Justru ini menjadi pengingat bagi seluruh kader agar terus bekerja, hadir di tengah masyarakat, mendengarkan aspirasi rakyat, serta memastikan setiap kebijakan dan perjuangan politik benar-benar memberikan manfaat,”
ujarnya.
Sugiat mengakui perubahan dinamika politik dan persepsi publik bisa memengaruhi tingkat elektabilitas Gerindra. Namun, ia menyadari bahwa posisi elektabilitas partai tak bersifat permanen.
Karena itu, yang paling penting bagi Gerindra adalah terus menjaga kepercayaan tersebut melalui konsistensi dalam bekerja dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara,”
jelasnya.
Karena itu, Gerindra memilih menempatkan hasil survei sebagai cerminan kepercayaan masyarakat, bukan sebagai ukuran akhir kekuatan politik. Sugiat menegaskan kepercayaan tersebut harus dipertahankan melalui konsistensi kerja kader.
Survei adalah potret pada satu momentum. Sementara bagi kami, kepercayaan rakyat adalah amanah yang harus dijaga setiap hari,”
tutur Sugiat.
Di sisi lain, Gerindra juga menyatakan tetap menghormati partai politik lain yang menjadi kompetitor dalam kontestasi elektoral. Sugiat berharap persaingan antarpartai berlangsung dalam koridor demokrasi.
Persaingan elektoral hendaknya tetap ditempatkan dalam semangat membangun demokrasi yang sehat, dewasa, dan berorientasi pada kepentingan rakyat,”
katanya.
Adapun dari hasil survei Poltracking menempatkan Gerindra di posisi teratas dengan elektabilitas 23,2 persen. Angka itu membuat Gerindra berada di atas sejumlah partai yang juga menjadi bagian dari pemerintahan saat ini.
Partai Gerindra dengan elektabilitas 23,2 persen, masih unggul dibanding partai-partai lainnya yang mendukung pemerintahan saat ini,”
kata peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro dalam konferensi pers secara virtual, Rabu, 23 September 2026.