Kalau saya ini politisi. Apalagi orang di luar pemerintah, kalau saya ngomong pasti bilang, ‘Oh itu karena oposisi. Jadi, ngomongnya begitu.’ Jadi, biarlah rakyat yang menilai sendiri,”
ujarnya.
Komarudin pun menyinggung persoalan kebakaran hutan yang menurutnya terus berulang setiap tahun. Ia menceritakan pengalamannya saat hendak mendarat di Ambon,. Namun, penerbangannya terkendala asap dari Kalimantan.
Tidak gelisah bagaimana? Saya kemarin ke Ambon tidak bisa mendarat karena asap dari Kalimantan kasih penuh di sana,”
jelas Komarudin.
Menurut Komarudin, kejadian yang berulang semestinya diantisipasi pemerintah. Ia pertanyakan kesiapan negara menghadapi persoalan kebakaran hutan yang terus muncul setiap tahun.
Padahal, itu setiap tahun peristiwa seperti begitu, masa negara tidak punya antisipasi mengatasi hal-hal itu?”
ujarnya.
Ia juga mengkritik penanganan yang menurutnya baru dilakukan setelah persoalan terjadi. Komarudin menyinggung pembuatan sumur bor untuk mengatasi kebakaran. Sementara, kerusakan hutan terus berlangsung.
Sekarang sibuk orang bor, bikin sumur bor. Baru bor selesai, tanah hutan habis,”
kata Komarudin.
Selain persoalan lingkungan, Komarudin mengakui dampak ekonomi juga dirasakan masyarakat. Ia mencontohkan berkurangnya penerbangan sebagai salah satu kondisi yang dinilainya memiliki dampak terhadap aktivitas ekonomi.
Iya pasti, kalau itu semua orang merasakan. Tuh kan penerbangan juga semakin berkurang, itu pasti ada dampaknya,”
ujarnya.
Meski menyinggung sejumlah persoalan, Komarudin tetap menolak beri penilaian langsung terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Ia beralasan kritik dari politisi di luar pemerintahan berisiko dianggap sebagai sikap oposisi semata.
Sekali lagi kalau saya ngomong pasti dibilang, ngomong apa pun pasti kita di luar pemerintahan, ‘Oh ini kan orang di luar, biarlah rakyat sendiri yang menilai,”
kata Komarudin.