Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

44 Ribu Anak Disebut Sudah Menikmati Sekolah Rakyat, Gerindra Ungkap Tujuan Besarnya

Kata Gerindra, anak-anak yang masuk kelompok desil 1 dan 2 kerap kesulitan fokus belajar karena harus membantu orang tua mencari nafkah.

Seorang murid mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses belajar mengajar di SRMP 25 Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (26/5/2026). (Sumber: Antara foto/Andry Denisah/agr)
Seorang murid mengajukan pertanyaan kepada guru saat proses belajar mengajar di SRMP 25 Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (26/5/2026). (Sumber: Antara foto/Andry Denisah/agr)

Wakil Ketua Komisi VI DPR Fraksi Partai Gerindra Andre Rosiade mengungkap alasan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem perlu bersekolah di Sekolah Rakyat.

Menurut dia, anak-anak yang masuk kelompok desil 1 dan 2 kerap kesulitan fokus belajar karena harus membantu orang tua mencari nafkah, bahkan hingga berisiko putus sekolah.

Anggota Dewan Pembina Gerindra itu mengatakan kondisi tersebut ditemukan di lapangan meskipun anak-anak bisa mengakses sekolah reguler secara gratis. Sebab, persoalan yang mereka hadapi bukan hanya biaya pendidikan, melainkan juga tekanan ekonomi keluarga yang membuat mereka harus bekerja sejak usia sekolah.

Iklan

Banyak orang di desil 1 dan 2 ini, rakyat yang miskin ekstrem itu akan kesulitan untuk sekolah di sekolah biasa meskipun sekolah itu gratis,”

kata Andre dalam diskusi bertajuk ‘Mengupas Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Kebijakan yang Berpihak Pada Rakyat, Ekonomi Kuat, Hingga Kemandirian Nasional’ di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.

Dia menjelaskan, sebagian anak dari keluarga miskin ikut memulung, mengemis, hingga berjualan bersama orang tua untuk mendapatkan uang.

Menurut Andre, aktivitas itu membuat pendidikan sulit jadi prioritas ketika keluarga membutuhkan tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kenapa? Karena mereka anak-anak ini ikut memulung ke lapangan, ikut ngemis sama orang tua, ikut berjualan sama orang tuanya untuk mencari uang,”

ujarnya.

Menurut Andre, anak-anak yang tetap bersekolah di sekolah reguler belum tentu bisa berkonsentrasi penuh dalam belajar. Setelah pulang sekolah, mereka bisa kembali menghadapi tuntutan untuk membantu orang tua mencari penghasilan.

Kalau disekolahkan di sekolah biasa, mereka tidak akan berkonsentrasi sekolah karena pulang sekolah mereka akan dalam tanda kutip akan diminta untuk mencari nafkah bersama orang tuanya,”

kata Andre.

Lebih lanjut, dia menuturkan kondisi itu berisiko membuat anak meninggalkan pendidikan karena harus memprioritaskan kebutuhan ekonomi keluarga. Andre menilai persoalan itu membutuhkan intervensi yang tidak sekadar membebaskan biaya sekolah.

Akhirnya banyak yang putus sekolah karena fokusnya mencari nafkah untuk keluarganya,”

ujar Andre.

Dia bilang Presiden Prabowo Subianto memandang pendidikan sebagai salah satu jalan untuk mengubah nasib keluarga miskin. Atas dasar itu, pemerintah membangun Sekolah Rakyat dengan sistem asrama agar anak-anak dari keluarga tak mampu bisa lebih fokus menjalani pendidikan.

Untuk merubah nasib suatu keluarga adalah pendidikan. Nah, untuk itulah dibentuk Sekolah Rakyat di mana masyarakat miskin ini mereka diberikan masuk ke dalam asrama supaya mereka betul-betul fokus dari SD sampai SMA untuk belajar,”

ujar Andre.

Dia menyampaikan siswa Sekolah Rakyat mendapatkan fasilitas pendidikan gratis, termasuk guru dan makanan. Menurut Andre, fasilitas itu disiapkan agar anak-anak dari keluarga miskin bisa menjalani proses belajar tanpa harus terus terbebani tuntutan mencari nafkah untuk membantu orang tua.

Diberikan fasilitas pendidikan terbaik, guru terbaik, gratis, dengan makanan yang terbaik, supaya keluarga-keluarga miskin ini bisa merubah nasib dengan pendidikan,”

tuturnya.

Andre juga menyampaikan klaim bahwa puluhan ribu anak telah mengikuti program tersebut. Dia menyebut sekitar 44.000 anak sudah menikmati pendidikan melalui Sekolah Rakyat, sementara 182 sekolah telah berjalan di berbagai daerah di Indonesia.

Faktanya saat ini sudah 44.000 anak yang menikmati. Dan insyaallah akan terus kita bangun di berbagai kota/kabupaten,”

kata Andre.

Dia menyampaikan pembangunan Sekolah Rakyat mesti dilihat sebagai langkah konkret untuk perluas akses pendidikan bagi kelompok masyarakat miskin. Andre menilai penyelesaian persoalan pendidikan tidak cukup hanya melalui pidato atau pernyataan.

Untuk memperbaiki pendidikan tidak hanya bisa sebatas narasi dan omon-omon, Pak. Tapi harus ada langkah konkret nyata,”

ujarnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.