Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Feri Amsari Kritik Anggaran MBG Rp1,2 Triliun Sehari: Kenapa Tak Dialihkan Dulu untuk Bencana?

Feri kemudian menghitung potensi anggaran yang dapat dihimpun jika program tersebut dihentikan sementara selama sekitar dua pekan.

Sejumlah pengungsi beraktivitas di area pengungsian SMK Muhammadiyah Manggarai Timur, Pota, Sambi Rampas, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur
Sejumlah pengungsi beraktivitas di area pengungsian SMK Muhammadiyah Manggarai Timur, Pota, Sambi Rampas, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/kye)

Pemerintah didorong mengalihkan sementara anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memperkuat penanganan bencana di sejumlah daerah. 

Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari menilai besarnya anggaran MBG dapat menjadi sumber pembiayaan untuk membantu masyarakat terdampak yang tengah menghadapi kondisi darurat akibat bencana.

Saya tidak mengerti kenapa negara tidak menghentikan MBG sementara untuk bencana ini. Lalu, seluruh biaya itu dialihkan kepada penanggulangan bencana, agar ada rasa empati yang maksimal dalam kehidupan bernegara,”

kata Feri kepada Owrite, Selasa, 8 September 2026.

Menurutnya, anggaran MBG yang disebut mencapai sekitar Rp1,2 triliun per hari bukanlah jumlah kecil. Dalam kondisi bencana, dana sebesar itu dinilai bisa memberikan dukungan signifikan apabila untuk sementara dialihkan ke kebutuhan penanganan dan pemulihan masyarakat terdampak.

Iklan

Feri kemudian menghitung potensi anggaran yang bisa dihimpun jika program tersebut dihentikan sementara selama sekitar dua pekan.

Bayangkan Rp1,2 triliun per hari itu dialihkan sekitar dua minggu. Kita bisa merasakan puluhan triliun rupiah bisa membantu warga yang terdampak bencana,”

ucapnya.

Lebih lanjut, ia menilai pengalihan sementara tersebut bukan semata persoalan anggaran. Namun, juga bisa jadi bentuk keberpihakan negara kepada masyarakat yang sedang berada dalam situasi darurat.

Feri menekankan, saat bencana terjadi, pemerintah perlu menunjukkan empati secara maksimal. 

Dia menilai negara tak seharusnya membiarkan masyarakat terdampak bertumpu pada solidaritas masyarakat atau kelompok sipil untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Jadi, tidak berharap lagi negara rasa empati publik. Lalu, publik sumbang dan bekerja untuk kebutuhan saudara-saudaranya yang berada di tempat bencana,”

jelas akademisi Universitas Andalas itu.

Karena itu, Feri mendorong pemerintah mempertimbangkan kembali prioritas penggunaan anggaran di tengah situasi bencana. 

Bagi dia, penghentian sementara program MBG dan pengalihan dananya untuk penanggulangan bencana bisa jadi bentuk konkret kehadiran serta empati negara kepada masyarakat yang sedang membutuhkan pertolongan.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.