Hubungan politik Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo dinilai mulai memasuki fase yang tidak lagi harmonis.
Setelah Jokowi disebut tidak diundang dalam Upacara Hari Lahir Pancasila, kini mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana yang dikenal sebagai sosok yang dekat dengan Jokowi justru terseret kasus hukum hingga berakhir di tahanan.
Analis politik Saiful Huda Ems, menilai penahanan Dadan bukan sekadar persoalan hukum biasa. Menurutnya, kasus dugaan jual beli titik dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebenarnya telah lama menjadi perbincangan publik.
Informasi soal jual beli Dapur MBG sudah berseliweran selama beberapa bulan ini, dan ini mengakibatkan program MBG berjalan tidak semestinya,”
kata Saiful yang dikutip dari pres rilisnya, Kamis, 4 Juni 2026.
Ia menilai, Presiden Prabowo berada dalam posisi sulit ketika kasus tersebut mencuat. Di satu sisi, Dadan merupakan pejabat yang dilantik pada akhir masa pemerintahan Jokowi, dan dikenal sebagai salah satu figur kepercayaan mantan presiden itu.
Presiden Prabowo pun terpaksa harus memilih, mau mempertahankan Dadan yang di belakangnya ada Jokowi, ataukah ‘menghabisi’ karier Dadan, yang berarti akan segera pecah kongsi dengan Jokowi,”
ujarnya.
Manuver Politik Jokowi untuk PSI dan Gibran
Aktivis 98 itu juga menyoroti manuver politik Jokowi, yang disebut akan mulai berkeliling daerah untuk memperkuat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kini dipimpin putranya, Kaesang Pangarep.
Jokowi sudah mau mulai keliling daerah untuk kampanye membesarkan PSI diketuai oleh anak bungsunya sendiri, Kaesang Pangarep. Namun di balik agenda itu, sebenarnya ada agenda tersembunyi yang tak pernah diungkapkannya ke publik,”
jelasnya.
Ia bahkan mengaitkan langkah politik Jokowi dengan skenario kontestasi Pilpres 2029, dimana ada agenda untuk menyiapkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi Capres.
Jokowi mau mempromosikan anaknya, Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi Capres 2029 dan bila perlu menjadi Presiden sebelum 2029, yang berarti Jokowi ingin menggulingkan Presiden Prabowo Subianto sebelum berakhir masa jabatannya di periode yang pertama ini,”
jelas Saiful.
Menurutnya, dinamika tersebut berpotensi menciptakan ketegangan politik baru di lingkaran kekuasaan.
Kenyataan itu tentu sangat menyinggung hati Presiden Prabowo Subianto, dahulu sudah banyak menyupport dana besar ke Jokowi, kok sekarang setelah Prabowo menjadi presiden malah mau digeser oleh anaknya Jokowi,”
ungkapnya.
Saiful menambahkan, penyingkiran Dadan dapat dibaca sebagai bagian dari proses berkurangnya pengaruh kelompok loyalis Jokowi di dalam pemerintahan saat ini.
Maka, tanpa pikir panjang lagi Presiden Prabowo mulai ‘menghabisi’ satu persatu para loyalis Jokowi yang duduk bertengger di kekuasaannya,”
akuinya.
Karena itu, ia melihat hubungan Prabowo dan Jokowi ke depan berpotensi semakin dingin, terutama jika dinamika menuju Pilpres 2029 semakin mengeras.
Jadi, mari kita tunggu saja kelanjutan peran dingin akibat dari pecah kongsinya Prabowo dan Jokowi ini,”
pungkasnya.


