Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Kritik Nusron, Pengamat: Kalau Tak Mengetahui Kasus Orang Kepercayaannya, Berarti Kapasitasnya Buruk

Kapasitas kepemimpinan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dipertanyakan setelah ngaku tak tahu perkara yang menyeret sejumlah orang kepercayaannya.

Menteri ATR BPN, Nusron Wahid, saat menyampaikan keterangan pencabutan HGU SGC Group di Lampung yang berdiri di atas lahan milik TNI AU
Menteri ATR BPN, Nusron Wahid, saat menyampaikan keterangan pencabutan HGU SGC Group di Lampung yang berdiri di atas lahan milik TNI AU. (Foto: owrite/Rahmat)

Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza mempertanyakan kapasitas kepemimpinan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid setelah mengaku tak mengetahui perkara yang menyeret sejumlah orang kepercayaannya.

Menurut Efriza, pernyataan Nusron itu justru memunculkan persoalan baru. Sebab, orang-orang yang disebut terlibat merupakan pihak yang berada dalam lingkaran kepercayaan Nusron.

Ketika ia menyatakan bahwa ia tidak mengetahui kasus itu tapi mau melakukan evaluasi. Sementara itu, orang kepercayaannya, itu berarti kapasitasnya buruk. Tidak punya kapasitas atau manajerial kepemimpinannya,”

kata Efriza kepada Owrite, Rabu, 23 September 2026.

Efriza menilai seorang pimpinan kementerian semestinya mengetahui dan mampu mengawasi kerja orang-orang yang berada di bawah kewenangannya. Terlebih, persoalan yang muncul berkaitan dengan institusi yang dipimpinnya.

Iklan

Menurut dia, jika bawahan bisa melakukan persoalan serius tanpa diketahui pimpinan, ada dua kemungkinan yang perlu dilihat. Pertama, pengawasan di internal kementerian tidak berjalan. Kedua, terdapat persoalan dalam kapasitas manajerial pimpinan.

Efriza juga menilai persoalannya jadi lebih serius apabila Nusron sebenarnya mengetahui siapa saja orang yang bekerja dekat dengannya. Namun, tetap menyatakan ia tak terlibat dalam perkara tersebut.

Kalau dia mengetahui orang kepercayaannya tapi menyatakan tidak terlibat, ia lebih buruk lagi,”

ujarnya.

Karena itu, Efriza menilai kasus itu tak cukup dilihat hanya dari ada atau tidaknya keterlibatan langsung Nusron dalam perkara yang sedang ditangani aparat penegak hukum.

Menurut dia, posisi Nusron sebagai Menteri ATR/BPN membuat aspek kepemimpinan dan pengawasan internal ikut jadi sorotan. Apalagi kementerian tersebut memiliki tanggung jawab besar dalam urusan pertanahan dan pelayanan kepada masyarakat.

Efriza mengatakan persoalan tersebut pada akhirnya menyangkut kepercayaan publik terhadap kementerian. Jika pimpinan tidak mengetahui persoalan yang dilakukan orang-orang kepercayaannya, publik berhak mempertanyakan bagaimana sistem pengawasan di kementerian berjalan.

Ia juga mengingatkan jabatan publik tak hanya berkaitan dengan persoalan hukum. Namun, juga etika dalam menjalankan amanah pemerintahan.

Efriza merujuk TAP MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Menurutnya, pejabat yang merasa sudah tak mampu menjalankan tugas secara maksimal semestinya mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.

Jika seseorang sudah tidak lagi kapasitasnya baik, tidak bekerja dengan maksimal, intinya dia adalah mengundurkan diri,”

kata Efriza.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.