Memasuki hampir dua tahun masa kepemimpinannya, elektabilitas dan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto terjun bebas.
Dari temuan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada 29 Juli 2026, elektabilitas Prabowo mengalami penurunan. Bahkan, dalam simulasi semi terbuka yang melibatkan 20 nama calon presiden, nama Prabowo berada di bawah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi memperoleh dukungan sebesar 35 persen. Sementara, Prabowo hanya meraih 14,5 persen.
Di bawah keduanya, ada Anies Baswedan dengan 8,2 persen, Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, dan Mahfud MD 4 persen.
Selain itu, menurut temuan SMRC, ada 12,8 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak menjawab. Survei SMRC dilakukan terhadap 749 responden berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah.
Sebanyak 605 responden diwawancarai melalui telepon. Sementara, 144 responden diwawancarai secara tatap muka. Survei SMRC memakai margin of error sekitar ±3,7 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.


Terjun Dibandingkan Maret 2026
Temuan ini berbeda dengan hasil survei Poltracking Indonesia yang dilakukan pada pertengahan Maret 2026. Dalam survei itu, Prabowo masih jadi tokoh dengan elektabilitas tertinggi.
Pada simulasi top of mind atau penyebutan nama secara spontan versi Poltracking, Prabowo memperoleh dukungan 32,9 persen. Posisi berikutnya ada Dedi Mulyadi dengan 13,5 persen, Anies Baswedan 9,2 persen, Gibran Rakabuming Raka 4,2 persen, Ganjar Pranowo 2,6 persen dan 28,8 persen responden mengaku belum menentukan pilihan.
Selain elektabilitas, SMRC juga mencatat adanya penurunan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo.
Data survei SMRC pada November 2025, sebanyak 81,2 persen responden mengaku sangat puas atau cukup puas terhadap kinerja Prabowo. Namun, pada Februari-Maret 2025 angka itu turun menjadi 66,4 persen.
Lalu, pada Juli 2026, angka kepuasan publik kembali turun hingga tercatat hanya 51,1 persen atau turun sekitar 30 poin persentase dibandingkan November 2025.
Tak hanya itu, temuan SMRC juga merilis tingkat ketidakpuasan masyarakat terhadap Prabowo yang meningkat tajam. Jika pada November 2025 hanya 16 persen responden yang menyatakan kurang atau tidak puas, maka pada Juli 2026 angkanya naik menjadi 46,9 persen.
Jika dibandingkan dua presiden sebelum Prabowo pada periode yang hampir sama, hasil survei yang dialami Ketua Umum Partai Gerindra itu tampak berbeda.
Beda dengan Jokowi-SBY
Dari data hasil survei yang dilakukan terhadap Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), memperlihatkan dukungan publik terhadap keduanya justru cenderung meningkat. Baik SBY dan Jokowi tetap berada di level yang sama pada tahun-tahun awal masa pemerintahan mereka.
Salah satunya temuan survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada Agustus 2017 yang merilis elektabilitas Jokowi justru mengalami kenaikan secara konsisten sejak awal masa pemerintahannya.
Elektabilitas Jokowi pada 2015 tercatat sebesar 36,1 persen pada 2015. Lalu, di tahun 2016 mengalami peningkatan menjadi 41,9 persen. Pun, pada 2017 mencapai 50,9 persen atau sekitar tiga tahun setelah menjabat sebagai presiden.
Selain itu, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi mengalami kenaikan dari 50,6 persen di tahun pertama menjadi 66,5 persen pada tahun kedua.
Sementara, Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga sempat mengalami naik-turun tingkat popularitas pada awal masa pemerintahannya.
Berdasarkan riset Lembaga Survei Indonesia (LSI), popularitas SBY pada Juli 2004 tercatat mencapai 40 persen. Lalu, naik menjadi 52,4 persen pada Oktober 2005, dan kemudian kembali ke angka 40 persen pada Mei 2006.
Meski demikian, tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan SBY relatif tetap tinggi. Pada September 2005, angkanya mencapai 63 persen, sempat turun menjadi 55 persen pada awal 2006. Lalu, kembali meningkat menjadi 67 persen pada Oktober 2006.
Data tersebut menunjukkan bahwa fluktuasi dukungan politik terhadap seorang presiden bukanlah hal baru. Namun, jika dibandingkan dengan Jokowi maupun SBY pada awal masa pemerintahannya, Prabowo saat ini menghadapi tantangan berupa penurunan elektabilitas sekaligus penurunan tingkat kepuasan publik dalam waktu yang relatif singkat.

























