Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Rupiah Melemah, Faizal Assegaf Sebut Ada Dugaan Skenario Gulingkan Prabowo Seperti 1998

Ia menganggap gejolak ekonomi tidak selalu berdiri sendiri, melainkan bisa menjadi instrumen untuk menekan pemerintahan dan membentuk opini publik.

Presiden Prabowo Subianto menyapa warga saat peresmian Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) di Nglawak, Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Presiden Prabowo Subianto meresmikan sedikitnya 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) yang siap beroperasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan tujuan sebagai penggerak ekonomi desa dan memperluas akses masyarakat terhadap sembako murah.
Presiden Prabowo Subianto menyapa warga saat peresmian Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) di Nglawak, Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Presiden Prabowo Subianto meresmikan sedikitnya 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) yang siap beroperasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan tujuan sebagai penggerak ekonomi desa dan memperluas akses masyarakat terhadap sembako murah. (ANTARA FOTO/Muhammad Mada/bar)

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus memantik perdebatan politik. Di tengah kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi, kritikus politik Faizal Assegaf melontarkan tudingan keras.

Faizal menyoroti pelemahan rupiah bukan semata persoalan pasar. Tapi, menurut dia, ada dimensi politik yang lebih besar.

Menurut Faizal, tekanan terhadap dolar dan rupiah dapat dibaca sebagai pesan politik dari kelompok oligarki yang disebutnya tidak menginginkan Presiden Prabowo Subianto tetap kuat di tampuk kekuasaan.

Iklan

Anggap itu tekanan dolar yang dipakai oleh oligarki adalah pesan kuat, dari kepentingan segelintir para rakus keuangan nasional ini yang ingin menggulingkan Presiden Prabowo,”

kata Faizal dalam podcast yang diunggah di akun X pribadinya yang dikutip, Senin, 8 Juni 2026.

Aktivis 98 itu menilai, setiap kenaikan dolar yang terus berlanjut bisa dimaknai sebagai bentuk tekanan terhadap pemerintahan yang sedang berjalan. 

Dalam pandangannya, ada kepentingan kelompok tertentu yang memanfaatkan gejolak ekonomi untuk membangun persepsi negatif terhadap Presiden.

Jadi, kalau dolar semakin naik, itu artinya oligarki mengirim pesan kepada rakyat. Kami mau menggulingkan Presiden Prabowo,”

tutur Faizal.

Faizal kemudian mengaitkan situasi saat ini dengan pengalaman politik Indonesia menjelang tumbangnya Presiden Soeharto pada 1998. 

Dikatakan Faizal, tekanan ekonomi sering kali menjadi pintu masuk bagi perubahan politik yang lebih besar.

Secara politik, ya. Kenapa? Karena pada 1998, Soeharto dilakukan seperti itu. Soeharto diperlakukan seperti itu,”

jelasnya.

Ia menganggap gejolak ekonomi tidak selalu berdiri sendiri, melainkan bisa menjadi instrumen untuk menekan pemerintahan dan membentuk opini publik.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.