWRITEAmin-Suciady-Owrite
By
Rahmat Tunny
Amin Suciady
27 menit lalu
Ketua DPR RI Puan Maharani (tengah).
Politik

DPR Ketok 16 UU Sepanjang 2025-2026, Ada 64 RUU yang Masih Jadi Pekerjaan Rumah

DPR RI mengesahkan 16 Rancangan Undang-Undang (RUU) menjadi Undang-Undang sepanjang Tahun Sidang…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
1 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up