Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Prabowo Diminta Buka Pintu untuk Megawati, Ada Apa dengan Kekuatan Politiknya?

Presiden Prabowo Subianto masih perlu membangun kekuatan politik yang lebih solid dan mandiri. Perlu merangkul Megawati?

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan keterangan pers usai pertemuan bilateral dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (11/10/2026).
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan keterangan pers usai pertemuan bilateral dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (11/10/2026). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/bar)

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago menilai Presiden Prabowo Subianto masih perlu membangun kekuatan politik yang lebih solid dan mandiri. Meskipun Prabowo dinilai sudah dapat ‘dukungan’ dari Presiden ke-7 Joko Widodo dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dalam kalkulasi politik pemerintahan, Arifki menyoroti kemungkinan membuka ruang dukungan bagi Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri atau faksi yang kalah dalam Pilpres 2024.

Dukungan Presiden ke-7 Joko Widodo dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono memang menopang pemerintahan. Tetapi, tidak menghapus kebutuhan Prabowo untuk membangun kekuatan politik yang lebih solid dan mandiri dengan membuka ruang dukungan Megawati atau faksi yang kalah di Pilpres 2024,”

kata Arifki kepada Owrite, Senin, 19 Oktober 2026.

Menurut Arifki, keberlanjutan pemerintahan tak hanya berkaitan dengan kelanjutan program. Namun, juga kemampuan menjaga hubungan dengan kekuatan politik yang berperan pada periode sebelumnya.

Iklan

Hubungan tersebut dinilai penting untuk jaga stabilitas dan memastikan agenda pemerintahan dapat berjalan.

Prabowo membawa agenda keberlanjutan. Namun dalam praktik politik, keberlanjutan juga berarti merawat hubungan dengan kekuatan-kekuatan yang berperan pada periode sebelumnya,”

ujar Arifki.

Dijelaskan Arifki, akomodasi politik bisa jadi salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas pemerintahan.

Namun, semakin luas koalisi yang dibangun, semakin besar pula tantangan dalam menyelaraskan kepentingan berbagai kelompok yang memiliki agenda berbeda.

Akomodasi adalah instrumen menjaga stabilitas. Namun, semakin gemuk koalisi yang dibangun, semakin besar pula tantangan untuk menyelaraskan kepentingan yang berbeda-beda,”

lanjut Arifki.

Pun, ia mengingatkan, bergabungnya berbagai kekuatan politik dalam satu pemerintahan tak otomatis membuat seluruh pihak memiliki kepentingan dan tujuan yang sama.

Maka itu, kerja sama politik perlu dilihat dari keselarasan agenda dan konsistensi dukungan terhadap kebijakan pemerintah, bukan semata-mata dari luasnya koalisi.

Secara formal, berbagai kekuatan bisa berada dalam satu pemerintahan. Namun, berada dalam satu koalisi tidak otomatis menyatukan seluruh kepentingan,”

jelasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.