Presiden Prabowo Subianto mengklaim pemulihan di Aceh pasca banjir bandang telah berjalan hampir 100 persen. Namun, klaim Prabowo itu dikritik Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI).

Temuan BEM UI ke sejumlah wilayah terdampak banjir di Aceh pada Mei-Juni 2026 menunjukkan realita yang berbeda. Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan mengatakan timnya masih menemukan persoalan yang masih dirasakan warga Aceh terutama terkait akses air bersih dan infrastruktur penghubung.

Bahkan ada RSUD di Aceh, bahkan masih kekurangan air bersih. Jadi, mereka meminta bantuan kepada kami untuk membangun sumur air bor,”

kata Athof, dalam keterangannya, Rabu, 30 September 2026.

Kondisi tersebut kemudian mendorong BEM UI melakukan penggalangan dana untuk membantu pembangunan sumur bor.

Temuan di lokasi tersebut kemudian membuat Athof mempertanyakan klaim pemulihan yang disampaikan pemerintah. Menurutnya, klaim pemulihan hampir 100 persen perlu dilihat Kembali. Apalagi masih ada sejumlah wilayah terdampak yang masih kesulitan untuk mengakses air bersih.

Jadi, dari mana klaim. Itu kan sama-sama pemerintah kan? Jadi pemerintah mengklaim bahwa sudah 100 persen pulih. Tapi, sisi lain ada RSUD yang masih butuh akses air bersih, sumur bor,”

ujarnya.

Sebelumnya, Prabowo menyampaikan klaim tersebut setelah melaksanakan salat Idulfitri bersama masyarakat di Masjid Darussalam, kawasan hunian sementara Kabupaten Aceh Tamiang. Saat itu, Prabowo mengatakan hampir seluruh warga telah keluar dari tenda dan berpindah ke hunian sementara maupun hunian tetap.

Di tenda sudah gak ada lagi, 100 persen. Semua sudah keluar dari tenda masuk ke hunian-hunian sementara ataupun hunian tetap sudah mulai,”

ujar Prabowo dikutip dari laman Presidenri, Rabu, 30 September 2026.

Prabowo juga menyebut listrik di Aceh sudah pulih hampir 100 persen. Pun, bantuan pemerintah sudah disalurkan kepada masyarakat terdampak.

Sementara itu, Athof minta pemerintah tak hanya mengandalkan laporan dari jajaran di bawahnya ketika mengevaluasi kondisi pascabencana. Menurutnya, kondisi aktual di wilayah terdampak perlu jadi pertimbangan dalam melihat sejauh mana proses pemulihan telah berjalan.

Jangan mau ditipu oleh bawahan,”

kata Athof.