Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Survei Ungkap Sinyal Bahaya untuk Prabowo, Mayoritas Responden Kapok Pilih Lagi di 2029

Dari temuan survei, sebagian masyarakat yang responden kapok untuk pilih Prabowo jika maju di pilpres 2029.

Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka
Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka/Doc. Owrite/Acel
Ringkasan beritaCek poin
  1. Pemerintahan Prabowo-Gibran dapar rapor merah karena tak bisa atasi pengangguran.
  2. 67 persen responden stres dengan perilaku Prabowo.

Tim Kabinet Bayangan dan Center of Economic and Law Studies (Celios) merilis survei hasil rapor 2 tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Gibran Rakabuming Raka. Dari temuan survei, sebagian masyarakat kapok pilih Prabowo jika maju di Pilpres 2029.

Survei dilakukan terhadap 1.142 responden masyarakat yang punya hak pilih saat Pilpres 2024. Responden ditanya terkait kemungkinan kembali memilih Prabowo sebagai calon presiden di 2029.

Dalam rapor yang disusun tim kabinet bayangan dan Celios, sebanyak 47 persen mengaku memilih Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2024. Sementara, dari survei, figur lain yang berpotensi maju di Pilpres 2029 seperti Anies Baswedan mendapat 34 persen dan Ganjar Pranowo 19 persen.

Iklan

Namun, dalam indikator akan memilih Prabowo kembali saat Pilpres 2029, mayoritas responden pemilih di 2024 masyarakat menyatakan kapok. Responden mengaku tak akan memilih Prabowo jika maju dalam kontestasi Pilpres 2029.

Responden yang memilih Prabowo di 2024, menyatakan kecewa dan tak akan memilih lagi di pemilu selanjutnya,”

demikian dikutip dari laporan survei, pada Senin, 12 Oktober 2026.

Sementara, 27 persen responden mengaku masih ingin memilih Ketua Umum Partai Gerindra itu. Lalu, 19 persen responden menyatakan tidak tahu.

Artinya, lebih dari separuh responden yang sebelumnya memilih Prabowo menyatakan tidak akan kembali memberikan suaranya kepada Prabowo pada Pilpres mendatang,”

tulis keterangan dalam survei itu.

Survei masyrakat yang menyatakan tidak ingin lagi memilih Prabowo dalam pilpres selanjutnya diperkuat dengan berbagai rapor merah dalam kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran.

Salah satunya persepsi masyarakat terhadap pajak dan pungutan yang diberlakukan pemerintah. Dominan ada 82 persen responden mengaku terbebani akibat hal tersebut.

Hal itu kemudian diperparah dengan pemerintahan mendapat mendapat rapor merah karena tidak mempu mengatasi angka pengangguran dan membuka lapangan kerja.

Sebanyak 24 persen responden merasa kinerja pemerintah sangat buruk dalam mengentaskan permasalahan pengangguran. Kemudian, 38 persen menilai buruk akan hal tersebut.

Sementara itu, 67 persen responden mengaku stres dengan perilaku Presiden Prabowo Subianto selama dua tahun menjabat. Temuan lain survei itu yakni 75 persen menyatakan kena serangan mental imbas kebijakan pemerintahan yang dipimpin Prabowo.

Tidak hanya itu, 38 persen juga menyatakan mengalami gangguan mental dan fisik. Lalu, 23 persen lainnya mengaku kondisinya tidak baik sama sekali.

Studi ini menerapkan pendekatan survei yang dirancang secara terpisah untuk masyarakat umum dan kelompok ahli. Pun, metode pengambilan sampel turut disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kelompok.

Untuk pengumpulan data dilakukan sejak 15 September hingga 9 Oktober 2026. Survei masyarakat umum menggunakan pendekatan nonprobability sampling melalui Meta Ads. Data itu kemudian dilengkapi dengan pembobotan (weighting) untuk menyesuaikan komposisi sampel dengan karakteristik populasi yang jadi acuan.

Sementara, survei ahli menerapkan snowball sampling untuk menjangkau responden dengan keahlian dan pengalaman yang relevan.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Reporter OWRITE berfokus pada peliputan isu hukum, kriminal, dan nasional. Setelah resmi menyandang Sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.