Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Dua Tahun Prabowo Memimpin, Hasil Diplomasi Luar Negeri Dipertanyakan Ahli dan Masyarakat

Langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto yang sering ke luar negeri dinilai belum memiliki manfaat nyata selama dua tahun pemerintahannya.

Presiden RI Prabowo Subianto menyambut Perdana Menteri India Narendra Modi, Senin, 6 Juli 2026.
Presiden RI Prabowo Subianto menyambut Perdana Menteri India Narendra Modi, Senin, 6 Juli 2026. (BPMI Setpres)

Diplomasi Presiden Prabowo Subianto yang sering ke luar negeri dinilai belum memiliki manfaat nyata selama dua tahun pemerintahannya.

Demikian terungkap dalam survei Rapor Kinerja 2 Tahun Prabowo-Gibran yang dilakukan Tim Kabinet Bayangan dan Center of Economic and Law Studies (Celios).

Berdasarkan survei yang melibatkan 129 ahli, 66 persen di antaranya mengaku belum ada manfaat terverifikasi dari diplomasi dan kunjungan luar negeri Presiden Prabowo. Kemudian, 17 persen ahli menilai sangat terbatas dan 11 persen menyebut terbatas.

Iklan

Meski demikian, ada tiga responden yang menjawab manfaat diplomasi dan kunjungan luar negeri itu berdampak cukup besar. Adapun satu persen responden mengaku sangat besar.

Padahal, seharusnya, kegiatan diplomasi dan kunjungan ke luar negeri itu diharapkan bisa bawa manfaat dalam tata kelola pemerintahan. Manfaat itu baik dari arah kebijakan ekonomi hingga kepentingan jangka panjang lainnya.

Selain itu, kunjungan kenegaraan dan pertemuan bilateral mestinya jadi momentum pemerintah dalam perkuat hubungan antarnegara hingga mampu membuka peluan investasi.

Selain dari ahli, masyarakat responden turut pertanyakan hasil kunjungan kenegaraan dan pertemuan antar pimpinan negara. Sebab, dari 1.142 responden masyrakat yang terlibat, 63 persen menyatakan kegiatan kenegaraan itu tidak memberikan hasil nyata

Hanya 21 persen responden yang mengaku kunjungan Prabowo sudah dirasakannya. Sementara, 16 persen sisanya mengaku tidak tahu.

Dari laporan Celios dan Kabinet Bayangan memperlihatkan adanya ‘jarak’ antara aktivitas diplomasi pemerintah serta persepsi masyarakat mengenai hasil dari kegiatan ke luar negeri tersebut.

Secara keseluruhan, responden lebih banyak melihat beban dan risiko daripada manfaat dari berbagi kebijakan yang dinilai,”

demikian dikutip dari laporan Kabinet Bayangan dan Celios, Senin, 12 Oktober 2026.

Pandangan mayoritas responden itu bisa jadi cermin adanya kekhawatiran terhadap arah tata kelola, dampak kebijakan terhadap ekonomi daerah. Selain itu, kekhawatiran beban fiskal masyarakat, serta manfaat kebijakan bagi kepentingan jangka panjang.

Survei Kabinet Bayangan dan Celios dilakukan dengan mengumpulkan data sejak 15 September – 9 Oktober 2026. Total ada 1.142 responden yang terdiri dari masyarakat umum dan kalangan ahli.

Pengumpulan data masyarakat umum menggunakan metode non-probability sampling melalui Meta Ads. Kemudian, diperkuat dengan pembobotan (weighting) untuk menyesuaikan komposisi sampel dengan karakteristik populasi acuan.

Sementara, responden ahli yang dilibatkan menggunakan metode snowball sampling. Metode itu dengan minta responden awal yang memenuhi kriteria untuk merekomendasikan ahli lain yang relevan dengan topik penelitian.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Reporter OWRITE berfokus pada peliputan isu hukum, kriminal, dan nasional. Setelah resmi menyandang Sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.